BUSSUM

Dari tema dan isu yang diangkatnya, Bussum dan Ceritacerita yang Mencandra (2016): kumpulan prosa tak sembarangan. Kesabaran yang cukup kiranya diperlukan saat dirimu ingin membacanya. Saya mengalami langsung bagaimana cerita-cerita di dalamnya membuat kedua alis naik karena membenarkan kehendak ambisius: sejarah itu urusan yang-serba-kesekarangan. Sejak kata pengatar dan prolognya dipasang, buku ini terasa berat. Masa lampau tak ubahnya karpet yang dibentangkan penulisnya. Racikan kehendak tersebut dituangkan ke dalam cerita yang garis besarnya tentang kuasa politik, cekcok ideologi, kebejatan cinta, alienasi manusia, nestapa perempuan, dan potret keluarga. Dalam Bussum, kurang lebih hampir setiap fiksi seolah ditiangi dan bergantung pada sejarah yang rill.

Fenomena maraknya ‘sastra sejarah’ ini terhitung wajar di tengah keadaan kesusastraan Indonesia mutakhir yang disinyalir terjebak kelesuan dan pengulangan, baik tema maupun isu karya. Katakanlah, betapa prosa bertema kegalauan percintaan merajalela pasar kita. Tapi bukan itu sebetulnya kedengkian bersama. Yang disayangkan adalah mengapa sastrawan ‘tidak menggali yang belum digali’. Lihatlah, publik terperangah mengapresiasi tinggi atas apa yang telah diperbuat Iksaka Banu lewat buku Semua untuk Hindia (SHU): menoreh Kusala Khatulistiwa Award pada 2014 kemarin bidang prosa: kesemua ceritanya mengambil latar zaman Hindia Belanda. Atas penggalian Tyo, Bussum senafas dengan SUH untuk menjadi eksepsi yang tak larut ke arus utama prosa remeh yang sibuk dengan perasaan.

Jangan-jangan ‘sastra sejarah’ suatu alternatif dari sedikitnya pilihan menulis. Tak mustahil disebabkan corak prosa kita terlalu puisi, sibuk berindah-solek bahasa yang mengandalkan repetisi suasana melankoli yang itu-itu saja, semacam kegandrungan lirisme, menyerupai puisi. Saya berkhayal Tyo tak ubahnya perespon gairah bebas berprosa pada awal Reformasi; di mana normalisasi segala sendi kehidupan masa Orde Baru telah membuat ingatan lumpuh sehingga sejarah jadi penting hari ini. Misalnya, yaitu ekses pengkajian ulang peristiwa politik seputar 1965 bergaung gemanya sampai ke ranah sastra dan budaya, aktor-aktor lama dituding, lalu berujung ketercengangan masyarakat. Meskipun, celakanya belum 20 tahun Soeharto mangkat, tidak sedikit penulis bikin karya yang gagasannya kurang berlandas-tumpu riset atau kaya akan referensi bermutu.

Kekuatan Bussum, yaitu menjahit teks-teks sejarah tercecer, biasanya sejarah kecil yang tidak resmi, di mana manusia dan peristiwa berkelindan dalam jagad dunianya. Sejumlah cerita Bussum menjelma interteks sejarah yang di akhiran memperluas dirinya, melebarkan spektrum gagasan awal cerita. Sayangnya, sering ada lapisan/patahan narasi yang pembaca tertuntut supaya punya kadar intelektualitas serta ‘melek bacaan’ atas apa yang terkandung pada cerita-ceritanya. Bussum keluar masuk lembar sejarah dengan tergesa-gesa sehingga terkesan berlagak ‘posmo’ (secara praktis mengandaikan pembacanya berpengetahuan sama dengan pengarang), tetapi ‘kiri’ (memiliki kritisisme yang emansipatif). Di balik bentuk ceritanya, Bussum cenderung mendahulukan para tokoh. Karena history itu perihal his.

Perbedaan Tyo dari Iksaka Banu; dengan (bawah) sadar Tyo meyakini jalan sunyi kepenulisan bagian dari perlawanan. Bussum kental heroisme, tipikal jiwa pemuda. Melalui pengantarnya, pembaca ngeh dirinya diarahkan. Karya sastra jadi tidak mengesampingkan asek biografis, meskipun akhirnya mereka silakan maklum: latar belakang kehidupan pengarang memberi pengaruh muatan karyanya. Tidak usah kaget saat memasuki cerita di Bussum, kerap kali bayangan Tyo berseliweran; selaku penyuguh sudut pandang baru atas masa lampau; atau mahasiswa jurusan sejarah sekaligus aktivis literasi, seorang geek yang sinikal. Kata sifat terakhir itulah, saya anggap positif, sebagai suatu resistensi dari keberlupaan. Tyo hendak melawan amnesia, barangkali juga trauma. Pada prosesnya, Tyo milih Pram!

Rasa takzim Tyo kepada Pramoedya Ananta Toer, penulis roman termasyhur Indonesia, tercermin pada dua judul gubahannya: Goen dan Pram (hlm. 26), dan Karena menunggu artinya setia… (hlm. 88). Cerita pertama pernah dimuat Stomata. Waktu itu saya kira sebab kejenakaannya cerpen tersebut dimuat. Pram dan Goen (pen: Goenawan Mohamad) dikisahkan layaknya kakak beradik. Keduanya merupakan teman bermain tokoh utama (aku) cerita. Tyo mendeskripsikan Pram yang ketika imam solat selesai baca Al-Fatihah, bukannya bilang ‘amin’ malah bilang ‘asu’. Sementara itu, Goen jadi bocah petakhilan yang senang di masjid karena merasa bermain di rumah Tuhan. Adapun cerita kedua berupa kenangan seorang istri Pram menanti kepulangan suami dari pembuangan (penahanan politik).

Bagi seorang aktivis, Bussum ibarat pergerakan di ruang kecil, dituding individualistik, tapi jangan sepelekan inisiasinya. Inilah revolusi kamar. Tyo hadirkan Pram, dan sastrawan inspirasi lainnya, yang bersamaan menghadirkan dirinya sendiri, dengan gaya bebas ia terus menulis sejauh ceritanya masih senafas perjuangan membela kemanusiaan. Pada Bussum sejarah mengalami reproduksi, ditafsir ulang. Terkadang sok pintar bernada nyinyir. Namun, itulah jurus pencandra sejarah. Masa lalu punya banyak sudut pandang untuk ditengok. Penyisipan fragmen seperti “Sebab, waktu adalah pedang bermata dua; pilihannya sederhana: dicatat atau dilupakan,” (hlm. 112); dan “Tak peduli betapa para sejarawan yang memeluk teguh doktrin ein malig, sejarah hanya terjadi sekali,” (hlm. 138); menegaskan bahwa Tyo mengamini kehendak yang pertama saya maksud.

Kekurangan Bussum adalah teknik bercerita yang kadang bertumpuk-tindih dengan ketidakwajaran (logika). Cerita Janganjangan hidup hanyalah sebuah kebetulan… (hlm. 47); bagaimana seseorang yang belum saling kenal langsung dengan lawan bicaranya bisa mengetahui alamat narablog orang tersebut? Masih dalam judul yang sama; mengapa tokoh utama kedua harus mengirimkan surat via kotak pos kalau latar cerita mencirikan zaman teknologi super canggih, agar unik dan romantis? Meskipun begitu, setelah membaca Bussum, saya tak berkecil hati Tyo lebih jeli mengatasi batas sampai mana fiksi membahasan fakta dan sebaliknya. Ah, Bussum menegur kita yang suka lupa, yang ternyata pelupa.

(Tulisan untuk peluncuran dan diskusi Bussum, 30 Januari 2016 di Jung Coffee, Rawamangun)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s