DARI KETELADANAN SASTRA DUNIA

Rahasia penulis bukanlah inspirasi–sebab tak jelas betul dari mana datangnya–melainkan kekeraskepalaan, kesabarannya (hlm. 147). Inilah kerja serius, yang dalam pepatah Turki, ibarat “menggali sumur dengan sebuah jarum”.

Menggali Sumur dengan Ujung Jarum adalah sedikit dari pintu masuk ke khasanah sastra dunia. Buku ini memuat memoar refleksi, berbentuk esai atau pun pidato, dan cerita pendek sejumlah penulis sastra dunia. Tia Setiadi, selaku penerjemah, mengantarkan kemudahan bagi penikmat sastra agar kita melek nama-nama hebat yang menulis karya bagus di kancah internasional.

Pada asumsi yang demikian, setiap tulisan dapat memberi kesegaran kajian dan wacana arus utama dalam sastra nasional kita. Untuk itu, sepilihan tulisan dalam Menggali Sumur dengan Ujung Jarum diharapkan memenuhi kebutuhan tertentu untuk pembaca sastra kita. Kebutuhan tersebut adalah untuk melihat lebih dekat ke sastra dunia. Sedikitnya, pelajaran yang bisa diambil adalah keteladan para penulis dunia.

Buku ini memuat tulisan para pesohor di kancah sastra dunia. Misalnya, Jorge Luis Borges, penulis Argentina, yang mengalami suatu peristiwa hebat karier kepengarangannya, yakni kebutaan. Esai “Kebutaan” yang ditulis Borges (hlm. 92) bercerita bagaimana ia menampik kemustahilan dalam berkarya. Ia buta faktanya, namun ketekunan dalam belajar tidak boleh surut. Borges buta tidak mau berhenti menulis. Ia tak menyerah. “Saya tak memperkenankan kebutaan mengintimidasi saya,” (hlm. 103). Dalam kondisi tersebut, ia memutuskan untuk menciptakan dunia yang lain. Karena dunia yang tampak telah hilang. Sebagai dosen, Borges menganjurkan kepada muridnya keutamaan cinta kepada sastra. Ia hindari pengajaran nama-nama dan titimangsa supaya tidak merancukan keinginan belajar muridnya.

Borges menganggap kebutaan tak ubahnya suatu instrumen yang dikaruniakan takdir dan kesempatan untuknya. Borges tercatat sebagai salah satu dari tiga yang menjabat direktur perpustakaan dalam kebutaan di sejarah dunia. Kemustahilan dalam realita merupakan jalan lain atas kemungkinan untuknya supaya terus berkarya. Bagi penulis, usaha ‘terus berkarya’ sangatlah penting.

Orhan Pamuk, penulis Turki, meneruskan hal yang sama melalui kisahnya. Ia selama dua puluh lima tahun mengurung dirinya dalam kamar. Dalam artian, ia fokus. Menulis novel adalah urusan yang serius, katanya. Sebelum ayahnya meninggal, ia diberikan koper. Sebuah koper yang berisikan tumpukan kertas karangan sang ayah. Koper itulah yang secara diam-diam jadi motivasi literernya hingga sekarang ini. Bahkan, saat menulis Pamuk kerap terkenang ayahnya yang pergi meninggalkan Istanbul, menuju Paris.

Dalam catatannya, Pamuk menganjurkan jika seorang penulis mesti mengisahkan ceritanya sendiri–kisahkanlah dengan perlahan-lahan, seolah itu cerita tentang orang lain–jika dia merasa kekuatan cerita bangkit dalam dirinya. Pamuk kecil membayangkan setiap malam sang ayah menulis di ruang apartemen sempitnya. Periode itulah yang membukakan khasanah literatur dunia. Pamuk jadi karib dengan buku-buku sastra berkualitas.

Dari ayahnya, Pamuk membaca Montaigne, pengarang besar Prancis. Bagi Pamuk, yang merasakan budaya Timur ataupun Barat, penulis adalah seorang yang mengurung dirinya di kamar bersama buku-bukunya. Di situlah titik mula sastra sejati. Pamuk muda terinspirasi ayahnya yang memiliki perpustakaan besar yang koleksinya mencapai seribu lima ratus jilid.

Waktu itu, usia Pamuk masih dua puluh tahun dan baginya perpustakaan adalah bukti dunia lain di Istanbul. Laku membaca, laku menulis bagaikan meninggalkan satu dunia lain, dunia yang ajaib dan menakjubkan. Tambahnya lagi, seorang penulis berbicara tentang segala sesuatu yang semua orang tahu namun tak tahu bahwa mereka tahu. Adalah berkat relasi cinta antara sang ayah dan dirinya, Pamuk kini jadi penulis besar.

Lewat pidato penerimaan Nobel Sastra lainnya, Naguib Mahfouz merasa beruntung bahwa seni (dalam hal ini menulis) itu murah hati dan simpatik. Sebagai seorang yang berasal dari Mesir, Mahfouz menunjukkan posisi keteguhannya sebagai penulis dari Dunia Ketiga. Dua peradaban menjadi induknya; peradaban firaun dan peradaban islam –berbeda dengan Pamuk yang antara dunia antara Barat dan Timur. Melalui Pamuk dan Mahfouz, penulis menerabas batas identitasnya.

Dalam konteks itulah, penulis membuat dunia pusat tersendiri lewat karya-karyanya. Bahkan, bagi Mahfouz sastra semestinya mewujudkan cita-cita hidup beradab di dunia. Universalitas cita-cita tersebut dibarengi tanggung jawab atas seluruh umat manusia. Sebab, manusia mengemban kewajiban dengan tingkat apa yang ia peroleh dari pengetahuan, kebijaksanaan, dan peradaban (hlm. 177).

Keteladanan lain juga tersarikan dari pidato Seamus Heaney, penyair Irlandia. Ia bertutur mengenai pengalaman batin yang dialaminya semasa periode konflik agama sekitar 1960-1970an. Kritik pedas ia layangkan atas kekerasan di antara rakyat. Karena baginya, kekerasan tidak menghasilkan apa-apa, kecuali pembalasan belaka. Untuk itu Seamus yakin, puisi menghargai sebuah tangan yang meraih, aktualitas dari simpati dan perlindungan antara makhluk bernyawa (hlm. 204). Puisi menyelamatkan akal budi dan moral manusia.

Dalam Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, kita juga dapat membaca lima cerita pendek dari sejumlah pengarang dunia, antara lain Jorge Luis Borges, Orhan Pamuk, Gabriel Garcia Marquez, dan William Saroyan. Lima cerpen yang disajikan di sini sarat imajinasi dan keotentikan, serta orisinalitas tren bercerita yang belakangan ini sering kita temukan pada sejumlah karya penulis kita. Akhir kata, Menggali Sumur dengan Ujung Jarum mengajak kita untuk turut menjadi bagian dari pembaca sastra dunia.

(Tulisan ini untuk resensi Menggali Sumur dengan Ujung Jarum, terjemahan Tia Setiadi, Diva Press, 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s