DARI STOMATA UNTUK KRITIK SASTRA

“Tidak saya tidak sangka semula dan tidak pula berani saya harapkan karena saya merasa bahwa apa yang telah saya sumbangkan bagi pengembangan pengetahuan tentang kesusastraan Indonesia masih sedikit sekali dan juga karena kesadaran bahwa apa yang telah saya berikan masih  jauh dari apa yang disebut ilmiah….”

(Pidato Penghargaan Doktor Honoris Causa, H.B. Jassin, 14 Juni 1975, di Universitas Indonesia)

 *

Pada mulanya adalah rencana. Tahun 2105 kami di Stomata berkeinginan membuat semacam workshop penulisan kritik sastra di kampus. Gagasan dicetuskan oleh Irsyad Ridho. Waktu itu Januari awal tahun ini, saya bertandang ke rumahnya di Bekasi. Kami membuat keputusan agar realisasinya dijadwalkan pada pertengahan Juli ketika liburan Ramadan. Dengan harapan bercampur rasa prihatin, kami percaya kritik sastra perlu dibudayakan, dimulai dari lingkungan kampus. Dan worshop salah satu pilihan dari sedikit pilihan. Lantas, adakah yang berminat jika Stomata membuat workshop kritik sastra?

Sampai pertanyaan itu belum terjawab: ternyata kenyataan tidak sesuai dengan harapan. Mei dan Juni berlalu, Stomata belum sempat kumpul membuat silabus yang utuh untuk workshop. Kemudian di tengah Juli, kami melalui grup whatsapp Stomata bersepakat mengulur pelaksanaannya agar diwujudkan di pekan terakhir Agustus. Lagi-lagi, kesibukan dan ketidaksiapan bikin semuanya terkendala. Kami padam di tengah gairah yang berkobar. Nyaris putus asa. Tapi, kami senang menyambut informasi perihal akan diadakannya Seminar Politik Kritik Sastra di PKKH Universitas Gadjah Mada pada 23-24 November 2105. Pengumuman acara tersebut berbarengan dengan Call for Paper bagi yang mau mengirim naskah tulisannya. Sepanjang Juli, Agustus dan September rekan-rekan di Stomata bersepakat untuk mulai menulis. Upaya menulis ini kami maksudkan untuk membuktikan kepedulian kami terhadap kritik sastra.

Sambil murung, saya menyayangkan workshop kritik sastra Stomata tidak jadi. Maka Irsyad Ridho mengusulkan: mungkin sebaiknya langsung menulis makalah tentang kritik sastra untuk acara PKKH UGM. Sebab, praktik adalah perwujudan dari ide (yang belum berhasil terwujud). Namun, saya pesimis juga untuk coba menulis. Akhirnya di awal Agustus, saya memutuskan untuk daftar jadi peserta di acara seminar tersebut. Waktu itu, belum ada yang merespon di grup whatsapp Stomata. Mungkin rekan lain memang banyak kegiatan dan lainnya. Saya memaklumi. Tapi, niatan untuk ke Yogyakarta pun buat Stomata. Saya ingin mengambil ilmu yang banyak dari acara semacam itu. Sangat jarang di Indonesia akhir-akhir ini ada sebuah acara besar yang menyoalkan kritik sastra. Secara historis, UGM cukup serius dan punya tradisi intelektual yang baik untuk yang satu ini. Selama dua bulan saya sisihkan uang saku untuk berangkat ke Yogyakarta.

*

Kurang dari sepekan pasca mendaftar seminar, pikiran saya terlintas ide untuk menulis. Saya bertanya kepada panitia apakah sudah ada pemakalah yang mengirim itu membahas Dami N. Toda sebagai kritikus sastra yang penting pada 1970an dalam sastra Indonesia. Panitia menjawab belum. Pelan tapi pasti saya mulai mengumpulkan sumber bacaan, dari koran, majalah, hingga buku yang terbit sezaman kritik sastra 1970an hingga yang terbit belakangan. Mengapa Dami N. Toda? Karena bagi saya Dami berperan penting dalam mengangkat dua tokoh besar sastra, yaitu Iwan Simatupang dan Sutardji Calzoum Bachri. Dua buku Dami Novel Baru Iwan Simatupang (1980) dan HambaHamba Kebudayaan (1984) saya baca lagi. Bolak-balik sampai beberapa halaman jadi copot. Saya juga pinjam banyak buku ke penyair Adri Darmadji Woko.

Selama proses menulis, saya menemukan inti pemikiran Dami N. Toda. Dami adalah kritikus sastra yang sangat mengagungkan estetika: Dami tak berjarak dan berada di pusat kesenian saat itu, Taman Ismail Marzuki. Maka dari itu, saya semakin meruncingkan pada subtema yang panitia sediakan, yaitu Kritik Sastra Bertendens dan Estetisme. Lantas bagaimana dengan bertendensnya? Ini bagian yang lama saya renungkan. Akhirnya, setelah membaca dengan cepat dan intens bukubuku yang dipinjamkan, saya berkesimpulan bahwa tendensi politik Dami N. Toda sebagai kritikus sastra adalah apolitis di hadapan penguasa Orde Baru. Saya pertimbangkan demikian sebab pada masanya ia menjadi juru bicara Angkatan 70, yaitu angkatan sastra yang tidak lahir berbarengan keruntuhan rezim politik.

Bagi Dami, Angkatan 70 tak bersifat periodis, tapi pembaharu estetika. Tendensi mengagungkan estetik pun dihalalkan Orde Baru karena sepanjang tidak subversif ya tidak apaapa. Dengan kecenderungannya, saya menilai Dami juga secara tidak langsung menjadi juru bicara kebudayaan Orde Baru. Adapun tendensi yang terkait pemikiran filsafat, Dami memilih ke Eksistensialisme yang awalnya berkembang di Perancis. Toh, pemikiran tersebut juga tengah merebak dalam iklim kreativitas seniman era Orde Baru. Mungkin, karena Eksitensialisme tidak menghendaki pemberontakan kolektif. Saya kurang tahu. Tapi, sejauh pembacaan saya filsafat Perancis tersebut memang pas di kalangan intelektual Indonesia pada 1970an dan oleh pemerintah Soeharto diperbolehkan.

Sebulan lebih saya menelantarkan makalah yang belum rampung. Baru sampai sepuluh halaman. Kesibukan alasannya. Sama sekali pada September tulisan tersebut tidak saya sentuh. Ah, tibatiba saya ingat deadline pengiriman naskah ketika Esha Tegar Putra mengajak diskusi terkait seminar tersebut. Pekan kesatu Oktober saya menumpahkan yang belum dituang oleh pikiran dari bacaan dan menyalin catatan yang tercecer tentang Dami N. Toda. Malam dua hari sebelum deadline ditutup (15 Oktober), saya kirim makalah tersebut. Lolos atau tidak lolos, saya toh tetap pergi ke Yogyakarta. Lagi pula mencoba itu sudah bagian dari proses belajar, pikir saya. Besok paginya, saya kembali ke rutinitas: kuliah. Huh!

*

Penyair Esha Tegar Putra rupanya juga mengirim makalahnya ke UGM. Ia yang juga sama-sama studi di program Sastra Pascasarjana Universitas Indonesia membahas persoalan 33 Sastrawan Paling Berpengaruh di Indonesia, yang beberapa tahun kemarin diributkan, dengan mengerucutkan pembangunan ketokohan yang dibangun Denny JA. Kami berdiskusi cukup intens. Bagi Esha, Denny JA sudah membuat wibawa kritik sastra Indonesia jadi buruk. Singkatnya, Denny JA membuat petaka yang menundukkan praktik kritik sastra ditundukkan oleh uang (modal) dan kepentingan yang politis semata. Dari sumber terpercaya, saya baru tahu ternyata target utama Denny JA adalah mendapatkan posisi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada pemerintahan Jokowi. Ada-ada saja si Denny!

Pada 16 November, panitia mengabari saya dan Esha melalui surel. Dalam pesannya, panitian memberitahu saya dan Esha lolos. Makalah kami diterima oleh mereka dan diikutkan sebagai materi seminar tersebut. Beberapa nama yang juga lolos, antara lain Bandung Mawardi, Endhiq Anang P, Kurniawan Desiarto, I.B. Putera Manuaba, Yongki Gigih Prasisko, dan Wahyu Heriadi. Mereka yang lolos sesuai dengan subtemanya masing-masing. Makalah saya terpilih untuk subtema Sastra Bertendens dan Estetisme, bersama penyaji utama Narudin Pituin. Selain itu, penyaji utama yang sudah pasti, antara lain Faruk HT, Muhidin M. Dahlan, Wijaya Herlambang, Tia Setiadi, Muhammad Al Fayyadl, AS Laksana, dan Yoseph Yapi Taum. Keynote Speaker untuk seminar dua hari ini adalah Goenawan Mohamad dan Katrin Bandel.

*

Saya berangkat ke Yogyakarta pada Sabtu malam, 21 November, dari stasiun Gambir. Tiba di stasiun Yogyakarta pada subuh hari Minggu, 22 November. Malioboro masih gelap. Saya berjalan kaki, mengamati keadaan sambil menyalakan rokok. Pukul setengah enam, saya beri koran. Ada dua kabar duka. Paku Alam IX meninggal dunia kemarin sore. Ialah wakil gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta. Headline koran Merapi dan Kedaulatan Rakyat penuh memberitakan hal tersebut. Saya buka koran Merapi, di dalamnya penyair Diman Indiana Senja menulis obituari bagi Korrie Layun Rampan. Setelah membaca dua kabar itu, saya hisap dalam dalam rokok. Saya hembuskkan asap pelan-pelan. Malioboro sedinginnya yang pernah saya rasakan. Saya jadi mengenang kembali almarhum penyair Boedi Ismanto. Mengenang juga Korrie yang dulu semasa mudanya aktif di Persada Studi Klub di Maloboro bersama Umbu Landu Paranggi.

Setelah seharian penuh mengitari Maliboro, Pasar Beringharjo dan membeli sejumlah buku dari Taman Pintar: saat petang saya berjalan ke Jalan Wajilan, utara pusat pemerintahan Yogya. Saya singgah bermalam ke rumah sastrawan Indrian Koto. Di sana, saya bertemu dengan Rozi Kembara. Kami berkenalan hangat, minum kopi, dan mengobrol sampai larut. Kami berbicang seputar dunia sastra dan penerbitannya. Rozi bertanya, dengan siapa mengisi seminar? Saya jawab, dengan Narudin. Rozi dan Indrian terkekeh. Keduanya menjelaskan pada saya sesuatu yang belum pernah saya dengar. Agaknya Narudin menjadi persoalan tersendiri dalam seminar tersebut. Keduannya menyelidik mengapa Saut Situmorang tidak diundang jadi pemateri. Saya memilih menyimak karena tidak mengetahui banyak perdebatan di dunia maya, internet.

*

Hari Minggu dan Senin (22-23/11), saya habiskan waktu membaca, mempersiapkan makalah. Saya baca kembali makalah. Ah, masih ada yang kurang. Saya luput menambahkan pemikiran Dami yang setelah ke Hamburg, yang terangkum dalam bukunya Apakah Sastra? (2005). Untungnya Irsyad Ridho membekali saat di Jakarta. Dalam buku tersebut, Dami sudah mengkritik kritikus A. Teeuw. Tapi, sebetulnya fokus makalah saya memang pada posisi Dami semasa Orde Baru. Apakah Sastra? membantu saya dalam melihat konsistensi Dami dalam mengkritik sastra. Misalnya, ulasan Dami terhadap perpuisian Afrizal Malna dan Dorothea Rosa Herliani. Senin malam saya pindah menginap di indekos teman saya di Kaliurang Lima. Sebelum tidur, malam itu saya berdoa supaya besok acara lancar dan saya tidak begitu kewalahan menyampaikan makalah.

Selasa (24/11) pagi pukul 07.40 lebih sedikit, saya diantar teman berangkat ke PKKH UGM. Jalan tidak begitu ramai. Kami lewat jalur belakang UGM. Tampak PKKH masih sepi. Hanya panitia yang terlihat sibuk menyiapkan sound system dan tata bangku. Esha baru juga sampai. Kami bicara sebentar, lalu saya pamit mau sarapan dulu. Sejam kemudian Goenawan Mohamad (GM) memulai pidatonya di podium. Audiens berjumlah seratusan lebih sudah anteng duduk. Makalah yang disampaikannya berjudul Ruang Diskursif, Ruang Puitik. Saya kesulitan memahami politik kritik sastra versinya secara jernih dalam sastra. GM pakai bahasa yang njelimet, seperti biasa. GM tidak secara gamblang menyebutkan kepentingan politik kritikus sastra. Berulang kali contoh yang diberikannya berasal dari zaman Pujangga Baru atau sebelum periode 1965. GM sangat hati-hati. Ia menyudutkan Sutan Takdir Alisjahbana tiap kali memberi suatu permisalan. Selain itu, GM menyoalkan kesetaraan bahasa yang digunakan setelah beralih dari ruang diskursif ke ruang puitik. Saya menduga GM sengaja menghindari contoh sejarah ideologi yang berkembang di Indonesia atau yang pernah dialaminya dulu semasa muda, ketika di Manifes Kebudayaan. Sekaligus, GM tak menyebut di posisi mana ia berdiskursif secara politis dan siapa sastrawan yang berada di kelompoknya.

Paragraf pembuka makalahnya, GM menulis: “Kritik sastra tak dengan sendirinya diperlukan sastra. Kritik sastra adalah gema yang bersipongan setelah sastra memperdengarkan suaranya, tetapi gema yang punya arahnya sendiri…” Silakan tafsirkan. Pada sesi tanya jawab, GM ditanya bagaimana mengenai gagasan kritik sastra Edward Said. Menurut GM, Edward Said tidak memengaruhi ruang puitik. Sekeras apa pun gagasan Said mengeritik Barat, tetap saja estetika sastra di belahan dunia mana pun tidak secara jelas terberi dampak olehnya. Di akhir pidatonya, GM menyebut, “Di sekolah…sastra menjadi pengetahuan, bukan kenikmatan.” Mungkin ia tahu kritikus harus sadar situasi pendidikan itu untuk mempertimbangkan kerjanya. Lama sekali GM tak mengisi acara sastra di kampus. Ia memilih UGM karena barangkali percaya kritik sastra akhirnya dikembalikan ke kampus.

Sesi pertama seminar dengan subtema Kritik Sastra dan Kolonialisme (1910-1945), setelah GM, adalah Faruk HT dan Bandung Mawardi. Sesi ini dimoderatori Narudin. Dalam kesempatannya, Faruk menyampaikan bahwa kritik sastra berada di antara dua kubu, antara kelompok yang realistik dan pragmatik. Dua kelompok tersebut di bawah naungan penjajah, Belanda. Yang realistik bergerak ke arah perjuangan kritik mendobrak belenggu kolonial melalui opini di surat kabar, yang langsung secara tidak dikutip atau terinspirasi oleh karya sastra dari pengarang yang juga aktif dalam gerakan bawah tanah. Sementara itu, kelompok pragmatis, yaitu mereka yang lebih administratif menyuarakan kritik sastra: mengagungkan semangat modernisme yang hanya sebatas gagasan. Bandung Mawardi menegaskan kelompok pragmatis yang merujuk kepada para tokoh di Poejangga Baroe. Semangat Poejangga Baroe memengaruhi iklim kritik sastra saat itu. Menurut Bandung, kritik sastra era kolonial adalah cikal bakal endorsement yang hari ini sering ditemukan di halaman balik sebuah buku sastra, dengan tipikalnya: ringkas, pujian, dan bujukan. Bandung mengambil contoh ulasan Matu Mona yang meninjau buku puisi M ‘Alie Hasjim 1936.

Yang menarik dari sesi pertama ini adalah moderator. Narudin membuat Bandung Mawardi jengkel karena selama memoderasi terlalu berlebihan, tidak sesuai porsinya. Narudin mengutip puisi bahasa asing dan membacakannya di awal, tapi audiens tampak merasa tidak nyaman dengan itu. Bandung memilih berdiri selama menyajikan materinya. Faruk diam, tidak mau ambil pusing: masih santai merokok. Kejengkelan Bandung kepada Narudin, selain itu, mungkin dipicu oleh celoteh Narudin membahas status Facebooknya sendiri yang dikomentari Faruk. Dalam kegeramannya Bandung berujar dengan satir, (sambil menoleh ke Narudin), “Cangkemmu, cangkem anak kuliahan…” Sontak semua yang hadir tertawa geli. Beberapa yang tepuk tangan. Ada juga yang terpingkal. Saya yang duduk di bagian belakang ikut terkekeh.

Selanjutnya, istirahat makan siang. Saya bersama Tia Setiadi, Niduparas Erlang, Esha Tegar Putra tengah duduk santai setelah menikmati hidangan. Kami mengobrol. Di situlah datang Wijaya Herlambang dan Katrin Bandel dari arah depan, pintu masuk PKKH UGM. Kami yang duduk pun bangkit menyalami keduanya. Wijaya Herlambang tampak letih dan ia memilih duduk di antara kami. Tangan kirinya memegang botol air mineral, tangan kanannya memegang ponsel dan sebuah buku. Semetara itu, Katrin Bandel pemit undur diri. Saya bertanya pada Wijaya Herlambang, “Mas sedang tidak enak badan ya?” Wijaya menjawab, ya mestinya hari ini saya istirahat. Memang sakit apa, mas? tanya saya. Ia bilang kanker, entah kanker apa. Lalu Wijaya sebentar mengambil kotak nasi dan kembali duduk. Baru sesuap ia makan, panitia mengumumkan acara akan segera dilanjutkan. Wijaya pun berdiri karena ia mau jadi moderator.

Kemudian sesi kedua dengan subtema Kritik Sastra dan Suasana Konflik Ideologis (1945-1965) dengan penyaji Muhidin M. Dahlan dan Endhiq Anang. Dalam makalah berjudul Politik dan Sastra: Lekra Sebagai Pelaku, Muhidin menjelaskan bahwa Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) memberi tempat sejarah kepada sastra liar, misalnya Mas Marco. Lekra sadar akan politisnya kritik sastra dengan ikut mengintervensi Kongres Kebudayaan pada 1951. Muhidin yakin bahwa setiap pengarang Lekra tidak hanya ditanamkan untuk berkarya dengan memasukkan nuansa politis, tetapi juga bersikap politis di luar teks. Inilah konsekuensi dari adagium Politik Sebagai Panglima. Muhidin menyayangkan sejarah Lekra dihapuskan seiring dengan keruntuhan Orde Lama Soekarno. Sebab, masyarakat terlanjur dicuciotak bahwa kepedulian Lekra terhadap kritik sastra terbukti dengan polemik yang membongkar plagiarisme Hamka pada Tenggelamnya Kapal van der Wijck yang menjiplak dari karya Manfaluthi berjudul Magdalena. Inilah yang mestinya ditelaah kembali dari sejarah resmi kesusastraan Indonesia agar memposisikan Lekra tidak sekadar kelompok yang dikalahkan Manifes Kebudayaan.

Selama presentasinya, Muhidin menampilkan gambar lewat proyektor. Gambar tersebut, antara lain klipingan koran, guntingan nama sastrawan Lekra, dan cover buku yang menjadi bukti bahwa Lekra pernah berjasa dalam penulisan sejarah sastra yang dilarang oleh kelompok pragmatis seperti yang disebutkan sebelumnya. Beranjak ke Endhiq, ia tidak begitu proaktif dalam menyampaikan materinya. Makalahnya bertitel Teeuw, Pramoedya, dan Politik Kritik Sastra HUmanisme Universal dibaca Endhiq sepenuhnya dari awal sampai habis. Intinya, Endhiq mau mengatakan bahwa semangat universal yang ditularkan oleh kritikus sastra A. Teeuw itu beraroma pesimisme Barat. Ketidaksukaan Teeuw kepada Lekra menjadi tinju kritik utama dalam makalahnya. Tapi, setelah tragedi 1965 berlalu dan masuk ke periode 1980an, Teeuw sangat mengagumi Pramoedya Ananta Toer. Teeuw, dinilai Endhiq, sedang “mencuci tangan” atas kebenciannya terhadap Lekra.

Memasuki sesi ketiga, Wijaya Herlambang yang menjadi penyaji utama: didampingi Kurniawan Desiarto. Subtema kali ini adalah Lembaga-Lembaga Sastra, Kritik, dan Politik. Wijaya membuka perbincangan dari kasus Manifes Kebudayaan yang ditunggangi oleh militer, dan diperdaya untuk mengalahkan Lembaga Kebudayaan Rakyat. Dalam penuturannya, Wijaya berusaha mendekonstruksi pemahaman sejarah sastra Indonesia yang dibelenggu oleh paham anti-komunis. Ia menyinggung peran intelejen lembaga seperti CCF yang menunjuk intelektual muda kontra-PKI, salah satunya Goenawan Mohamad, untuk menyebarkan gagasan Humanisme Universal untuk membabat Realisme Sosialis. Sayangnya, saat Wijaya bicara, GM sudah tidak di antara audiens. Ia kembali ke hotel tak berselang lama setelah sesi pertama dimulai. Wijaya mempertanyakan ulang, mengapa di Belanda tidak ada CCF? Ini yang jadi persoalan: apakah karena Belanda bukan siapa-siapa di kancah perpolitikan internasional? Wijaya sangat berapi-api menyajikan makalahnya. Saya sampai lupa percakapan makan siang tadi, dan baru ingat di akhir sesi: ia baru kembali dari Den Haag untuk kasus ICT dan mestinya hari itu kemoterapi.

Kurniawan Desiarto tidak seheboh Wijaya. Pembawaannya tenang. Ia menulis makalah berjudul Pengaruh Kritik Sastra RM Tirto Adi Surjo dalam Medan Prijaji terhadap Kesadaran Nasionalisme. Kurniawan menarik kesimpulan bahwa sosok Tirto Adhi Surjo yang berkarier sebagai jurnalis itu berperan dengan kritik sastranya dalam Medan Prijaji menumbuhkan kesadaran nasional dan kebangsaan. Kunrniawan menekankan bahwa penulis kritik sastra adalah kaum terpelajar yang tergugah akan penindasan yang dilakukan oleh pihak Kolonial terhadap pribumi. Sayangnya, Kurniawan tidak memberikan contoh karya sastra apa saja yang dikritik mendalam oleh Tirto Adhi Surjo. Ini yang mungkin bikin peserta seminar agak kebingungan juga menangkap gagasan kritik sastranya, pun pada sesi tanya jawab: pertanyaan yang muncul banyaknya berkaitan dengan problem keadilan hukum, perjuangan pendidikan, dan kebiadaban kolonialisme.

Di tengah sesi ketiga, saya rehat di sudut kiri belakang PKKH. Masih sambil menyimak, bercakap dengan beberapa mahasiswa Sosiologi & Politik UGM serta dua mahasiswa asal Universitas Hassanudin, Makasar. Narudin mendekati. Ia rupanya capek menunggu giliran maju sisi keempat (bersama saya). Dia bertanya ke mana Tia Setiadi, sebab ia ingin memberinya buku puisi terjemahannya. “Saya sudah menerjemahkan dua buku kumpulan puisi penyair Indonesia, Hamzah,” ujarnya. Saya bilang, wah bagus dong! “O ya, di Indonesia hanya orang pintar yang bisa menerjemahkan puisi bahasa Indonesia ke bahasa Inggris,” lanjutnya. Saya jadi ingat ceoloteh Bandung tadi pagi di sesi pertama. Dalam hati, apa ini yang bikin audiens tertawa. Saya masih sabar mendengar, sambil menghisap rokok. “Nanti Hamzah beli buku saya kan? Buku kritik sastra itu…” Saya jawab iya. “Hamzah, nanti pas kamu baca buku saya, kamu akan mabuk.” Wah, kok bisa? tanya saya setengah heran. “Ya, Hamzah akan tidak bisa mencari kelemahan dalam kritik sastra yang saya tulis… Eh maksudnya, Hamzah akan sulit mendapati kelemahannya.” Aduhai… rasanya tiba-tiba rokok saya jadi cepat habis. Saya berharap ketika mengisi seminar pukul 17.00 tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Ini wanti-wanti saya.

*

Hari semakin petang, banyak peserta yang pulang duluan meninggalkan PKKH UGM. Mungkin karena ada kerjaan atau urusan masing-masing. Saya kurang tahu. Nama saya dipanggil ke depan oleh pengeras suara, juga nama Narudin. Sesi kelima hari pertama dimulai. Ketika itu, saya berharap Narudin menjelaskan inti dari makalahnya sebab, jujur saya tidak begitu sampai nalar menelusur pokok gagasan mengenai Sastra Bertendens dan Estetisme yang diajukannya. Di samping itu, saya menyiapkan makalah yang mengangkat tentang peran dan kontribusi Dami N. Toda dalam kritik sastra Indonesia. Narudin ternyata tidak membuat ringkasan; ia membaca semua makalahnya sebagaimana yang Endhiq lakukan pada sesi kedua. Ini celaka, pikir saya. Ia bahkan membaca abstrak yang berbahasa Inggris. Saya tepok jidat. Di barisan kursi terdepan: duduk Muhidin M. Dahlan dan Bandung Mawardi. Di tengah sana, tampak juga seorang intelektual muda yang ternama, Muhammad Al Fayyadl. Sejurus kelebat pengamatan itu, saya diserang rasa grogi tak keruan. Sementara itu, Narudin mengoceh fragmen-fragmen pemikiran filsafat yang tak keruan juntrungannya. Nafas yang pendek-pendek, saya tahu Al Fayyadl semester tiga sewaktu kuliah strata 1 menulis buku tentang pemikiran Derrida: dan makalah saya sedikit banyak menyinggung pengaruh filsafat Perancis yang disoroti Dami dalam kritik sastranya terhadap karya-karya prosa Iwan Simatupang. Saat itu juga, saya meragukan apakah Narudin mengenal Muhammad Al Fayyadl. Ah, giliran saya. Tangan pun gemetar…

Moderator bernama Retno mempersilakan saya bicara sekitar 20 menit. Saya bilang ke peserta bahwa saya tidak akan menyinggung teori dan filsafat atau definisi-definis mengenai apa itu sastra bertendens dan estetisme. Sebab, kekhawatiran saya adalah hadirin dibuat jauh pikirannya membumbung tak menginjak ke bumi akibat materi yang disampaikan Narudin. Saya agak kecewa dengan karena Narudin tidak membuat saya lega, tetapi sebaliknya. Maka dengan nada rendah, saya bilang, “Baiknya, kita langsung mendudukkan Dami N. Toda sebagai kritikus sastra dalam konteks sejarah di mana ia tampil dan mengemuka, yaitu zaman Orde Baru. singkatnya, bagi saya Dami adalah kritikus alternatif di antara dua gesekan aliran, antara kubu Ganzheit (diwakili Arief Budiman dan Goenawan Mohamad) dan kubu Rawamangun (diwakili dosen/pengajar Universitas Indonesia, MS Hutagalung, dll). Dami percaya bahwa kritik sastra tidak bisa diinstitusikan dan setiap karya sastra mempunyai toeri penciptaannya sendiri. Dualisme Dami terhadap teori, ia beranggapan teori itu penting sekaligus tidak penting.  Tidak penting ketika seorang kritikus muluk-muluk jadi kalap karena teori yang diajukannya ternyata tidak sejalan atau berseberangan dengan karya yang dibahas. Selain itu, sosok Dami yang (sekarang jarang dikenal oleh publik sastra) jadi penting karena sikap politisnya yang apolitis di hadapan penguasa Orde Baru. Dami berulang kali memperjuangkan wawasan estetika baru. ia didaulat dan mendaulat diri sebagai juru bicara Angkatan 70 sastra Indonesia dan secara iklim politik Orde Baru, ia pun menjadi intelektual yang juga setuju menyuarakan agenda pemerintah. Perjuangan estetika Dami tidak subversif di mata Soeharto.

Hadirin tertawa ketika saya akui bahwa saya dilanda grogi. Air muka mereka senang karena ini bagian yang lucu. Mereka sadar kalau sebenarnya saya gugup. Ah, semoga bukan karena materi yang berbelit. Dan waktu saya telah habis. Kemudian, Retno mempersilakan bagi penanya yang mau bertanya. Bandung Mawardi jadi penanya pertama, dengan prolog begini: “Hamzah, saya mau dapat pencerahan karena mendengar materi sebelum kamu, saya jadi gelisah. Saya mau dengan saya bertanya ke kamu ini, nanti malam saya bisa mimpi indah…” Hadirin yang masih bertahan di sana (sekitar 30an orang) terdecak dan ada beberapa yang cekikikan. Bandung meminta saya menjelaskan bagaimana pandangan Dami N. Toda yang mengkritik puisi-puisi Afrizal Malna. Menurut hemat saya, Dami memandang estetika Afrizal adalah baru, sebagaimana ia pertama kali ‘menemukan’ puisi Sutardji. Dami pun membuat semacam linearitas estetika kanon warisan dari Sutardji ke Afrizal dalam corak puisi mantra. Ada pun lirisme yang disumbangkan Afrizal banyak meminjam dari penyair kenamaan Sapardi dan Goenawan. Dua penanya lain menanggapi konteks kritikus akademik pada zaman Orde Baru.

Kegugupan saya (salah satunya karena kehadiran Muhammad Al Fayyadl) mereda di sesi tanya jawab. Saya jadi agak rileks menjabarkan pengaruh filsafat Perancis terhadap pemikiran Dami N. Toda, yang mengaplikasikan teori novel baru Allain Robbe-Grilet (1960an) dalam meninjau karya Iwan Simatupang. Sebelum sesi ini ditutup, Narudin menanggapi pertanyaan Bandung Mawardi mengenai puisi Afrizal Malna. Bagi Narudin, puisi Afrizal itu kosong, tak ada maknanya. Saya kanget, tapi diam beribu bahasa. Narudin melanjutkan komentarnya terkait Dami yang membahas Iwan. Lalu, saya izin ke Rento untuk menyimpulkan ulang gagasan bertendens dan estetisme Dami. Setelah itu salam. Hadirin tidak ada yang tepuk tangan. Bukan itu yang memang saya inginkan. Tapi, ketika saya tengah rapi-rapi dan barang bawaan tas, saya keluarkan tiga buku kritik sastra Dami di atas meja. Narudin yang melihat keribetan saya, memandangi sambil menunjuk ketiga buku itu. Ia berkata, “Hamzah, kamu punya tiga buku ini?” Saya jawab singkat: iya. Narudin bilang ia mau fotokopi tiga buku itu. Saya lekas bertanya, “Apa mas belum membacanya?” Dengan lugu, Narudin bilang, “…Belum. Saya belum membacanya.” Astaga! Saya jadi mau tepuk tangan untuknya. Hati kecil saya membujuk jangan.

Selesai acara, Bandung Mawardi dan Muhidin M. Dahlan maju ke depan. Saya disalami keduanya. Namun, keduanya tidak menyalami Narudin. Saya mulai paham apa yang sebenarnya terjadi. Bandung bergurau pada saya, “Ham, kamu kenapa grogi? Sering-sering ya mengisi jadi pembicara. Tapi menulis itu lebih penting. Baca apa lagi!” Muhidin berbisik, “Hei, kamu itu suara vokalnya bagus. Berbeda dengan pemateri sebelumnya yang bergema. Suara kamu di radio terdengar empuk.” Saya tersenyum. Kedua orang itu adalah pemikir dan pegiat literasi ulung. Sejenak saya ingin menoleh kepada Narudin, tapi ia sudah beranjak dari tempat duduknya. Saya lekas berdiri, setelah mengenakan jaket, karena hawa udara terasa dingin betul. Mungkin nanti malam akan turun hujan. Atau besok. Mungkin saja.

*

Malam hari pertama seminar, diantar Ezra (anak bungsu penyair Adri Darmadji Woko) saya kembali ke rumah Indrian Koto. Semua barang bawaan dari Jakarta ditinggal di sana. Setiba di rumahnya yang berlokasi di Jalan Wijilan, alun-alun utara Yogyakarta: saya disambut sejumlah penulis muda. Yang saya ingat, antara lain Dea Anugrah, Esha Tegar Putra, Niduparas Erlang, dan Rozi Kembara, serta tuan rumah, mas Indrian Koto. Mereka menunggu cerita saya hari itu. Pengalaman duduk bersama Narudin. Dea Anugrah menceritakan buku puisinya yang dikritik oleh Narudin (saya baca ulasannya, lagi-lagi gagal paham). Dan semua yang di situ, ngopi dan merokok, menyindirnya. Malam terasa larut. Saya mual bercerita tentang hari itu. Dea bilang, “Zah, di Facebook atau media sosial itu banyak orang-orang lucu yang naif. Termasuk si Narudin itu.” Pukul 01.30, saya undur diri untuk istirahat dan disusul rekan penulis yang lain berpamitan mau pulang. Sayang sekali, tapi harus gimana juga, percakapan kami malam itu ditutup dengan membicarakan orang. Dan tulisan ini terlanjur membiarkannya. Oh, manusia!

*

Hari kedua Seminar Politik Kritik Sastra (25/11). Pukul 09.00 Katrin Bandel menjadi keynote speaker. Secara meyakinkan Katrin bersikukuh bahwa baik sastra maupun kritik sastra selalu bersifat politis. Ia gamblang. Bahasanya lancar, mengesankan tidak ada yang disembunyikan karena memang tidak perlu. Namun, beberapa hadirin bercerita pada saya, mengapa Katrin tidak dibuatkan panel berdua, hadap-hadapan dengan GM. Realitanya, dalam sastra Indonesia, menurut Katrin, seakan-akan dibuat berjarak dengan sikap politis dan hal seperti inilah yang menjadi tidak wajar ketika kritikus asing lebih didengar omongan dan dibaca tulisannya mengenai kesusastraan Indonesia. Sastra nasional terlajur jadi objek dan ditempatkan tidak sebagaimana mestinya, disudutkan agar tidak hadir dalam percaturan global sedemikian rupa. Saya jadi teringat kasus polemik Manifes Kebudayaan dan Lekra. Selain itu, saya juga tersadar betapa A. Teeuw dipuja-puji oleh kalangan akademisi yang bercokol di menara gadingnya. Inilah cikal bakal hilangnya moralitas dan tanggung jawab intelektual yang punya gagasan kontekstual bagi masyarakat. Setengah jam lebih Katrin berbicara, peserta banyak yang bertanya. Topik 1965 mencuat, seperti kemarin…

Dilanjutkan ke sesi pertama hari kedua, yaitu Kelompok Rawamangun dan Ganzheit yang diwakili Tia Setiadi sebagai penyaji utama dan I.B. Putera Manuaba. Tia menelusuri perdebatan klasik antara dua ‘wakil seniman’ Goenawan Mohamad dan Arief Budiman kontra Aliran Rawamangun (basis Universitas Indonesia saat 1960an) yang digawangi MS Hutagalung, JU Nasution, S. Efendi, dan Boen S. Oemarjati. Bagi Tia, GM maupun Arief adalah dua anak muda yang nekat, yang terlampau bersemangat. Politisnya memang keduanya tampil sebagai pemenang dari Manifes Kebudayaan. Keduanya menolak keangkuhan kritikus akademis yang rewel soal metode. Tia kesulitan menemukan apa yang sebenarnya dimaksud dengan Metode Ganzheit secara ketat. Dan ternyata nihil hasil pencariannya. Ternyata metode sastra dan teori Gestalt (yang dipinjam dari ilmu psikologi) Ganzheit sudah ditinggalkan pasca Perang Dunia Kedua. Api semangat kedua anak muda nekat itu. Adapun Aliran Rawamangun teledor memelintir strukturalisme dengan moral. Ukuran karya sastra bagus atau tidaknya, bagi kritik Rawamangun, tergantung dari amanatdan nilai yang bermanfaat bagai masyarakat. Bagi Tia, perdebatan tersebut hanya melanggengkan. Sementara itu, pemateri kedua Putera Manuaba mengambil jalan damai dan percaya bahwa kedua aliran tersebut dapat dipercampurkan. Ia tidak menjelaskan percampurannya seperti apa, tapi hanya mengatakan bahwa dua aliran itu pada akhirnya saling mengisi bengunan kritik sastra yang ada, dan berguna bagi keberlangsungan hidup sastra. Cara pandang adalah titik tekan Manuaba. Cara pandang bahwa karya sastra itu dinamis. Saya iseng membayangkan Manuaba menjelma seorang filsuf di siang bolong.

Selanjutnya istirahat makan siang. Seminar disambung dengan subtema Filsafat, Kritik dan Politik Muhammad dengan penyaji utama A Fayyadl, dan penyaji undangan Yongki Gigih Prasisko dengan makalah bertajuk “Doing Avant Garde: Kritik Sastra Posmodern”. Al Fayyadl menegaskan yang sesungguhnya terjadi di blantika sastra Indonesia hingga kini adalah politik teori sastra. Bagi Al Fayyadl, sejarah tidak berlaku adil kepada manusianya. Lekra dianggap satu jeda yang destruktif bagi sastra Indonesia. Penulisan sejarah sastra juga dikritiknya, yang terlalu diakronik. Dengan konstelasi idelogis, musuh-musuh Lekra melakukan pemangkasan paham Realisme Sosialis yang mengakar dalam sastra pada puncak dan sebelum keruntuhan Orde Lama Soekarno. Inilah yang seolah-oleh kritik sastra harus disikapi oleh kalangan akademisi untuk mencairkan dendam kesumat para pembenci PKI (sebab Lekra dekat dengan partai kiri tersebut). Institusi pendidikan tinggi berperan dalam mengintegrasikan kritik sastra dengan teori sastra. Saya menyimaknya dengan serius di samping cerpenis Niduparas Erlang. Al Fayyadl memetakan dua model sejarah sastra, yang-diakronik dan yang-materialisme-historis. Dan bagi Al Fayyadl, Lekra memberi kontribusi penting dalam model kedua. Politik teori sastra, bagi Al Fayyadl, dimanfaatkan untuk mencapai konsensus bahwa, inilah yang mebuat sastra menjauhi ideologi. Sementara itu, penyaji kedua: Yongki membahas teori-teori besar posmodern yang digadangnya memengaruhi wacana kritik sastra Indonesia. Saya agak mengantuk. Uraiannya mengenai kritik sastra tidak menukik ke inti persoalan sastra nasional kita. Yongki ingin membahas ideologi kiri tapi dengan kacamata seorang pengagum filsafat Baudrillard.

Baiklah, walau tidak kuat dengan kutipan yang dicatut Yongki dari buku-buku yang seakan-akan berasal dari luar angkasa: saya menanti sesi berikutnya dengan subtema Kapitalisme, Media, dan Kritik Sastra. Sesi ini diisi oleh sastrawan AS Laksana dan penyaji kedua Wahyu Heriadi dengan makalah “Realisme Sosialis dalam Sastra Sunda sebagai Kritik terhadap Kolonialisme”. AS Laksana bercerita tentang kabar buruk di Frankfurt Book Fair kemarin di mana karya Pramoedya tidak ada. Alasan penerbit adalah buku Pram laris, tapi kalaupun laris mengapa panitia tidak bisa memprediksinya. Sulak (panggilan akrab AS Laksana) heran betapa naifnya jalan pikiran orang Indonesia, yang menjadi panitia di Frakfurt. Sulak bilang, setelah Lekra tumbang: sastra Indonesia mengikuti kehendak dan cara kerja prinsip kapitalisme. Kebencian masyarakat terhadap kapitalisme adalah karena sifat yang pembohong, yang penuh dusta. Kini sastra, menurut Sulak, tunduk di bawah rezim yang lebih ngeri dari Orde Baru, yaitu rezim pasar. Sulak menyindir Yongki yang tulisannya dibubuhi banyak catatan kaki, karena tulisan yang Sulak tulis sendiri itu tidak ada catatan kaki. Sulak berseloroh, “Seorang Bertrand Russel saja tidak pernah membuat catatan kaki.” Saya nyengir, agak getir. Entah bagaimana dengan Yongki. Sementara itu, pemateri kedua, yaitu Wahyu Heriadi: makalahnya dipresentasikan berikut slide gambar. Saya tidak paham jalan pikiran Wahyu, sebab ia menunjukkan bahwa karya sastra (berupa novel/roman) sastrawan sunda dinilainya berpaham Realisme Sosialis padahal dicetak Balai Pustaka. Padahal hari sebelumnya, Bandung sudah menyinggung bahwa Balai Pustaka adalah bentukan kolonial dan karya yang diterbitkan tharus memihak ke penjejah. Wahyu tampak memaksakan pandangannya terhadap sejarah yang ditulis terlanjur diakronik (pembabakan). Setidaknya Wahyu tidak seperti Narudin. Setidaknya…

Manakala sesi Al Fayyadl dan Wahyu selesai, kilat-kilat dan petir mulai tampak di langit Yogyakarta. Tak lama hujan pun turun. Suasana jadi makin ramai. orang-orang banyak yang tidak fokus. Sudah ada yang duduk-duduk di pinggiran. Dan saat pengeras suara mengumumkan sesi terakhir seminar akan segera dimulai, barulah peserta kembali ke kursinya masing-masing. Sesi penutup ini bersubtema Kecenderungan Mutakhir Kritik Sastra & Implikasi Politisnya dengan dua penyaji undangan Yoseph Yapi Taum dan Esha Tegar Putra Membangun Ketokohan dalam Sastra: Dari Puisi Esai ke 33 Sastrawan Indonesia Paling Berpengaruh. Moderator adalah S Arimba. Di sesi ini, Faruk HT memberitahu saya bahwa Linda Christanty tidak jadi mengisi. Faruk tidak memberikan penjelasan lebih lanjut mengenai alasan Linda tidak hadir. Saya pun matikan rokok, dan meminggirkan gelas the panas, berdiri ke barisan depan di belakang Bandung Mawardi.

Yoseph Yapi Taum mempresentasikan pendekatan kritik sastra baru, yaitu New Historisism, yang bertolak (meminjam serta mengutip?) gagasan diskontinuitas (retakan) sejarah-nya Michel Foucault. Inilah yang sekiranya saya teringat pada apa yang dipraktikkan diam-diam Wijaya Herlambang dalam bukunya mengenai kekesaran budaya pada masa Orde Baru, pasca 1965. Akan tetapi, mungkin Wijaya tidak memakai metode yang disinyalir posmo itu. Yoseph menunjukkan warisan gagasan marxist yang masih bisa diaplikasikan dalam memandang sejarah. Ada tiga poin yang ditampilkannya, antara lain (1) setiap tindakan ekspresif terkait erat dengan jaringan praksis budaya, (2) teks sastra dan teks nonsastra beredar tidak terpisahkan, dan (3) tidak ada wacana kebenaran yang mutlak. Yang terakhir disebutkan dapat ditafsirkan diperoleh Yoseph dari gagasan postrukturalis Perancis. Namun, konyolnya di tengah seminar Yoseph mempromosikan buku yang dibuatnya dan baru diterbitkan pertengahan tahun ini. bukunya tersebut (saya lupa judulnya) membahas karya Pramoedya Ananta Toer dan Ahmad Tohari, dengan tinjauan New Historisism. Saya pun terganggu, mungkin hadirin yang lain juga. Bandung berbisik kepada saya, “Ham, kamu mesti beli bukunya. Ini penting bagi kuliahmu. Ngintelek!” Saya terkekeh sambil tutup mulut dengan telapak tangan . Geli dan agak getir.

Esha Tegar Putra mendapat giliran. Ia berbicara lantang. Sangat keras bahkan. Suara hujan terdengar begitu kencang disebabkan angin. Demi menyederhanakan makalahnya, Esha membuat intisari lewat powerpoint. Intinya, Esha mengecam keras dengan sosok Denny JA yang membuat wibawa kritik sastra Indonesia jadi terpuruk. Oleh karena modal kekuasaan dan uang, kritik sastra jadi luput untuk mengkritik dirinya sendiri. Inilah yang sebenarnya krisis. Esha juga menyebutkan bahwa kalaupun memang buku 33 Sastrawan Paling Berpengaruh di Indonesia itu objektif, mestinya ia memasukkan AA Navis sebagai pengarang Minang yang berpengaruh lewat karya-karya prosanya. Tapi bukan itu kekhawatiran Esha. Lanjutnya, kritikus sastra dari kalangan sastrawan seperti Sutardji Calzoum Bachri dan Sapardi Djoko Damono diperalat untuk mengantarkan karya puisi Denny JA sebagai puisi yang memberi warna estetika baru dalam perpuisian Indonesia mutakhir. Omongan Esha pedas sekali. Tetapi, di forum seminar tidak ada tim panitia 9 yang bermakelar membuat buku tersebut. Rekayasa sastra menampilkan ketokohan bisa saja terjadi asalakan ada uang dan kekuasaan. Esha tidak terima itu, begitu juga publik sastra yang penuh kesadaran dan peduli dengan kemurnian sejarah, karena politik hari ini secara nyata membusukkan karya sastra dan kritiknya.

*

Selesai seminar satu per satu hadirin pulang. Malam penutupan  acara ramai. Saya pandangin wajah mereka yang masih peduli kritik sastra Hujan belum berhenti. Saya dan rekan-rekan penulis muda masih asyik mengobrol. Sulak ikut menimbrung. ada sekitar 10 orang yang duduk melingkar. Sulak lagi bercerita mengenai Narudin yang tidak bisa membedakan aku-narator dalam perpuisian Joko Pinurbo dalam suatu esainya: ia mengingat pengalamannya ketika Linus Suryadi ketika membahasa puisi Afrizal Malna tentang Ayah, dan Linus menyimpulkan bahwa Afrizal punya hubungan intim dengan almarhum dengan almarhum ayahnya. Tapi, ternyata ayahnya Afrizal masih hidup ketika itu. Kami terpingkal. Ketika agak reda, Faruk HT mengajak kami yang tersisa dan belum tahu kapan pulang untuk ke University Club Hotel UGM. Kami jalan menyeberangi kampus yang sepi. Di luar hanya lampu-lampu yang menyala. Dibawanya kami ke restoran di hotel kampus tersebut. Saya duduk semeja dengan Dea Anugrah, Sulak, dan Faruk. Saya bertanya ke Faruk siapakah penggagas seminar ini. Faruk menyebut Al Fayadl yang menginisiasikannya pertama kepadanya. Selain itu, Sulak bercerita bahwa Denny JA sempat meneleponnya untuk menawarkannya dua milyar untuk menjadi juri lomba puisi esai. Tapi, Sulak menolaknya. Dia tidak mau diperalat Denny JA yang memproklamirkan diri sebagai penggagas genre puisi esai. Obrolan kian santai. Faruk menghibur saya supaya sabar menghadapi ustadz Narudin. Saya menunduk geleng-geleng.

*

Kamis siang pukul 11.00 saya diantar penyair Rozi Kembara ke terminal Giwangan. Saya harus ke Tegal untuk mempersiapkan acara peluncuran antologi puisi Dari Negeri Poci 6 yang akan berlangsung pada 27-29 November. Hujan lagi-lagi turun deras. Bis baru datang sekitar pukul 14.40. Saya teringat percakapan semalam yang dilanjutkan ke Indomart pada suatu sudut Yogyakarta. Sulak dan Dea Anugrah menjadi juru cerita obrolan dini hari. Ada sekitar tujuh orang di sana, termasuk Rozi. Mas Indrian Koto bilang sebelum saya pamit ke Tegal, “Ya, wajarlah kalian betah sampai jam 3 ngobrol. Semua kisah dan pengalaman yang disetir Sulak dan Dea pasti seru. Mereka kan pengarang cerpen berteknik tinggi.” Ah, iya. Betul juga omongannya. Saya jadi lucu sendiri mengenangnya. Bis tujuan Tegal akhirnya sampai di terminal. Saya naik. Ada sekardus buku yang saya beli dari Jual Buku Sastra milik Indrian Koto. Semua honor penyaji seminar saya habiskan untuk itu. Ada sekitar 9 buku puisi, sisanya buku titipan dan teori untuk menunjang perkuliahan.

Di sepanjang perjalanan ke Tegal, saya kembali membuat rencana. Ya, rencana menulis pengalaman ini. Apa-apa yang tercatat di sini bukan semacam arogansi seorang megaloman. Toh, saya masih tolol dari sebutan atau panggilan kritikus sastra. Cuma seorang pemakalah. Pada akhirnya adalah rencana, mudah-mudahan di almamater saya Universitas Negeri Jakarta, lahir para pegiat sastra yang serius dan tidak henti belajar, mereka adalah para penulis muda, yang secara intensif dan tekun dalam mengarungi minat membaca kritik sastra (dan beberapa sudah ada yang mencoba dari proses bedah karya di Komunitas Tembok), agar semakin tekun dan tidak kehabisan tenaga. Akhir kalam, saya berterima kasih kepada Yogyakarta, kepada Universitas Gadjah Mada. Terima kasih juga rekan-rekan sastrawan muda (khususnya Dea dan Rozi) di sana yang memberitahu saya perihal membludaknya kekonyolan sastra di dunia maya, salah satunya Facebook.

Kembali ke pertanyaan utama dalam tulisan ini. Lantas, adakah yang berminat jika Stomata membuat workshop kritik sastra?

(Tulisan untuk Buletin Stomata Edisi X, Depok, 14 Desember 2016)

 Postscriptum:

(1) Dugaan saya mengapa Faruk tidak mengikutsertakan Saut Situmorang adalah keengganan Faruk kalau-kalau Saut bikin ulah di UGM, dan acara seminar PKKH malah berantakan. Hal ini dirasakan cukup, mungkin bagi Faruk dan panitia lainnya, dengan menghadirkan Katrin Bandel untuk menimpali (melawan?) gagasan Goenawan Mohamad.

(2) Kehadiran Narudin Pituin sebagai penyaji utama yang dipilih panitia bisa jadi karena tiga hal, yaitu sebagai ajang otokritik buat Narudin sendiri, sebagai peredam ketidakhadirannya Saut, dan sebagai tes mental (shock theraphy?) hadirin para masyarakat sastra agar tergugah bertanya “Apa iya, kritikus sastra begitu?”.

(3) Bagi Anda yang penasaran dengan sosok Narudin Pituin dan ingin membeli buku-bukunya silakan cari tahu sendiri di media sosial kesayangan Anda.

 

(4) Di Tegal, saya bertemu dengan Maman S. Mahayana; ia bercerita akan membuat buku putih pembelaannya yang keluar dari tim 8 penggagas buku 33 Sastawan Paling Berpengaruh, serta Mei 2016 akan mengeluarkan buku terbarunya Akar Puisi Indonesia.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s