DI MATA BUR RASUANTO, POLITIK & SOSIAL ITU…

Beberapa pekan lalu, Mahkamah Konstitusi (MK) akhirnya memutuskan hasil akhir persidangan sengketa Pilpres 2014 dengan menolak semua putusan gugatan Pasangan No. Urut 1 dan mengesahkan kemenangan pasangan Jokowi-JK di Pemilu 2014. Massa pendukung Prabowo-Hatta ricuh di sekitaran Jalan Medan Merdeka Selatan. Tetapi sia-sia. Perilaku anarkis dengan dalih menuntut ‘keadilan’ tidak mengubah apapun dari ketetapan, kecuali menimbulkan kerusakan. Sedang di ruang sidang, palu telah diketuk isyarat sesuatu telah rampung, alias tutup buku. Potret dan rekaman pada tanggal 21 Agustus lalu, meminjam istilah Bur (h. 77), mengindikasikan ketiadaan guilt culture (budaya merasa bersalah) dan shame culture (budaya merasa malu).

Dari kenyataan di atas, tak dipungkiri bahwa: menjadi presiden (kepala negara) bukan perkara yang mudah bak simsalabim tukang sulap. Ada ambisi. Terlebih mereka yang dibutakan kekuasaan, atau gila kehormatan. Akhirnya, rakyat cuma bisa memilih –tak lebih. Alih-alih kita takut nantinya kalau si anu jadi presiden, eh malah pendukungnya yang nyeremin. Atau, si anu pembawaannya santai, eh ternyata pribadinya tidak ketegasan. Di tengah republik krisis ini, kepemimpinan semakin langka ditemukan. Semampunya kita bersikap dewasa meski sering dibuat pasrah dengan keadaan, sambil berseloroh; “Pemilu bukan syarat mencukupi, tapi syarat yang perlu bagi demokrasi.” (h. 91)

Di negara besistem demokrasi: setiap orang punya hak sama untuk mencalonkan diri. Modal uang pun digelontorkan berjuta hingga miliyar jumlahnya. Pasang iklan kampanye di sana-sini. Asalkan memikat rakyat supaya jatuh hati. Kemudian dicoblos saat Pemilu. Namun, jangan lupa diawali dengan ketulusan niat, rasanya itu yang harus dikuatkan. Lalu, niat kan mengantarkan rasa kecintaan kepada negeri.Pernah di tahun 1977, ketika Orde Baru berkuasa selama satu dasawarsa lebih, Bur Rasuanto menulisdengan nyinyir. Judulnya Saya Berambisi Menjadi Presiden: dibalut cerita sastrawi. “Kau boleh bilang aku sedang mimpi,…” (h. 5)

Tulisan Bur tersebut benuansa tragedi sebelum tragedi (istilah Iwan Simatupang). Yang disinggungnya jelas, yakni kemustahilan di perpolitikan kita. Sewaktu rezim militer makin tak bisa dilengserkankepemerintahannya. Dengan kata lain, tidak ada yang mengganti jabatan yang dipimpin Soeharto(dikutip dari omongan Pangdam Brawijaya Mayjen Witarmin). Tidak seorang pun sanggup. Maka, apalah artinya pemimpi. Seakan sia-sia. Namun, pemimpi –setidaknya bagi Bur– berarti orang yang bercita-cita. Tokoh saya dalam esai Bur, meski pada akhirnya, dipaksa menyerah. Ia berhenti pada pemberitahuan Panglima Witarmin. “….mereka yang berambisi jadi presiden sudah dalam black list di tangan sang jenderal.”

Sekarang 2014. Hampir empat dekade tulisan itu dimuat pertama kali. Penerbit Kompas menerbitkan kembali  dalam sebentuk bunga rampai di harian Kompas dengan judul Saya Berambisi Menjadi Presiden, merangkum 28 artikel lainnya. Dikelompokkan menjadi dwi-tema umum; (1) Politik dan (2) Sosial. [Tulisan Bur] …mengkritik pedas praktek berpemerintah dan bernegara yang tidak sesuai dengan “teks” demokrasi pada umumnya.

Dalam riwayat hidupnya, Bur Rasuanto dikenal sebagai sastrawan. Ia ambil bagian dalam Manifes Kebudayaan tersohor di dekade 1960an. Yang mengesankan adalah cara Bur menyampaikan pendapatsedari awal kepennulisannya. Yakni, gagasan satiris dan sarkastik. Bur yang terbilang pandai pelbagai bidang; wartawan, sosiolog, pemikir yang blak-blakan –menyampaikan gagasan dengan tegas namun santun.

Saya Berambisi Menjadi Presiden mewakili aneka peristiwa aktual yang terjadi pada zamannya. Memang mayoritas tulisan mencakupi hiruk pikuk Indonesia kisaran 1070-1980an. Aktualitas buku ini dapat dirasa pembaca, bilamana tak berhenti pada konteks waktu. Sebab, itulah kenapa Bur tidak dengan membuat teks sempit. Kontekstualisasi makna dapat diresapi, ketika pembaca menemukan tiap momen mempunya arti bagi sejarah. Di suatu negeri.

Bab Politik terdiri dari 14 judul esai. Dalam Ideologi Terbuka, Ideologi Tertutup ditegaskan fasafah bernegara perlu penafsiran ulang, agar rakyat keluar dari immanensi dan melakukan transendensi. Bur tak goyah dengan amanat kebebasan itu, “… Jika tidak, maka Pancasila akan kehilangan universalitasnya, menjadi idelogi tertutup seperti fosil.” Sebab, manusia memerlukan Pulau Utopia, bukan karena pulau itu bisa dicapai, melainkan sebagai simbol harapan. (h. 13)

Namun, Pulau Utopia jangan sampai mengaburkan sejarah. Teks harus ditulis sesuai dengan peristiwa yang terjadi. Jangan dibelokkan. Ini yang dikritisi Bur dalam Gerakan Mahasiswa dan Reformasi Kebudayaan (h. 39) “… [per]gerakan mahasiswa yang di tahun 1974 itu misalnya, akan dimasukkan dalam pelajaran sejarah nasional di sekolah-sekolah.” Singkatnya, Bur sangsi apakah narasi sejarah tersebut nantinya hanya sebagai formalitas, guna menjaga stabilitas kekuasaan militer sekaligus pembatasan wacana atas penggalian sejarah resmi.

Sebab, kecemasan itu akan membawa dampak langsung pada masyarakat dalam praktik kehidupan. Sejauh mana memwujudkan civil society pabila oragnisasi-organisasi mandiri (parpol, ormas, LSM, dll) tidak hanya sebagai pelengkap dasar berdemokrasi melainkan menjadi contoh, berperan secara nyata di garis depan menyehatkan negara. Bur tak rela kita lama-lama diperdaya oleh pemerintah sendiri “….kiri maupun kanan, yang menghalau rakyat menjadi massa mohon petunjuk, monoloyalitas, masyarakat apel-kesetiaan dan serba seragam.”

Sementara itu, masalah di bidang lain belum bisa ditangani. Ekonomi yang selama ini dibangun (semasa Orde Baru –dan mungkin hingga kini) adalah ekonomi kekerasan yang kapitalistik dengan ciri: peran besar swasta, berorientasi laba, persaingan bebas, pemilihan pribadi atas alat-alat produksi dan distribusi. (h. 25)

Adapun Bab Sosial merangkum 15 esai. Karena tulisan Bur erat kaitannya dengan peristiwa aktual yang terjadi pada masanya, pembaca baragkali heran menemukan topik tentang perkelahian dalam arena sepak bola, dan babak belurnya wasit oleh penonton fanatik. Dalam Sepak Bola Mobilisasi, “Apabila sebuah kesebelasan favorit kalah, pendukungnya menjelma menjadi gerombolan tuyul pemburu nasi bungkus sambil merusak, merampas atau menjarah apa saja yang mereka temukan…..” (h. 130) Nahlo, apa bedanya dengan kasus sengketa Pemilu tadi?

Esai berjudul Wasit menyoalkan risiko yang dihadapi wasit sepak bola Indonesia. Yang mempertanyakan adakah wasit asing lebih tinggi daripada wasit lokal? Tidak begitu. Ini masalah kepercayaan, kata Bur (h. 142). “Seperti terhadap wasit pemilu dan hakim-hakim kita, kita tidak yakin wasit sepak bola kita cukup punya wibawa menegakkan keadilan. Kita yakin kejujuran bisa datang dari kelangan kita sendiri.”

Dalam hampir setiap karangan esainya, Bur menyisipkan teks-teks sejarah sebagai suber referensi. Dari pelbagai peradaban dan zaman masyarakat. Dengan ketentuan, teks tersebut pas dengan kajian yang hendak disajikan. Contoh: Tertawa di Indonesia yang mengkirtik Menteri Widjojo Nitisastro dan Menteri Soebroto karena tertawa saat mewartakan kenaikan harga minyak. Bur menyandingkan sosok Demokritus, lalu Epikurus… selanjutnya dipetik ucapan Plato: komedi sejati adalah tragedi sejati, dan sebaliknya. Bagaimana bisa rakyat susah, mereka tertawa?

Lebih kurangnya, buku bunga rampai ini bisa dijadikan pelengkap dari narasi sejarah kita, yang baru seolah rakyat bebas berpendapat sejak jatuhnya rezim Orde Baru. Khususnya bagi pembaca yang tak mengalami zaman ketika Bur menulis, buku ini hadir sebagai pengingat: di sebuah negeri demokrasi, kritik adalah kebutuhan pokok.

(Tulisan ini untuk resensi Saya Berambisi Jadi Presiden, Bur Rasuanto, Kompas, 2014)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s