IMPIAN SETIAP PENULIS & PIKIRAN SEHAT

Dari Raymond Carver, salah satu pengarang kesukaannya, Haruki meminjam judul What We Talk About When We Talk About Love. Tess Gallageher, istri mendiang Carver, berbaik hati memberi izin kepada Haruki yang memakai dan menggubahnya.

*

Apakah impian terbesar setiap penulis? Selain kesuksesan atas nasib karya, penulis ingin terus punya kesempatan menulis. Pengarang kenamaan asal negeri sakura, Haruki Murakami, berbagi pengalamannya. Haruki menulis sebuah risalah khusus perihal bagaimana impiannya sebagai penulis terawat dan tercapai. Buku, yang kemudian disebutnya memoar, itu berjudul What I Talk About Running When I Talk About Running terbit perdana 2007.

Dikisahkan bahwa keputusan bulat untuk menjadi penulis barulah Haruki tetapkan di usia 30an. Jalan kepengarangan dilaluinya cukup berat, dan ia tahu konsekuensinya. Haruki menuturkan bagaimana ia harus menutup kelab jazz yang didirikannya selepas kuliah. Kelab itu memberinya penghidupan layak. Tapi, pilihan telah dipertarukan. Pada 1981, Haruki berkata pada istrinya, “Aku memilih jalan hidup sebagai penulis,” (hlm. 38).

Tiga tahun sebelum, pada 1 April 1978 Haruki menonton baseball Yakult Swallows melawan Hirosima Carp. Yakult  Swallows tim kesayangannya. John Dave Hilton, pemain muda Yakult asal Amerika, memberi pukulan keras ke garis kiri di akhir babak. Torehan memukau itu membuat Hilton berhasil mencuri base 1 dan base 2. Haruki terpukau. Inilah momentum. Dorongan menulis datang, ‘seperti ada sesuatu yang turun dari langit’ (hlm. 33).

Novel pertama Kaze No Uta o Kike lahir di tengah kesibukan mengurus kelab. Setiap hari sangat berat, tulis Haruki. Penghargaan atas debut membuat Haruki termotivasi. Disusul sambutan baik novel keduanya, 1973 Nen no Pinbōru. Saat itu, Haruki sadar bahwa penulis selalu mengalami masalah dengan kesehatan. Oleh karenanya, kebiasaan berlari dipilih Haruki supaya kebugaran tubuhnya terjaga. Keinginan lain muncul: berhenti merokok.

Setelah merampungkan novel berikutnya, Hitsuji o Meguru Bōken, Haruki betul-betul menghentikan aktivitas merokok. Setiap bulan terpancangkan target untuk lari jarak jauhnya. Rutinitas berlari lambat laun menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Haruki mengenang betapa olah raga di sekolah umumnya selama ini dipaksakan. Termasuk bidang lari, di mana para siswa terbebani perintah guru. Inilah sindiran Haruki terhadap pendidikan jasmani.

Rutinitas berlari terus berjalan seiring rutinitas menulis. Haruki percaya metabolisme tubuhnya membaik dan efek penuaan pun melambat (hlm. 51). Sudut pandang mengambil manfaat dari berlari Haruki asosiasikan dalam jalan kepengarangannya. Tujuan berlari yang awalnya sebagai olahraga menimbulkan obsesi. Dengan berlari, Haruki menemukan suatu kebebasan, juga pemikiran baru: pemikiran yang memasok inspirasi bagi karya barunya.

Haruki syukuri kebebasannya. Ia pertegas melalui tuturan yang amat esensial dan manusiawi: “Tak seorang pun yang pernah menyarankan atau mengharapkanku menjadi novelis–malah ada yang coba menghentikanku. Menjadi penulis adalah ideku sendiri. Sama halnya dengan seseorang menjadi pelari bukan karena ada yang menyarankannya. Pada dasarnya, seseorang menjadi pelari karena memang ingin” (hlm. 54).

Akan tetapi, dunia keseharian tidak pernah luput dari kesinisan antarmanusia. Ada juga yang mencibir Haruki, buat apa “sampai segitunya ingin hidup lebih lama?” (hlm. 93). Menanggapi pertanyaan semacam itu, Haruki mengkritik balik: toh bukan alasan untuk hidup lama, melainkan karena (seorang pelari) ingin hidup sepenuh-penuhnya. Esensi berlari, singkatnya, metafora untuk menjalani hidup–yakni, perumpamaan dalam menulis (hlm. 94).

Memoar Haruki menegur stereotip penulis sastra yang kurang memerhatikan pola hidup. Keseimbangan siklus aktivitas berlari yang dipraktikan Haruki menjelma spritulitas baru. Kesan mendalam itu tampak dalam ucapannya, “Aku akan bahagia jika aku dan lari dapat menua bersama,” (hlm. 190). Berlari, secara filosofis, ibarat pengalaman eksistensial yang tak tergantikan. Setiap ayunan langkah Haruki saat berlari adalah visi hidup lebih hidup.

Semua ambisi tersebut akan berujung pada kepuasan batin. Di situlah prestasi menulis Haruki berutang pada akumulasi penempaan keras dirinya. Sebagai penulis, juga sebagai pelari. Dengan kata lain, berlari demi memenuhi target pribadi senantiasa menguji kegigihan guna menuai pelajaran hidup sesungguhnya. Suatu hari nanti, Haruki bertekad, pada batu nisan kuburnya tertulis: Setidaknya Dia Tak Pernah Berjalan Hingga Akhir (hlm. 191).

What I Talk About Running When I Talk About Running adalah memoar yang bijak. Keintiman penulis dengan pengalamannya tidak bisa tergantikan. Buku ini seperti otogiografi singkat–meskipun ditampik penulisnya sendiri–kepengarangan Haruki. Sebagai penulis yang beberapa tahun ke belakang digadang meraih Nobel Sastra, Haruki tidak abai pada kondisi fisiknya. Ia menyadari tua bukanlah artinya tidak bisa menjaga kesehatan.

Kekuatan What I Talk About Running When I Talk About Running terletak pada kejujurannya. Lapisan kisah pengalaman dunia keseharian ditulis memikat. Buku ini jauh dari kesan narsistik, sebab Haruki juga mewanti-wanti. Di balik bayang-bayang kecemasannya, Haruki menyatakan, “Aku tidak ingin terlalu banyak menulis tentang diriku,”. Buku ini tidak terlalu tebal, kata Haruki, tapi butuh waktu lama untuk menulisnya (hlm. 192).

Di akhir risalahnya, Haruki Murakami berterima kasih pada orang-orang yang telah menyemangatinya berlari. Yakni, mereka yang disebut Haruki memberi kebahagiaan paling nyata. Berlari merupakan api penyemangat Haruki untuk bersikeras atas pilihan hidup, jalan sunyi seorang penulis. Pada sampul belakang buku terpampang kutipan, “Rasa sakit itu tak terelakkan. Tapi penderitaan adalah pilihan,”. Itulah kredo menulis Haruki untuk tetap sehat!

Bayangkan, jika ada seorang kritikus dari negeri Eropa menyindir, “Apa yang bisa menandai Haruki Murakami sebagai pengarang Jepang? Karya fiksinya sangat minim unsur dan jiwa negerinya.” Pembaca sastra yang telaten mungkin balik bertanya, “Tengoklah proses kreatif Haruki: bagaimana ia menjaga spirit menulis sebagaimana merawat impiannya. Maka, apabila dirimu seorang penulis, apakah sudah membaca What I Talk About Running When I Talk About Running?

(Tulisan ini untuk resensi What I Talk About Running When I Talk About Running, Haruki Murakami, Mizan, 2016)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s