JAKARTA, IBU KOTA WACANA

Seperti dahulu, pada era 1960-an, kita mengenal dan membaca karangan Firman Muntaco yang mengisahkan realitas hidup di Jakarta dalam Gambang Jakarte (1960), kini giliran Seno Gumira Ajidarma (SGA) yang mengajak kembali pembaca–terlebih masyarakat urban kita–untuk mencermati setiap detail fenomena ibu kota secara lebih dekat. Dikehendaki atau tidaknya, semua gejala yang ada terjadi begitu cepat. Dalam kapasitasnya, boleh jadi SGA ingin menawarkan kepada pembaca semacam sketsa kekinian Jakarta. Sesekali bergaya reportase singkat, sesekali laiknya bertutur pengalaman empiris.

Tercatat sudah dua buku kumpulan tulisan dihasilkan sebelumnya yang fokus membahas Jakarta antara lain Affair (2004) dan Kentut Kosmopolitan (2008). Dalam kata pengantar, SGA menjelaskan dengan rentang periode penulisan pada 2000 hingga 2013, tetap mengacu pada cara pandang sewaktu menulis dua buku tersebut. Pertama, mengandalkan pertimbangan “akal sehat” yang dikuasai dari wacana dominan. Kedua, mencoba bersikap kritis demi menguji wacana dominan. Namun, SGA menyejajarkan kedudukan antarwacana karena proses pembacaan dapat independen dan intertekstual.

Tema dan Aneka Wacana

Tiada Ojek di Paris adalah bukti ketekunan SGA dalam kajian perkotaan, khususnya wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pendekatan studi kultural (Cultural Studies) nonakademis ia terapkan dengan  di sana-sini, pada setiap tulisannya. Nama-nama pemikir kontemporer sekaliber Barker, Saunders, Mauss, dan Bhaba kerap muncul dalam bentuk kutipan. Inilah penyajian model baru “obrolan urban” yang sangkil dan mangkus, sehingga tidak terjerumus ke gosip murahan atau buang-buang waktu belaka.

Karangan berjudul Tiga Kota Kontemporer misalnya, SGA menelisik identitas Jakarta secara geografis dan sosiologis. Tinjauannya merujuk pada kategorisasi tipe kota oleh Barker (2004); Inner City, Postmodern City, dan Global City. Di akhir tulisan, SGA cenderung menilai Jakarta lebih nyambung ke kategori Kota Pascamodern. Ia ambil contoh Los Angeles, sebagai Posmodern City, Jakarta mengandalkan buruh dan rancangan sensitif atas perubahan basis ekonomi menuju kombinasi industri yang berketerampilan rendah (hlm. 18).

Menimpali kategori Barker, SGA melalui Teater Absurd Permudikan (hlm. 47) menyatakan kehidupan di Jakarta tak ubahnya dunia pascamodernisme, di mana yang modern dan yang tradisional hidup bersama. Saat mudik Lebaran, misalnya dua wacana bertentangan: tradisi berkonteks masa lalu, kontemporer berkonteks masa kini. Sebagaimana dibenarkan oleh Georg Simmel (1950) bahwa warga kota besar mengalami intensification of nervous stimulation berupa rasa cinta kasih dan rindu kampung halaman. Itulah mengapa SGA menganggap mudik sebagai “tradisi kontemporer”. Tampak jelas dari kasus ini, akal sehat bertubrukan dengan wacana dominan.

Mayoritas tema yang digarap SGA berkisar pada diskursus transportasi, gaya hidup, mata pencaharian, komunikasi, sarana publik, dunia hiburan, dinamika budaya, dan tabiat manusianya. Tema-tema tersebut menguak gejala perilaku dari dimensi bawah sadar manusia kota, mengklarifikasi standar kenyamanan, makna, dan identitas sosial, serta mengurai tindakan emansipatoris atas ideologi yang diretas kelompok-kelompok tertentu di masyarakat lengkap dengan keberpihakan pada kelas sosial yang dibela.

Dari pengamatan di lapangan, SGA mendiagnosa Jakarta dalam situasi Indonesia dewasa ini bagaikan sebuah dunia yang orang-orangnya asyik dengan diri sendiri. Misalnya, pengukuhkan status (kepangkatan) individu jadi ukuran eksistensi tunggal di golongan kelas sosialnya. Sebuah contoh yang bernada satiris, yaitu bagi segelintir penghuni Jakarta, mobil adalah Dunia Ketiga, setelah rumah dan tempat kerja (hlm. 23). Namun, terdapat juga perihal yang positif, misalnya, pada kejujuran petugas jaga gerbang tol yang tidak terkontaminasi “kebangkrutan moral” alias berperilaku baik sebab kerapian kerjanya (hlm. 73).

Replika Hidup Pembaca

Betapapun, kumpulan obrolan-obrolan ringkas mengenai lika-liku Homo Jakartensis dan campuran lainnya (seperti sepakbola, dangdut, dan media massa) beradonan Cultural Studies terapan ini membangunkan kita dari “tidur kritis”. SGA berargumen, secara terpisah dalam satu tulisannya, bahwa upayanya tak lain “menyadarkan betapa yang kecil-kecil juga sama pentingnya dengan yang (tampaknya saja) besar-besar, yang hanya luput karena suatu kebutaan teoretis (theoretical blindness) tentang mana yang penting dan tidak penting” (hlm. 71).

Pada pencapaian ini, SGA berhasil menyelamatkan kita dari pandangan sempit dan kesimpulan hitam-putih terhadap Jakarta melalui spektrum fenomena yang luas nan beragam. Tulisannya lebih kurang membujuk kita untuk bersikap dan bertindak bijaksana, tidak asal enaknya sendiri. Dengan gaya santainya, SGA kerap bersoloroh menyentil adab manusia kota lewat istilah-istilah kejawaannya.

Tiada Ojek di Paris, pada akhirnya, memerkarakan modernisasi kota dan tahap perkembangan idealisasinya terbingkai bak replika hidup orang-orang urban, baik pikiran maupun pengalaman. Padanya, tampak masyarakat yang saling bersentuhan lewat wacana seperti tradisi, ekonomi, sosial, dan politik. Begitulah Jakarta, ibu kota tercinta, sebagai teks berwacana mengalami redefinisi makna dan karenanya kita peduli akan keberlangsungannya.

(Tulisan ini untuk resensi Tiada Ojek di Paris, Seno Gumira Ajidarma, Mizan, April, 2015)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s