JOKO PINURBO: PENYAIR MENULIS = IBADAH

Sebermula adalah etos, penghantar daya survival dalam sastra. Limapuluh tahun lalu di Sukabumi, dataran Sunda yang jelita: Penyair ini lahir ke dunia kata-kata untuk membuktikan bahwa kerja kepenyairan adalah pekerjaan yang bukan main-main. Meski kadangkala selama prosesnya berlangsung, seringkali hidup dimaknai sebagai arena bermain –di sinilah terletak maksud yang-seriusatas pemaknaan Homo Ludens.

Joko Pinurbo (degan sapaan akrab Jokpin), demikianlah kedua orangtuanya memberikan nama untuknya dengan doa. Seseorang yang di puncak kematangannya menulis puisi yang teguh, begini: Kau adalah mata, aku airmatamu. (Kepada Puisi, 2003) Demikianlah anasir tentang seorang laki-laki yang mengibaratkan puisi sebagai suaka yang otonom di tengah hiruk-pikuk kehidupan. Apapun yang dicerap oleh penglihatan adalah apapun yang senantiasa diresapi dalam hati. Dengan kata lain, seorang penyair bersikeras mengasosiasikan dunia rekaannya –sebagai induk dari bahasa– dengan perenungan kembali pengalaman yang berupa pernyataan keber-ada-an yang tak pernah usai [istilah Heidegger] yaitu puisi, sekaligus prosesi penciptaannya.

Di pengujung dekade 70an, Jokpin menginjak usia remaja di tanah Yogyakarta, sebuah kota istimewa, lalulintas kebudayaan dan kesenian. Semasa di bangku sekolah menengah, ia sangat menggemari betul sajak-sajak karya penyair Yudhistira ANM Massardi –yang umumnya bernuansambeling dengan tipikal liris. Ia ingat bagaimana puisi, ternyata bisa diselipkan unsur-unsur anekdot dan simbol-simbol yang-komikal, tanpa repot kehilangan alusi [yang oleh Goenawan Mohamad disebut:pasemon]. Jokpin mengisyaratkan bahwa karya Yudhistira ANM Massardi adalah inspirasi utamanya.Sajak Sikat Gigi, salah satu buku yang dikagumi Jokpin: menampilkan imaji yang semi-surealis, namun logis. Metafora dalam puisi Yudhistira itu segar, katanya.

Kemudian, selepas bersekolah, ia menempuh studi perkuliahan sastra Indonesia di IKIP Sanata Dharma, Yogyakarta. Sementara di Malioboro, saat itu Umbu Landu sudah tidak menetap di sana lagi. Namun, secara beruntung ia dipertemukan dengan Linus Suryadi AG –yang masyhur karena puisi epikPengakuan Pariyem– mengangkatnya sebagai pemuda tanggung yang mencintai kata-kata, menggemari bahasa.

Bermodalkan keaktifannya bergiat di ranah sastra kampus ketika mahasiswa dijadikan tempaan diri sebagai tukang syair. Tak berapa lama selepas kesarjanaan, di tahun 1986, Jokpin ikut ambil bagian dalam Tugu bersama 32 penyair Yogyakarta lainnya. Di tahun berikutnya 1987, sejumlah puisinya dimuat dalam antologi bersejarah perpuisian Indonesia modern yakni Tonggak, terangkum empat jilid. Dalam wawasan kebudayaan, Jokpin hidup di lingkungan Jawa, tapi daya ucapnya sangat mengesankan bahwa ia bagian dari Ibukota, Jakarta. “Saya tidak bisa menulis seperti Darmanto Jt. menulis sajak yang penuh dengan sempalan bahasa jawa bahkan bahasa asing.”

Kini di usianya yang kepala lima, Jokpin, disebut pula Penyair Asu, mengakui bahwa yang terpenting baginya sekarang adalah bagaimana konsitensi dalam mempertahankan puitika, dengan kata lain mempertahan pencapaian atau meningkatkannya lagi. Konsitensi seperti ini baginya, berharga bila dijadikan pertimbangan seorang penyair, terutama kalangan penulis muda. Jokpin berseloroh, “Mentalitas adalah konsekuensi penulis. Pun, etos kerja seorang penyair merupakan harga diri atas proses kreatifnya.”

*

Pekan yang lalu (20/10), Joko Pinurbo menerima redaksi Stomata Hamzah Muhammad di Wisma Universitas Negeri Jakarta, Rawamangun – Jakarta Timur. Selama hampir empat jam peraih anugerah buku terbaik Tempo tahun 2012 Tahilalat (2012), ini berceritera perihal kelanggengannya bersama puisi. Mulai dari proses kreatif, pandangannya atas kesusastraan Indonesia dewasa ini sampai impian-impian yang ingin diwujudkannya.

Terkait puisi terakhir Anda di Kompas (22/09) yang kesemuanya diberi judul awalan dengan Surat, apakah ini percobaan baru dalam metafora?

Seperti biasa, saya menulis Surat-surat itu dengan niatan yang sama seperti sewaktu menulis celana, telepon, atau ranjang. Benda-benda yang saya pakai tak sepenuhnya mengembalikan makna yang utuh dari kata, namun berimplikasi secara denotatif. Surat, bagi saya, adalah metafora yang ingin saya perdalam lagi kedepannya.

Tahun 2012 Anda mendapat penghargaan buku dari Tempo. Bagaimana perasaan Anda?

Saya rasa ini jadi bahan pertimbangan saya atas jerih selama ini. Yaitu, konsistensi. Saya pribadi tak mengira bisa dapat penghargaan yang skala nasional untuk Tahilalat. Sebab, puisi-puisi yang saya tulis di situ prosesnya memakan waktu selama lima tahun. Mungkin ini faktor usia, yang memperlambat laju kegesitan dalam menulis. Akan tetapi, justru di situ letak betapa perlunya mempertahankan puitika saya selama ini.

Pernah ada resensi yang ditulis Bandung Mawardi di Tempo bulan Maret lalu, perihalHaduh, Aku Di-follow. Bagaimana tanggapan Anda?

Ya, judul tulisan itu Berpuisi, Berpetuah. Tapi, isinya tidak sepenuhnya sesuai dengan judul tadi. Berpetuah yang dimaksud adalah ibadah lewat Twitter, mungkin. Sebab, puisi saya bukan semacam maklumat keimanan. Kalau ada yang beranggapan, hidup itu pada akhirnya kesedihan. Sekarang, bagaimana caranya saya membalik logika supaya hidup itu dirayakan. Selama hidup, kita mesti bersenang-senang –meski pintu masuknya berasal dari kesedihan sekalipun. “Saya tak pernah bercita-cita menjadi penyair. Cta-cita saya adalah menjadi puisi yang tak dikenal siapa penulisnya.”

Bisakah Anda ceritakan proses penerbitan Haduh, Aku Di-follow?

Begini. Saya memang pernah suatu kali berkeinginan mengumpulkan puisi-puisi pendek saya di Twitter. Tapi, penerbit terkait mendahului kesiapan saya itu. Di Twitter, saya seperti belajar haiku [puisi pendek Jepang]. Banyak percobaan baru di sana. Tapi, ya itu sudah jadi kemauan penerbit. Saya sama sekali tidak ikut serta dalam menyeleksi tulisan mana saja yang akan turun cetak. Niat, salah satunya, adalah untuk memperkenalkan sastra kepada pembaca dari generasi muda agar mencintai sastra. Dalam hal ini puisi.

Adakah kesulitan bagi Anda untuk menulis dengan sarana elektronik ketika, ketika ber-twitter atau berkomunikasi di dunia maya?

Saya itu sebetulnya sangat sulit beradaptasi dengan teknologi. Dulu, kalau menulis puisi mesti tulis tangan. Untungnya sekarang bisa mengatasinya, dan beradaptasi dengan komputer. Tapi saya belum bisa menggunakan telepon genggam canggih, seperti BB. Khawatir malah tak punya waktu menulis juga. Misalnya, saya tidak pernah melihat handphone Afrizal Malna. Tapi, dia begitu pandai mengupas budaya kaum urban –perkotaan yang metropolitan. Ini mungkin lagi-lagi soal kepekaan. Dan sementara ini, saya pikir masih cukup dengan komputer. Alasan yang paling mungkin, ya kebutuhan saat ini belum mendesak.

Melihat perkembangan teknologi, apa yang Anda risaukan?

Saya merasa bahwa generasi sekarang ini hidup di tengah pembauran nilai. Bermacam-macam wacana bermunculan. Sastra, contohnya. Kegelisahan saya muncul. Tantangannya, bagaimana pengarang/penulis supaya jangan sampai kehilangan kontemplasi [tahap perenungan, red] dalam menulis, supaya karyanya tidak sekadar lewat? Sebab, di dunia maya orang-orang seperti mabuk oleh keasyikannya sendiri. Keadaan yang melenakan ini amat bahaya.

Lantas, dalam keadaan sosial tersebut. Bagaimana Anda menyiasati proses kreatif sebagai penyair?

Seringkali saya mengembalikannya pada keheningan diri. Saya memilih duduk, menenangkan pikiran. Bukan tidak peduli dengan berita korupsi di televisi, misalnya. Tapi, membuat kopi itu pilihan terbaik. Kopi adalah cara bagaimana kita berdamai dengan diri sendiri. Di rumah, tiap pagi berlangsung rutinitas ini. Sambil merokok saja, sudah dari cukup. Keduanya menjadi teman akrab saya ketika menulis. Seperti terungkap di puisinya Surat Kopi: // Kopi: nama yang tertera pada sebuah nama: Namaku. // [red]

Apakah puisi itu masih perlu dicetak dalam bentuk buku, mengingat kemajuan teknologi yang serba menyediakan apa saja?

Masih perlu, tentu saja. Karena keintiman mengalami puisi saat membaca. Buat saya sendiri, buku cetak itu amat penting untuk sumber dokumentasi sejarah. Agar, masyarakat kita bisa mengulas dan melihat urutan perkembangan kepengarangan seorang penulis.

Puisi karangan Anda sendiri, mana saja yang secara pribadi Anda sukai?

Ada beberapa puisi wajib yang biasanya saya bacakan. Tentang celana dan telepon. Celana Ibu, yang mengisahkan tentang Isa yang naik ke surga dengan mengenakan celana jahitan sang ibu. Telepon Tengah Malam, yang isinya tentang kehadiran sosok ibu dalam sakit si anak. Tak semuanya itu pengalaman pribadi, tapi orang-orang juga. Saya senang menyimak cerita dari teman sejawat, dan orang-orang terdekat. Saya kira, jadi penyair harus rajin mendengar banyak hal. Supaya puisinya tidak berkisar tentang tokoh aku-penyair saja.

Dalam Celana Ibu dan Telepon Tengah Malam, racikan metafora seperti apa?

Celana, bagi saya tidak jauh berbeda dengan hujan-nya Sapardi Djoko Damono, atau Senja-nya Chairil Anwar, atau bahkan Rembulan-nya Amir Hamzah. Ia telah jadi metafora umum, yang-universal. Fenomena celana jeans yang dipakai manusia modern sekarang, saya adopsi ke dalam puisi. Sehingga pengalaman  membaca puisi, berarti pengalaman merefleksikan diri.

Apa yang Anda harapan bagi perkembangan sastra?

Ini problematika laten. Kita butuh orang-orang yang tekun, yang bisa memediasi antara seniman dan birokrasi. Diperlukan pemeta angkatan sastra, yang sanggup menjembatani antara institusi kesenian dan akademik. Singkat kata, saya berharap ada lagi yang seperti HB Jassin, atau Ajip Rosidi. Kita pun butuh kritikus garda depan, yang siap pasang badan. Sebagaimana HB Jassin yang pernah membela Chairil Anwar dan HAMKA.

Selain itu?

Tinggal tugas kita sebagai penulis yaitu mengeksplorasi lebih dalam lagi Bahasa Indonesia. Inilah harta kita sesungguhnya. Galilah terus khazanah kekayaannya, demi pengucapan baru. Saya pikir, umur bahasa Indonesia kita masih sangat panjang. Sebab, secara geografis Indonesia itu luas. Di samping itu, penerjemahan sastra Indonesia perlu dirintis kembali. Kita pernah punya pengalaman di tahun 70an: Dewan Kesenian Jakarta digawangi Ajip Rosidi gencar melakukan proyek penerjemahan sastra. Beruntung, Yayasan Lontar masih mencoba bertahan, memberikan sumbangan untuk sastra Indonesia. Meski, pihak pemerintah kita minim kepeduliannya.

Terakhir, apa cita-cita Anda sebagai penyair?

Ini pertanyaan yang sulit, sebetulnya. Tetapi, mudah saja menjawabnya. Selama saya diberikan kesehatan dan waktu. Saya mau terus menulis sebisa mungkin. Rasanya ini cita-cita setiap penyair manapun. Baju Bulan (Gramedia – 2013) yang terbit tahun ini sebetulnya ingin merangkum semua puisi saya. Namun, saya keberatan dengan tawaran tersebut. Jadi hanya puisi-puisi pilihan saja. Seperti halnya Pacar Senja (Grasindo – 2005). Pasalnya, pembukuan puisi itu secara langsung atau tidak, memengaruhi psikologi penyairnya. Suatu hari nanti, kalau memang diberi kesempatan, saya berniat membukukan semua karya dibawah judul, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi. *

SISI LAIN JOKO PINURBO

Pengarang

Pengarang, engkau sungguh sabar
menunggu ide yang tanpa kabar.
Dirimu sangat percaya diri
meskipun karyamu tidak banyak terbeli.

Jokpin berbagi cerita tentang puisi di atas. Seorang anaknyalah Paskasius Wahyu Wibisono yang menulis sewaktu masil kecil dimuat di majalah Bobo, tertanggal 27 November 2003: kurang lebih mencerminkan dirinya, sosok bapak yang dikagumi, disayangi. Seumpama buah dedikasi yang begitu manis, hubungan kekeluargaan yang hangat.

September 2013, prosa Joko Pinurbo – Laki-laki Tanpa Celana dimuat di kolom Cerpen. Menurutnya, ini adalah perpanjangan dari puisi yang pernah dibuatnya dengan judul yang sama. Termuat dalam Telepon Genggam (Kompas, 2003). Melalui penuturannya; “…menulis cerpen sebetulnya mudah seandainya sudah ada alur, dan plot. Tapi lebih susah lagi menulis puisi, yang tak beralur –tak disangka akhirnya. Dan ternyata persoalannya terletak pada, saya lebih terbiasa menulis puisi.”

Joko Pinurbo lahir di Sukabumi, Jawa Barat, 11 Mei 1962; tinggal menetap di Daerah Istimewa Yogyakarta. Belajar berpuisi sejak akhir tahun 1970-an. Buku kumpulan puisinya: Celana (1999), Di Bawah Kibaran Sarung (2001), Pacarkecilku (2002), Trouser Doll (terjemahan Celana; 2002), Telepon Genggam (2003), Kekasihku (2004, cetak ulang 2010), Pacar Senja (Seratus Puisi Pilihan; 2005), Kepada Cium (2007), Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (cetak ulang tiga kumpulan puisi, 2007),Tahilalat (2012), dan Baju Bulan – Seuntai Puisi Pilihan (2013). Penghargaan yang telah diterimanya: Penghargaan Buku Puisi Dewan Kesenian Jakarta 2001, Hadiah Sastra Lontar 2001, Sih Award 2001, Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001, Penghargaan Sastra Pusat Bahasa 2002, Khatulistiwa Literary Award 2005, Karya Sastra Pilihan Tempo 2012.

(Tulisan ini untuk rubrik Tokoh buletin Stomata Edisi III, Desember 2013)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s