LIMA TESIS UNTUK TANDA-TANDA YANG BIMBANG

Tanda-tanda yang Bimbang (TTYB) yang terbit medio 2013 buah tangan penyair Ook Nugroho yang merupakan anak keduanya setelah Hantu Kata (2010). Perbandingannya, terletak bagaimana Ook Nugroho dalam TTYB cenderung leluasa mengungkapkan kemungkinan artikulasi bahasa. Sehingga, ngunyah TTYB tidak sealot Hantu Kata. Salah satu penyebabnya karena teks lebih terbuka untuk ditelisik.

Berbeda dari Hantu Kata, TTYB bernuansa segar. Kata-katanya plastis. Kelenturan pelbagai wacana dijajal. Pun, lanskap penghayatan dunia secara tatanan puitik diperluas. Dalam TTYB, puisi bagaikan tidak perlu khawatir kehilangan rima, atau kepadatan isinya. Hal yang sebaliknya terjadi pada Hantu Kata.

Melalui tahap pembacaan yang intens terhadap TTYB.  Pembaca kiranya menemukan beberapa tesis, yang hemat sayasetidaknya berjumlah lima, mendominasi peranti andalan puitika Ook Nugroho antara lain (1) Puisi adalah repetisi tema; (2) Penyair adalah subjek akudi pinggir tema; (3) Penyair baik adalah yang tahu di mana akhir kata-kata; (4) Puisi terdapat alter ego penyairnya; dan (5) Puisi sebagai imajinasi kanak-kanak.

Terkait tesis pertama, membaca TTYB mengingatkan kita pada esai pembuka Budi Darma dalam kumpulan cerpennya Orang-orang Bloomington (1980), yakni “Prakata: Mula-mula adalah Tema”. Menurut Budi Darma, tema membantu untuk proses pembuatan cerita, penguatan ketokohan fiksi. Dengan tema, prosa akan jadi konkret. Ibarat sumur tanpa dasar. Sedangkan, untuk kasus penyair–seperti Ook Nugroho, tema ditenggarai layaknya siasat. Sehingga, puisi maklum didapati sebagai pengulangan-pengulangan bahasa yang bergelimang tanda. Seperti yang termaktub dari puisi pembuka; / Nyatalah / Kita hanya mengulang tema / Seperti dalam sebujur sajak / Seraya menorehkan judul / Penanda tak pasti / Di lekuk-lekuknya (Memulai Hari, hlm. 9).

Kutipan Memulai Hari di atas menghantarkan asumsi bahwa puisi disukmai sebagai kedatangan. Perilah yang mungkin disebut sebermula. Ia mewujud wahyu, sifatnya apokaliptik dan transendental. Sehingga terkesan ada hubungan luhur yang hanya sanggup dimengerti si puisi dan si penyairnya. Sesuatu yang irasional. Ia mungkin menjelma istilah lain atas proses kreatif. Akan tetapi, tampaknya melebihi hal itu. Seperti hasrat yang tak mumpuni diterima akal sehat. Tengoklah puisi Dalam Tidur yang menampilkan aku-si penyair yang berkeinginan ketemu dan terus menulis sajak–tiap keadaan tak-sadar sekalipun. Di tahap ini, Ook Nugroho sederhananya menulis puisi tentang puisi.

Tesis kedua, yaitu penyair sebagai subjek aku di pinggir tema. Dibuktikan apabila kita membuka daftar isi. Di sana terdapat partisi bagaimana buku TTYB terbagi menjadi empat bagian; (a) Separuh Puisi, yang mengandung relasi puisi dengan dunia penyairnya; (b) Jagal Jumat, yang berisikan respon puitik atas tragedi teror bom Hotel JW Marriot & Ritz–Carlton tahun 2009; (c) Tema Insomnia, yang berkisar tentang keadaan nokturnal di mana pikiran serta imajinasi penyair terjaga; dan (d) Lampiran: Pelajaran Dasar Bermain Bidak, yang mayoritas dipenuhi personifikasi kebendaan di bidang olahraga catur, ditambah dengan nukilan singkatriwayat/potret pecatur kenamaan dunia.Di bagian pamungkas itu, Ook bermain gonta-ganti posisi aku-lirik.

Selanjutnya dalam puisi Pelajaran Menulis Puisi, subjek aku-penyair memilih keheningan dan secangkir kopi sebagai teman di tempatnya berpijak meminggir. Penyair berlindung dalam naungan malam. Ia menepi mempelajari lalu mengakrabi sepi, agar nantinya mancapai keutuhan diri yang paripurna: “Penyair yang mahir paham sungguh di mana berakhir kata-kata” (Melukis Laut, hlm. 13).

Adapun tesis ketiga, pembacaan terusan dari tesis sebelumnya. Ook Nogroho menghadirkan tahap inti dari kelahiran puisi. Terlukis dalam Patung Penyair, yang hendak diungkapkan bahwa penyair baik pula ia yang serius pada kata. Sebab, kata tak ditampik seumpama dunia di mana aku-penyair memasuki secara tak sengaja namun seolah-olah permainan yang meminta nyawanya. Dengan kata lain, perjuangan keras tersebut menjadi upaya demi sekilat terang dalam gelap guha bahasa.

Namun, apa daya. Ternyata, sebuah kelahiran puisi, bagi Ook Nugroho, pun mengindikasikan kelenyapannya (negasi atas Memulai Hari di mana puisi berarti kedatangan) Jika direfleksikan ke tesis pertama yang sudah dikaji, hal ini semacam paradoks. Namun, paradok yang wajar. Selama berusaha menjadi mahir, sang penyair–sebaik apapun– akan mendapati karyanya sebatas materi tulisan yang separuh puisi dan separuh lagi tertahan sunyi.Singkatnya, yang ditekankan di sini, barangkali ketiadaan yang-paripurna dari proses kreatif. Sebab, kerap dalam jerih payah, umumnya penyair akan “menyerah pada sejumlah tanda tanya, yang membawa kisah pada semacam kebuntuan tema” (baca: Dongeng Mudik 2, hlm. 54).

Maka dari itu, tak mengherankan apabila pembaca menemukan self-portrait aku-penyair berseliwer di antara puisi yang dikarangnya. Mulailah masuk ke tesis keempat, yang mengatakan kalau puisi terdapat alter ego penyairnya. Puisi Telur (hlm. 31), contohnya; / Apakah aku semacam / Bebayang bagimu, teka-teki / Silang dengan kotak-kotak jawaban / Yang tak pernah cukup? /.

Dalam Telur, Ook Nugroho tampil sebagai subjek yang samar. Ia menjelma bayang yang misterius. Sukar ditebak seperti teka-teki. Bukan begitukah puisi ada? Sekalipun, pembaca punya pretensi miring tentangnya. Masih di puisi yang sama, selanjutnya tertulis: / Sangkamu betah aku / Ngendon berlama-lama / Di gerah pengap kitab, terpisah / Dari dengus sejarah?/. Selain itu, puisi Turis menyuguhkan pemaknaan total guna menjawab tesis ini. Sang penyair ditasbihkan ibarat the nowhere man. Bagaikan seorang pelawat, yang berkelana tanpa tahu di mana ujung dunia. Tengok pula judul Dalam Setiap Sajak, bunyi mukadimahnya begini; “. . . Selalu ada bayangan seorang lelaki yang gemar berlagak dan mengaku saya,”

Tesis penutup yakni siasat ke-lima untuk membaca TTYB, perihal imaji kanak-kanak yang sebetulnya mengembalikan pembaca ke tesis pertama: bahwa puisi adalah repetisi tema. Ook Nugroho memilah-milah kepolosan yang wajar. Dengan diksi yang ajaib seperti “Pulang ke desa Sumber Sunyi, menemui lagi / Sanak keluarganya masih imut-imut sepi.” (Dongeng Mudik 1, hlm. 53), atau “Dalam bermain / tak suka saya terburu / Orang menyebut gaya saya ini / Gaya laba-laba” (Jejaring Bidak Tuan Kaprov, hlm. 78).

Dengan demikian, lima tesis di atas niscaya dapat membantu pembacaan Tanda-tanda yang Bimbang. Sebagai teks puisi, yang asyik untuk diinterpretasi. Agar terus didekati, diperbaharui dengan tafsir yang lebih tak-terduga lagi.

(Tulisan ini untuk resensi Tanda-tanda yang Bimbang,  karya  Ook Nugroho, Kiblat Buku Utama, Juli, 2013)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s