MENJINAKKAN KAPITALISME DENGAN BUDAYA

“Budaya hidup lebih ini adalah salah satu cara memandang dan melakoni hidup   dengan sebuah nilai dasar di mana kita berhak bahkan wajib memperoleh atau berusaha mendapat lebih dari apa yang telah kita miliki.” [RDP, hlm. 154]

Lewat pengamatan intensnya yang tertuang dalam “Ekonomi Cukup, Kritik Budaya dalam Kapitalisme”, Radhar Panca Dahana (selanjutnya ditulis Radhar), yang mengambil posisi sebagai “kuncen” budaya, menegaskan sikap antagonistiknya terhadap kapitalisme. Buku ini merupakan pembatalan atas kaidah dogmatik ilmu ekonomi (konvensional) selama ini yang dianut dan cenderung mengafirmasi serta mengunggulkan golongan kapitalis.

Dengan dipenuhi bekal kesiagaan, baik pikiran maupun pengalaman empiris, Radhar menyentak pikiran kita untuk bersikeras menyoalkan kembali semangat dan penghayatan Nasionalisme Ekonomi, yang sejak lama dikonsepsikan Sukarno dan Hatta. Sebab, hingga detik ini kepentingan kapitalisme imperialistik, dalam kapasitas dan kuasa sangat besar, sedang blusukan dengan berbagai perangainya. Pendekatan analisa Radhar atas ekonomi menukik dari perbincangan warung kopi sampai ulang-alik ke simposium kebudayaan yang serius.

Sebelum kritik bertubi-tubi, Radhar menggarisbawahi inti pikirannya. Baginya, ekonomi tidak dapat dipisahkan dalam kerja kebudayaan dari bangsa. Kerja ekonomi tidak cuma merupakan produk kultural utama dalam masyarakat mana pun, melainkan juga karena dalam perkembangan zaman, salah satu produk kebudayaan ini telah mengambil (tepatnya merebut) peran yang sangat signifikan bahkan vital bagi keberlangsungan (daya) hidup sektor atau dimensi hidup sosial kultural lainnya (hlm. x).

Lantas, bagaimana caranya menjinakkan kapitalisme? Jawabnya bisa mudah di mulut, tapi sulit dalam perwujudannya. Masyarakat kita harus lebih dahulu memahami kapitalisme itu sendiri sampai ke akarnya. Kapitalisme yang tak disadari ancamannya itu membangun budaya ekonomi subordinasi, yang membedakan mana “tuan”, mana “hamba”. Yang secara definitif tidak lebih dari suatu sistem nonemansipatif, alias feodalistik. Ini hal krusial yang disinggung Radhar sebagai masalah pokok bangsa kita tak lain underdog mentality.

Masalah yang disinggung Radhar sebelumnya mengindikasikan perihal kurang adanya sinergi ekonomi di negara kita. Pembacaan budaya (atas ekonomi) yang absen menyebabkan pemerintah resmi terlanjur dan berlarut dalam mental kalahan. Krisis seperti ini adalah krisis ekonomi konvensional, sekaligus ekonomi kontemporer. Rakyat tidak bisa berbuat apa ketika mengetahui pembeberan konspirasi antara Trio P (Pengusaha, Pemerintah, dan Parlemen) (hlm. 14). Pada yang konvensional, modal pembangun kita melulu dari utang luar negeri. Pada yang kontemporer dinyatakan bahwa situasi bangsa kini dihuni “manusia tempe” (hlm. 52).

Dalam esai pembuka, Sri Edi Swasono menilai Radhar bersikeras mengajukan solusi alternatif, yaitu “ekonomi cukup”. Maksudnya adalah menghentikan tingkat kesenjangan antara si kaya dan si miskin. Kapitalisme nyatanya sudah meraksasa, tetapi masyarakat terlalu kecil di hadapan sistem ini. Maka, “jalan keluar” yang tepat guna adalah penyadaran kebudayaan. Sebab melalui kebudayaan, kita dapat mentransformasikan cara pandangan yang selama ini dibiarkan tercela karena manusia diasosiasikan sebagai homo economicus, bukan sebagai homo humanus. Bahkan menuju homo ethicus, homo socius, dan homo religious (hlm. xxiii).

Selanjutnya, “ekonomi cukup” Radhar ini menentang keras sistem kapitalisme sebagai penyebab awal terjadinya ketimpangan struktural yang dilegalkan, bertambah semaraknya, dengan laissez faire (pasar bebas). Artinya, laju pembangunan ekonomi kita sepatutnya dikaji ulang, siapa saja “mereka” yang mengatasnamakan negara, padahal swasta dan “mereka” yang memang jelas berkepentingan untuk rakyat. Sehubungan dengan itu, pembangunan jangan cuma dilandasi motif mencapai nilai tambah ekonomi, melainkan juga nilai tambah sosial kultural.

Di samping itu, masyarakat kita yang menganut mutualisme, kegotongroyongan, serta sama rasa seakan “dilupakan” bahwa selama ini berada di antara belenggu paradoks kapitalisme global. Radhar mengajak kita mengenali lagi “siapakah kita” dalam hakikat dan akar historis manusia bahari sebenarnya. Di tengah kondisi mutualisme demokrasi dan kapitalisme, ia juga mengimbau kita supaya waspada terhadap kemungkinan terburuk seperti yang pernah terjadi pada masa kejatuhan Orde Baru. Kita harus mengambil jalan kebudayaan, yakni jalan yang bagi Radhar merupakan usaha memperjuangkan kedaulatan manusia atas dirinya sendiri.

Menanggapi kenyataan tersebut, bab empat buku ini membahas solusi riil yang dapat dipraktikkan dalam kehidupan berbangsa. Dalam bab yang diberi judul “Ekonomi Cukup Hidup yang Dicukupi dan Mencukupi” ini, Radhar secara terpisah memetakan enam tindakan ekonomi alternatif bagi masyarakat kita antara lain, (1) hindari pola “hidup lebih” sebagai penggeser mental dan tradisi, (2) jalani “hidup cukup” sebagai moralitas ekonomi modern, (3) realisasi praktik bisnis yang corporate culture responsibility, (4) produki karya kreatif dengan ide kebudayaan, (5) sikapi ekonomi mutakhir dengan osmosis intelektual kultural yang baru, dan (6) benahi moralitas dan kesadaran keliru tentang kemiskinan bersama.

Dalam ulasannya, Iwan J. Kurniawan menyebut Radhar memfokuskan perhatian utamanya pada kritik pembangunan yang sering kali menjadi proses penggusuran orang miskin, bukan menggusur kemiskinan. Artinya, yang miskin akan tetap miskin. Di taraf itulah, kaum pemodal tersenyum dengan rasa tidak bersalah. Moralnya ambruk, seolah ekonomi negara berjalan sehat. Oleh karenanya, Radhar mengembalikan gagasannya pada cita-cita keadilan sosial yang termaktub dalam Pancasila. Realisasi cita-cita ini harus diimbangi dengan pemahaman bahwa kita adalah masyarakat bahari Nusantara.

Dengan pemahaman tersebut, kebudayaan bergerak ambil peran untuk menekankan aktvitas ekonomi bukan wacana bagaimana bertahan hidup, tetapi juga memenuhi ekspresi dan aktualitas diri, serta ritus yang spiritual. Singkatnya, Radhar tidak ingin minoritas kaum pemodal terus menerus asoy geboy membelenggu ‘mayoritas yang dimiskinkan’.

Buku ini adalah sebuah pertanggungjawaban “khusus” Radhar selaku kuncen budaya dan kontribusi cemerlang yang memperluas perspektif baru kita terhadap ekonomi. Gagasannya mengembalikan bayangan kita akan bangsa yang rukun dan sejahtera di mana  aktivitas pekerja ekonominya tidak mengeksploitasi diri(nafsu)nya sendiri, juga lingkungan sekitarnya, tetapi mengekplorasi potensi atau kemungkinan terbaiknya untuk memenuhi keperluan manusia (hlm. 1). Begitulah, Radhar mengajak kita terlibat dalam menyelamatkan moralitas budaya agar kita berkata “cukup” pada praksis ekonomi yang berambisi “lebih”.

Akhir kata, dalam konteks yang paling sulit boleh jadi kapitalisme laissez faire mungkin amat tangguh untuk ditaklukkan, tetapi menjinakkannya adalah pilihan tepat. Salah satunya, yaitu melalui penegakan konstitusi. Upaya ke jalur konstitusi ini, bagi Radhar, bersifat kultural ketimbang politis. Dengan kata lain, kebudayaan menjadi kunci mencapai kedaulatan manusia, baik dalam segi hidup pada umumnya maupun berekonomi.

(Tulisan untuk resensi buku Ekonomi Cukup, Kritik Budaya dalam Kapitalisme, Radhar Panca Dahana, Penerbit Buku Kompas, Maret, 2015)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s