MENULIS = ADA

Pernahkah suatu hari kita dihadapkan dengan keadaan di mana pikiran bekerja sangat cepat ketika kedua mata terus melotot memandangi layar gawai pintar? Keadaan demikian kapan saja terjadi, saat bersantai di kursi malas, atau berdiri di bis dalam perjalanan pulang beraktivitas & bekerja? Di era media sosial hari ini, segalanya bersikeras ingin dibahasakan. Segala yang tersaji meminta supaya dibaca: mungkin setelah itu dipercaya. Dan berkat karunia kedua mata itulah, modal pengamatan, kita dapat keluar masuk arena informasi. Dari wacana sampailah ke peristiwa. Akan tetapi, cukupkah kita hanya menjadi pembaca?

Jawabannya mudah. Tidak. Namun, kenyataannya tak sesingkat itu dapat dipahami. Lagi pula bacaan bagus seperti apa belumlah kita persoalkan di sini. Fredric Jameson telah mengisyaratkan situasi di atas. Dunia sekarang ini bagi masyarakat yang maju terasa pengap oleh pesan dan informasi sehingga alam seakan-akan dilenyapkan. Inilah dunia dengan gejala fenomena orang membaca, tetapi seperti tidak membaca. Kita mungkin hanya lenyap, mencebur ke ranah virtual yang dihadirkan teknologi. Maka beginilah kesibukan membudaya, yakni kesibukan menerima pengetahuan. Pengetahuan yang kadang tidak perlu definisi, tetapi hadir tanpa kita bersikeras mencari.

Walter J. Ong pernah berkata pengetahuan di masa depan adalah apa-apa yang tertulis. Bukan melulu terejawantah berupa apa yang-lisan. Ia yakin, seperti juga Frederic Jameson, persentuhan kita dengan alam adalah pengalaman fisik yang masih mentah. Teks dalam wujudnya yang esktrem sekalipun dapat menjelma pembenaran atau pembatal, berfungsi demi terjadinya perpanjangan dari apa yang kasat mata dan apa yang paling bisa dilisankan. Lihatlah media sosial, kita tak sedang menyimak orang bicara. Melainkan orang menulis. Di sana, kita temukan realitas jamak, yang mengakselerasi jarak di sini dan di sana. Realitas dengan korpus pengetahuan yang dikuasai oleh mereka penulis. Kejadian di negara Eropa diterima dalam sekejap, dan jika ikut menanggapi dengan kemampuan bahasa yang ada, telah membuat kita mengambil bagian dari arus pengetahuan.

Bagaimana cara menanggapinya ya sejauh yang kita tahu atas bagaimana menciptakan bahasa. Selama kita mau keluar dari penjara bahasa, mau beranjak dari status nyaman seorang pembaca. Meskipun, mungkin ada anggapan membaca tak lain membuka jendela dunia, kita tetap harus pergi keluar rumah, bukan? Untuk menemui hidup sebenarnya yang memang diasosiasikan sebagai rumah. Hidup yang sepatutnya dibarengi konsekuensi manusia informatika dengan kesibukan baru. Kesibukan yang tak cuma memandang gawai. Yaitu, menulis. Inilah kebiasaan terpenting dari tabiat reproduksi bahasa diintertekstualisasikan agar pengetahuan tak berhenti, tidak lewat di mata kita dan terlupakan oleh pikiran. Dan pengalaman ikut campur.

Lantas, mengapa harus menulis? Seorang penulis pada mulanya mengandalkan ingatan dan serta pengalaman. Dalam proses kreatifnya, ia tak ingin diam. Kalau boleh dibilang, mungkin seorang penulis adalah orang punya omongan, dan dengan sadar ia melisankan persoalan yang disenangi atau digelutinya dalam wujud teks. Kekuatannya adalah daya cipta bahasa. Barangkali ini pasalnya Jonathan Culler menegaskan, “Ia yang tidak menulis, ia yang tak secara aktif beraksara dan bekerja dalam sistem ini akan ditulis oleh sistem itu sendiri. Ia menjadi buah produk dari kebudayaan yang tidak dikuasainya.” Artinya, seorang penulis yang baik tidak rela dirinya mengalami hidup sebatas lahir-mati, tetapi melanjutkan amanat kesejarahan manusia. Sehingga menulis itu tolok ukur manusia yang berpengetahuan. Lebih-lebih, menulis adalah proyek besar peradaban.

Kesempurnaan tafsiran kita dari kesibukan membaca teks dan mengalami peristiwa di masa sekarang ini belum utuh jika tak dituliskan kembali. Kesadaran dan kepekaan penulis dituntut untuk cekatan: kesadaran yang menghasilkan pengetahuan sebagai miliknya sendiri dan orang lain. Seorang penulis yang merintis jalannya sebagai pembaca tidak puas dengan memiliki bacaan tersebut, maka ia membuat penafsiran dalam tulisan. Di tahap itulah, yang bertambah progresinya adalah persediaan pengetahuannya bukan bacaan itu sendiri. Dengan begitu, setujulah kita kepada Robert Scholes yang menyebut manusia hakikatnya pemerhati manusia tidak sekadar karena ia berpikir, tidak pula membaca, melainkan karena ia menulis: karena ia menghasilkan karangan.

Tanpa tulisan, lanjut Ong, kita yang tergolong kaum aksara ini tidak mampu berpikir sebagaimana yang biasa dilakukan, bukan hanya ketika menulis tetapi juga saat tengah menyusun pikiran dalam bentuk lisan. Komunikasi purba kita tetap jalan. Untuk itu, kaum terpelajar sering menjumpai orang-orang yang tidak punya kecakapan bicara, meskipun diri mereka telah banyak pengalaman membaca. Bahkan, dalam konteks masyarakat teknologis, tulisan benar-benar merepresi manusia untuk menjadi artifisial, terasing dari dirinya sendiri. Maka amat diperlukanlah bagi seorang penulis semacam kesadaran untuk menyuarakan bahasa dinamis yang babak belur terkoptasi teknologi digital, tanpa mereduksi pengetahuan di ruang sosial. Contoh kecilnya, jika Anda follow Twitter penulis: bacalah juga buah pemikiran dan gagasannya. Tak elok bergantung pada cuitan-cuitan 140 karakter.

Dengan bekal kemauan dan teknik literernya, seorang penulis mentranformasi diri. Dari pembaca, ia menjadi penutur aksara. Kelisanan sah dilanggengkan selama pengetahuan tidak mentok sebagai rujukan utama. Seorang penulis membuka cakrawala pikirannya agar tidak sempit. Segala teks diserap-olah dengan skeptis. Perbandingan demi perbandingan dari referensi dapat menguatkan dan mempertajam gagasan. Dan melalui koridor keilmiahan, pengetahuan dicatat sebagai teks yang serius. Kecuali di bidang kesusastraan, aneka teks punya kesempatan sama melampaui batasan: benteng kekakuan ilmu. Tulisan ini mengandung curiga: apakah kita pembaca tanpa tafsir, dan berujung pada gosip? Scribo Ergo Sum.

(Tulisan ini untuk materi penulisan di Orientasi Calon Anggota Baru LKM UNJ, Oktober 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s