NASIHAT IBU, CERITA PENYAIR, DAN SEBUAH BUKU

Korrie Layun Rampan adalah pengecualian dalam sastra Indonesia. Saya pertama kali mengenal namanya sebagai kritikus sastra. Ketekunannya semasa hidup berkecimpung di dunia sastra di tanah perantauan mengantarkan dirinya sebagai salah satu tokoh penting dalam sejarah sastra nasional kita. Menginjak usia remaja, Korrie memutuskan kuliah di Yogyakarta pada awal 1970an. Ia merantau dari tanah asalnya Borneo. Di Yogya, Korrie bertemu presiden Malioboro Umbu Landu Paranggi. Persada Studi Klub menjadi arena rintisannya menulis. Di antara rekan segenerasinya seperti Emha Ainun Najib, Linus Suryadi AG,  Achmad MunifArwan Tuti ArthaSuyono Achmad Suhadi, R.S, Eko Tunas, dan Ebiet G. Ade, Korrie yang paling rajin mengumpulkan kliping surat kabar. Ia mencontoh etos kerja seorang dokumentator. Diam-diam ia menulis esai lepas. Tulisan nonfiksinya seperti resensi atau telaah sastra yang tersebar di media massa tidak dibebani teori. Pendekatannya mirip H.B. Jassin yang berdasar pada pembacaan intens. Korrie bagian dari intelektual yang tangguh bukan karena gelar akademik, melainkan ketekunan. Sebab, dunia sastra ia gemari dengan kecintaan. Berkat kecintaan tersebut, ia banyak mencoba pelbagai karangan dari puisi, cerpen, novel. Risiko terbesar yang diambilnya adalah menerjemahkan sastra luar. Di suatu acara pada 2012 seniman Eko Tunas pernah berkisah kepada saya pengalamannya di Malioboro, “Korrie itu kalau lagi kumpul suka nenteng plastik yang isinya buku-buku dan menjepit koran di ketiak.”

*

Saya ingat percakapan dengan Ibu pada Juni 2011. Ketika itu saya (baru menyukai sastra) memberinya novel Upacara Korrie Layun Rampan: sebagai bentuk hadiah karena sejak tahun sebelumnya Ibu meminta agar dicarikan buku tersebut, terlebih saya manfaatkan sebagai ucapan maaf karena jarang pulang ke rumah. Sewaktu kuliah dulu, tukas Ibu, Upacara menjadi bacaan wajib. Dalam ceritanya, Ibu bilang Korrie adalah pengarang favoritnya sejak SMP. Saya menyimak. Katanya lagi, cerpen-cerpen Korrie bagus lantaran sarat akan tema kematian. Ibu membujuk saya agar membaca karya Korrie. Suatu hari, sepulang dari bazzar buku di Senayan Ibu menunjukkan cerpennya Acuh Tak Acuh. Saya mengiyakan. Tapi, seperti judul buku itu, ketidakpedulian saya kembali terulang. Secara pribadi, prosa itu bacaan sulit dan (waktu itu) saya menganggap enteng. 19 November lalu, Korrie meninggal dunia. Saya takut menyampaikan kabar duka kepada Ibu. Karena kematian bukan lagi fiksi bagi Korrie. Seorang teman baru-baru ini menawarkan salah satu kumcernya Malam Putih, saya jawab nanti dulu. Biar kenangan bicara apa adanya. Disertai sesal, berikut apologi kemalasan saya membaca prosa. Bagaimana pun juga, sebuah obituari harus ditulis.

Jujur, saya baru membaca Angkatan 2000. Ingatan saya putar ke belakang. Pada Januari di tahun yang sama percakapan Ibu, saya secara khusus melawat ke Yogyakarta untuk bertemu penyair Boedi Ismanto. Di rumahnya, mas Boedi menunjukkan bunga rampai esai kritik sastra Korrie yang terbit pada 1980an. Dalam buku tersebut terdapat ulasan dan apresiasinya mengenai puisi karya sastrawan dari berbagai daerah. Saya membacanya. Buku itu berwarna hijau. Saya lupa judulnya. Boedi berujar, “Korrie adalah kritikus yang tidak dibebani teori, dan ia seperti orang Yogyakarta.” Korrie menyukai puisi Boedi tentang laut. Lantas Boedi menunjukkan puisi yang dimaksud Korrie yang ternyata ia pajang dalam bingkai di satu sisi dinding ruang tamu. Indah sekali, tapi getir. Lagi-lagi karena ada maut dalam puisi yang ditunjukkannya. Saya mencoba mengingat susunan diksinya, tak sampai hati. Sebab Boedi telah lebih dahulu pergi sebelum Korrie. Ia wafat saat beberapa menit sebelum membaca puisi di acara peluncuran antologi Dari Negeri Poci 4 di Tegal, Mei 2013.

Maka saya mengandalkan penelusuran biografi singkatnya. Pelacakan yang diperoleh dari halaman demi halaman paling belakang buku atau referensi leksikon pada umumnya. Korrie dilahirkan di Samarinda, Kalimantan Timur 17 Agustus 1953. Namun, perantauan Korrie ke Jawa, mungkin bagi Boedi, adalah kelahiran seorang penulis, seorang sastrawan. Ayah kandung Korrie bernama Paulus Rampan dan ibunya Martha Renihay-Edau Rampan, beretnis Dayak. Jelas sekali Korrie asli Kalimantan, tapi rintisan karier kepengarangannya tidak bermula di sana. Dan Yogyakarta waktu itu rumah kreatif bagi para sastrawan. Pada 1978 Korrie pindah ke Jakarta dan memilih terjun ke jurnalistik, ia bekerja sebagai wartawan dan editor di beberapa penerbit buku. Korrie sempat juga menjadi penyiar di RRI dan TVRI Studio Pusat dan menjabat Redaktur Pelaksana majalah Sarinah, Jakarta.

Sejak Maret 2001 Korrie menjabat Pemimpin Redaksi Koran Sendawar Pos yang terbit di Barong Tongkok, Kalimantan Timur. Di samping itu, ia juga sempat mengajar di Universitas Sendawar, Kutai Barat. Dalam Pemilu 2004, ia sempat duduk sebagai anggota Panwaslu Kabupaten Kutai Barat, tetapi kemudian mengundurkan diri karena mengikuti pencalonan anggota DPRD. Oleh konstituen, ia dipercayakan mewakili Kabupaten Kutai Baratperiode 2004-2009. Sebagai anggota DPRD, Korrie menjabat sebagai Ketua Komisi I. Meskipun telah menjadi angota DPRD, Korrie tetap aktif menulis karena tugasnya sebagai jurnalis dan duta budaya. Berbagai karya telah ditulisnya berupa novel, cerpen, puisi, cerita anak, dan esai. Korrie menerjemahkan sekitar seratus judul buku cerita anak dan puluhan judul cerita pendek dari para cerpenis dunia, antara lain Leo Tolstoy, Knut Hamsun, Anton Chekov, O’Hendry, dan Luigi Pirandello. Novelnya, Upacara dan Api Awan Asap meraih hadiah Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta 1976 dan 1998. Sejumlah cerpen, esai, resensi buku, cerita film, dan karya jurnalistiknya mendapat hadiah dari berbagai sayembara. Beberapa cerita anak yang ditulisnya ada yang mendapat hadiah Yayasan Buku Utama, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, yaitu Cuaca di Atas Gunung dan Lembah (1985) dan Manusia Langit (1997). Di samping itu, sejumlah bukunya dipakai sebagai bacaan utama dan referensi di tingkat SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi, di antaranya Aliran-Jenis Cerita Pendek.

*

Ah, sudah kelewat panjang saya mengutip. Baiklah, jurus selanjutnya adalah menutupi keterbatasaan bacaan. Tulisan ini sempit. Saya membumbuinya dengan pengalaman. Penyair Adri Darmadji Woko pernah memperlihatkan kepada saya buletin 80 terbit di antara tahun akhir 1970an. Bentuknya seukuran Stomata. Menurutnya, buletin tersebut merupakan upaya Korrie mencetuskan Angkatan 80 dalam sastra Indonesia. Buletin 80 dicetak terbatas dan tidak berlangsung lama. Hanya beberapa tahun, tidak lebih dari lima. Saya menilai Korrie memandang sejarah sastra secara diakronik. Ia meniru semangat H.B. Jassin dalam kehendak membuat periodisasi atau suatu angkatan sastra. Motif Korrie boleh jadi mengikuti prasaran H.B. Jassin yang pernah mengatakan bahwa setiap lima belas tahun akan muncul generasi sastra baru. Sejarah baru. H.B. Jassin melontarkan anggapannya itu untuk memperkuat tinjauannya atas Angkatan 66 yang dijadikan tonggak baru, dengan latar perubahan konstelasi politik Orde Lama ke Orde Baru. Dari satu bukunya yang saya baca, yaitu Angatan 2000 tampak kecenderungan pemetaan sastrawan dibuatnya sesuai pembabakan dekade dan estetika.

Dalam pengukuhan Korrie, sejarah sastra Indonesia hari ini berhenti di Angkatan 2000. Yaitu, generasi yang dikelompokkan yang terdiri dari sastrawan praReformasi 1998. Korrie mengumpulkan pengarang yang sebagian besar memang sudah menulis sejak dekade 1980an hingga 1990an. Sampai hari ini, belum ada kritikus yang membuat pengukuhan baru terhadap angkatan sastra Indonesia. Yang jadi pertanyaan, apakah hari ini dibutuhkan angkatan sastra? Dengan buku Korrie, dapat disejajarkan kehendak yang sama antara Korrie dan H.B. Jassin. Angkatan 2000 disinyalir sebagai respon dari peralihan kekuasaan politik Orde Baru ke Reformasi. Secara teoretis, sejarah sastra mempunyai kriteria dan standarnya sendiri. Kriteria dan nilai zaman, yang menurut Wellek & Warren, yang sudah lalu. Korrie yang bekerja sebagai kritikus sastra berupaya memasuki alam pikiran dan sikap orang orang dari zaman yang ia pelajari dan alami. Reformasi telah berlalu. Orde Baru meninggalkan banyak catatan perihal kemajuan dan perkembangan sastra yang dirangkumnya.

Buku Korrie tersebut adalah cara yang disebut sebagai rekonstruksi sejarah, melalui kompilasi karya pengarang kenamanaan yang mengisi surat kabar dan meramaikan dinamika sastra pra Reformasi. Sejalan dengan Langit Biru, Laut Biru Ajip Rosidi yang mengantologikan karya pengarang pasca Angkatan 66. Pada tataran praktis, Korrie ingin menghindari anakronisme. Sejarah sastra yang diusungnya mencoba ke arah historisisme yang diharapkan mampu menghubungkan karya sastra dengan konteks masyarakat Indonesia. Anakronisme yang dihidari Korrie adalah susunan karya pengarang yang membentuk semacam ancang-ancang yang tak sesuai dengan periode zaman. Memang pada 1980an Korrie pernah mengemukakan adanya Angkatan 80 dalam sastra Indonesia, tetapi gemanya hilang dan tak dianggap penting. Dengan buku Angkatan 2000 Korrie bertolak dari generasi yang menulis sejak 1980an, lalu di dekade 1990an semakin produktif dan mutunya berkembang. Dalam buku tersebut, Korrie menampilkan karya yang mayoritas dipublikasikan era 1990an. Angkatan 2000 mengantarkan Korrie sebagai kritikus sastra yang mapan.

Upaya ini berangsur pada klimaks dengan munculnya nama Ayu Utami dalam prosa dan Afrizal Malna dalam puisi. Selain itu, ada juga Joko Pinurbo dan Dorothe Rosa Herliani dalam puisi. Penilaian Korrie atas generasi 1990an disusun seiring perkembangann politik pada saat itu. Ia menyeleksi ribuan judul dan peristiwa yang berlangsung, kemudian dikaitkan dengan realitas di lapangan. Karya karya yang disusunnya beragam. Tema yang utama salah satunya pembeberan kebobrokan birokrasi, perlawanan tirani, dan pembebasan tubuh. Tidak hanya tema tersebut yang digarisbawahi Korrie. Ia berusaha seobjektif mungkin, meski pada akhirnya penilaiannya terbilang subjektif (seperti tulisan ini), dengan menarik keutamaan dari apa yang terdapat pada ciri dan gaya penulisan masing-masing pengarang. Pada prinsipnya, Korrie melakukan pendekatan yang intrinsik dan ekstrinsik dalam menghadapi keragaman karya yang dipilihnya. Selanjutnya, karya tersebut ditarik benang merahnya untuk mensintesakan gagasan mutakhirnya, yaitu kemunculan Angkatan 2000 dalam sastra Indonesia.

Inisiasi Korrie mengumpulkan karya dari media massa sejak awal 1900 hingga Agustus 1999 ini merupakan penemuan dari corak dan pengucapan angkatas sastra baru. Ada sekitar 150 nama sastrawan. Dengan seleksi ketat Korrie menyusun ini dengan maksud memperkenalkan kepada khalayak pembaca dan pecinta sastra akan kehadiran angkatan sastra baru Indonesia. Tulisan pembuka “Wawasan Estetik Angkatan 2000 dalam Sastra Indonesia” mengutip yang dipaparkan Jassin terkait terjadinya pergantian generasi sastra pada tenggang waktu setiap lima belas atau dua puluh lima tahun. Korrie ragu akan hal itu, namun ia tampakya menghubungkan kemungkinan tersebut dengan usia pengarang yang berkorelasi terhadap lahirnya angkatan sastra. Terlebih dengan pengharusan atas perbedaan visi memandang kehidupan dan zaman. Korrie belajar dari pengelompokan yang dilakukan Dami N. Toda terhadap Angkatan 70, dan Angkatan 80 sebabnya tidak didukung dengan antologi-antologi karya yang memperlihatkan ciri dan watak angkatan. Atau memang kiranya dosen serta guru kadung terlanjur mengajarkan bahwa angkatan 66lah yang resmi, mengingat posisi H.B. Jassin sebagai kritikus terkemuka pada saat itu. Di lain sisi, Korrie menegaskan bahwa kelahiran angkatan sastra memiliki hubungan erat dengan peristiwa traumatik dan bersejarah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Ia mempertimbangkan setiap angkatan ingin menampilkan reformasi dari belenggu politik yang ada. Angkatan 2000 adalah keberanian Korrie menciptakan sejarah baru. Sudah lima belas tahun setelah buku itu terbit, belum ada kritikus sastra yang membuat pertanggungjawaban serupa.

*

Setelah tulisan ini rampung, apakah saya terlambat jika membaca karya Korrie lainnya? Ya, karena baru menyadari berharganya momen pembacaan karya ketika sang penulis masih hidup. Tidak, karena saya malu-malu menyaadari ternyata perlu. Namun, malu tidak cukup. Agak sedih memang tidak pernah menyempatkan diri untuk patuh kepada nasihat Ibu. Janji bisa saja klise tapi baik apabila ditunaikan: bahwa saya akan menyukai prosa setelah ini. Bukan cuma Korrie, tetapi sastrawan yang lainnya. Inilah tugas terbesar, yaitu membaca: sebelum saya pergi, sebelum kita tidak lagi di sini. Sebelum para sastrawan itu hanya bisa dibanggakan setelah mati. Membaca adalah pintu untuk mengenang yang berharga dari mereka yang masih hidup. Dari mereka yang akan meninggalkan pembacanya.

Kekeliruan cara pandang saya tampak di kalimat kesatu tulisan ini. Toh, nyatanya setiap karya sastra dan sastrawan penting. Haruskah kita menanti maut supaya menegur kemalasan membaca? Sebagaimana obituari, bermanfaat guna refleksi, bahkan mengundang suatu introspeksi diri. Selamat jalan Korrie, selamat jalan Boedi. Sehat selalu Eko, sehat selalu Ibu, sehat selalu Adri.

(Tulisan untuk rubrik Obituari di Stomata Edisi X, Depok, 2 Desember 2015)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s