SASTRA INTERNET DI INDONESIA

 

Di Indonesia, sastra internet atau sering dikenal sastra cyber muncul tak berselang lama setelah perubahan besar tatanan sosial politik nasional, dari Orde Baru ke Reformasi 1998. Seiring keadaan peralihan tersebut, dengan semangat demokrasi yang terbebas dari rezim Soeharto, masyarakat juga menyambut kegemilangan abad 21, milenium kedua. Pada saat itu, wacana untuk berpartisipasi dalam kontestasi percaturan global sangatlah digemborkan. Sehingga memberi dampak pada kebudayaan, dan tradisi sejarah, yang tengah berlangsung. Teknologi, menjelma jalan masuk bagi produk-produk kebudayaan, berupa media baru. Dengan ketersediaan perangkat komputer dan koneksivitasnya, masyarakat Indonesia mulai menjejaki internet: dunia virtual. Para sastrawan mengalami gerak zaman pascamodern dan beradaptasi dengan cara pandang yang baru. Mereka yang beraktivitas di dunia virtual beserta publikasi karyanya, berkomunikasi dengan pembaca, dan menciptakan serangkaian polemik. Sebagian besar penggagas awal dan pegiat sastra internet, terdiri dari sastrawan kenamaan sampai yang belum punya nama, meyakini kontribusinya. Mereka menegaskan sastra di internet harus diakui sebagai bagian baru dari sejarah baru kesusastraan Indonesia mutakhir. Selain itu, ada sebagian dari pegiatnya meyakini sastra internet melahirkan angkatan baru sastra. Artinya, sastra internet tidak bisa disepelekan atau dipandang sebelah mata. Namun, para kritikus sastra berseberangan posisi dengan pegiat sastra internet. Kritikus sastra, bagi pegiat sastra internet, tengah dilanda krisis dan tidak sanggup mempertanggungjawabkan dan mempertimbangkan sastra yang bermedia baru ini. Walaupun demikian, di luar kontradiksi keduanya, sastra Indonesia dinilai tetap berkembang dan tak secara khusus menunjukkan ketergantungan aktualisasinya pada internet.

*

Di tengah perdebatan klasik dua kutub ekstrem, yaitu antara keberlisanan (oralitas) dan keberaksaraan (cetak), sastra internet (sastra cyber) melangkahi perseteruan keduanya. Inilah fenomena mutakhir: penyesuaian sastra terhadap zaman pascamodern. Zaman di mana interkonektivitas manusia tanpa batasan geografi, etnis, agama, bahkan gender. Sebuah bukti atas kemajuan teknologi dan gelombang baru sastrawan memanfaatkan akses ke pembaca, serta relasi sebaliknya.

Berkat pencapaian ini, sastra memasuki dunia virtual yang bernuansa simulasi. Dunia yang ibarat peta: mereproduksi dunia aktual. Sebuah replika jagad kehidupan yang dalam tinjauan filosofis memayungi kegiatan dan objek alamiah yang ada namun tidak berwujud. Marcel Proust dalam Remembering of Time Past menulis virtualitas, yaitu “…nyata tanpa menjadi aktual, ideal tanpa menjadi abstrak,” (Shields, 2011: 2).

Uniknya, di Indonesia kemunculan teknologi digital yang memfasilitasi sastra internet ini oleh sebagian pegiatnya dipahami sebagai kelahiran sebuah angkatan baru sastra. Apakah hal ini disebabkan pentingnya suatu pengakuan, yaitu kedudukan dalam sejarah resmi sastra?

Teknologi Mutakhir dan Cara Pandang

Dalam konteks Indonesia, ditandai dengan keterpurukan sampai lungsurnya Orde Baru setelah demonstrasi massa yang besar pada Mei 1998, karya sastra digali perwujudan kebebasannya, baik gagasan maupun bentuknya. Reformasi, yang terlanjur memberi efek domino, berlangsung di segala bidang dan sektor kehidupan.

Abad 21 pun disambut gemilang sekaligus dipenuhi kelatahan: semua kalangan menyongsong semangat zaman komputerisasi. Semua lini kebudayaan seolah mempunyai ruang aksentuasi baru. Eksplorasi eksistensi kepengarangan dan persentuhan sastrawan dengan pembaca merangkap jadi multidimensi. Seakan-akan ada paradigma yang mempercayai bahwa keadaan serba digital mencerminkan bahwa suatu masyarakat lebih kontemporer, lebih menonjol, dan lebih mengglobal.

Pada 28 April 1999, Cybersastra, situs publikasi karya sastra (puisi dan cerpen) di dunia virtual, mulai dioperasikan (Faruk, 2001: 224). Di situs tersebut dibangun impian yang belum pernah dijanjikan tradisi sastra lisan atau pun tulis sebelumnya. Impian yang tidak punya batas di mana kehendak per individu menentukan (otonom). Para sastrawan yang terlibat disediakan tempat dan punya kesempatan yang sama.

Upaya ini diilhami rintisan Yayasan Mutimedia Sastra (YMS) yang digawangi Medy Loekito dan Nanang Suryadi, serta pengasuh situs Saut Situmorang (2004: ix-xii). Dengan kelemahan, Cybersastra terlalu muda, gamang, rapuh dan sibuk mencari-cari format dan resisten–begitu banyak potensi kerentanan yang justru dimungkinkan oleh faktor keunggulan teknisnya (Nurrohmat, 2007: 150).

Namun, di luar sana pembacaan sastra konvensional masih tetap berjalan. Tradisi publikasi sastra di surat kabar, majalah, buletin, belum tergantikan sepenuhnya, bahkan hingga sekarang. Di samping itu, sayangnya penyemaian teori-teori kebudayaan baru, misalnya gagasan pascamodern yang dipelopori Komunitas Utan Kayu (KUK) melalui Jurnal Kalam terbit 1994, belum signifikan.

Dengan kata lain, hadirnya internet sebatas memberikan semacam gengsi kekinian tersendiri bagi sastrawan. Perasaan itu selanjutnya dipakai untuk resistensi terhadap dominasi publikasi sastra media cetak. Alhasil, mereka yang karya puisi dan cerpen tidak dimuat (atau kurang sesuai selera redaksi) di surat kabar mainstream cenderung memilih sastra internet. Tampak nyata: teknologi mengemansipasi sastra(wan).

Disadari atau tidak, pegiat Cybersastra mempunyai cara pandang baru melihat sejarah. Mereka percaya perkembangan komunikasi dan publikasi sastra internet di Indonesia itu positif. Karya-karya sastrawan dapat diakses lebih luas di seluruh dunia. Agaknya terlihat di sini, sastra internet atau sastra cyber berperan dalam memprakarsai praktik demokratisasi, atau standar ganda, menempatkan sastrawan dan karyanya dalam sejarah sastra Indonesia yang belum satu abad umurnya.

Permasalahnya kemudian mengenai mutu karya. YMS menolak tudingan terhadapnya: Cybersastra dituduh “tong sampah”. Dengan sinis Medy Loekito membalas penilaian kritikus sastra justru yang tidak mau beranjak dari sastra koran (YMS, 2004: 1–7). Saut Situmorang menuding kritikus sastra tidak mampu memulihkan krisis sastra yang berlangsung (YMS, 2004: 299–325).

Kendati demikian, faktanya kesiapan masyarakat sastra Indonesia tidak merata. Hal ini mengindikasikan kurangnya penyuluhan pendidikan mengenai dunia virtual (komputer) dari negara.

Selain itu, mungkin sebab lainnya karena teknologi elektronik digital pada masa awal Reformasi belum dimiliki secara masif dan belum secanggih dewasa ini. Ujung-ujungnya, sastra lagi-lagi dipahami dalam bentuk konvensionalnya seperti buku, koran, dan majalah. Sebab wujud yang inheren dari karya sastra, sebagai representasi suara yang berasal dari kesunyian itu, adalah tulisan yang dibukukan.

Karena itu, ketika orang berbicara mengenai karya sastra, pembicaraan itu akan selalu mengimplikasikan adanya buku. Bila karya sastra hadir dalam bentuk nonbuku, misalnya di radio, di koran, atau di majalah, karya itu tak akan disebut hanya “sastra”, melainkan “sastra radio”, “sastra koran”, “sastra majalah”, dan sebagainya (Faruk, 2001: 215).

Polemik Cybersastra dan Omong Kosong

Internet memberi “kemungkinan-kemungkinan lain”, ujar Nanang Suryadi (dalam Faruk, 2001: 219). Baik buruknya internet tergantung pada pelaku yang menggunakannnya. Dalam situasi itu, kehadiran Cybersastra memicu kreativitas dan mutu karya tertentu. Informasi global diakses sesuai kebutuhan. Untuk mengaksesnya, sastrawan bisa mencari inspirasi dengan modal penguasaan berbagai bahasa, khususnya Bahasa Inggris.

Di lain sisi, dalam sastra internet tidak ada proses seleksi dalam suatu publikasi karya. Media digital ini bebas dari otoritas redaktur yang biasanya diketahui kuasanya di koran atau majalah. Maka terjadilah demokratisasi pempublikasian karya. Tak ada kekangan bagi seorang penulis untuk mengacu pada atau tunduk di hadapan sejarah sastra. Inilah yang radikal dari Cybersastra.

Barangkali masyarakat belum siap mengakui kemunculan sastra internet. Dominasi pemahaman sejarah sastra yang rancu hanya bisa dikembalikan pada periodisasi angkatan sastra yang resmi. Untuk itu, bunga rampai Angkatan 2000 kritikus Korrie Layun Rampan dianggap sejumlah pegiat Cybersastra kurang representatif dan tidak objektif.

Dalam tradisi Cybersastra tidak ada buku, tetapi tuntutannya adalah mau diakui sebagai bagian dari sastra utama. Inilah yang disebut Binhad Nurrohmat, “Semangat besar tanpa diimbangi menilai dan agenda kualitas cenderung cuma melahirkan pekerjaan naif dan arogan,” (Nurrohmat, 2007: 151). Dengan ambisi menggolongkan ke kanon sastra, Cybersastra mencetuskan polemiknya.

Sebagaimana sastra koran atau majalah, pada hakikatnya Cybersastra juga memiliki struktur birokratisnya sendiri. Namun tidak kaku. Seseorang tidak dibebani moral atau modal tertentu untuk disebut penyair. Dengan menulis sebuah karya seseorang boleh jadi dikenal sastrawan. Inilah kemungkinan lain dari gerakan yang mengadaptasi era keterbukaan, era informasi. Sebagaimana disinggung sebelumnya, konsekuenasi logisnya adalah tidak ada standar bagus atau buruknya sebuah karya.

Dalam pembelaannya, Medy Loekito menyatakan bahwa internet dan gerakan Cybersastra ini merupakan gagasan mengenai “saluran yang efektif bagi penyemaian” dan “terapi” penyair yang terombang-ambing ketidakpastian publikasi karyanya di media cetak (dalam Faruk, 2001: 220). Selanjutnya, Medy Loekito bersikeras bahwa dengan adanya internet, para penyair tidak berkecil hati ditenggelamkan nama-nama besar di media cetak. Selain itu, internet dapat mempertemukan karya lintas regional dalam kesempatan yang sama dan ruang (domain) publikasi yang sama.

Donny Anggoro (dalam Faruk, 2001: 197–222) secara positif menegaskan sastra internet adalah alat penembus modus operandi dan birokrasi sastra koran. Prosedur birokrasi yang konvensional diterabas oleh peranti teknologi. Namun, di tengah kebebasan itu, tidak menutup kemungkinan karya sastra rendah mutu estetikanya.

Dari capaian tersebut sastra internet berhasil mendobrak tradisionalisme dan memanfaatkan teknologi mutakhir bagi keberlangsungan sastra. Di luar ukuran perkembangannya, Donny menyadari Cybersastra tidak ditopang oleh kritikus sastra. Akibatnya, tidak ada pengukuhan gerakan ini secara massal untuk menjadi sejarah resmi. Ia melihatnya sebagai “warna-warni dunia sastra kita.”

Banyak teks sastra dikomunikasikan di jaringan internet, dunia virtual (cyberspace). Di Indonesia, perkara ini relatif fakta baru dan bersifat alternatif dalam konteks komunikasi teks sastra mutakhir dan mungkin diakui sebagai lompatan medium yang aktual dan fantastik, walau masih mengekor ke sektor lain (Nurrohmat, 2007: 149).

Watak akomodatif yang berlebihan dari pengelola memberi dampak risiko kontraproduktif. Misalnya sikap naif Medy Loekito yang percaya bahwa sastrawan internet “cukup punya kemampuan dan kesadaran diri untuk melakukan seleksinya sendiri,” (dalam Faruk, 2001: 221).

Tapi, ingatlah bukankah sejak awal sastra internet lahir tanpa (tradisi) sejarah? Layakkah Cybersastra dikukuhkan eksistensinya di mata kesusastraan Indonesia? Adakah kecurigaan masyarakat sastra terhadap paradoks ini: sastra internet menolak tradisi sastra, tetapi ingin diakui dalam sejarah sastra mutakhir?

Sebelum ada jawaban yang pasti: pegiatnya mencetuskan suatu polemik agar diperdebatkan dan diperhatikan posisinya. Mereka juga turut memperkarakan hal lain, termasuk omong kosongnya (yang klise) perihal hegemoni media. Lantas bagaimana respon masyarakat terhadap sastra internet selain Cybersastra?

Resepsi Sastra dan Potensi Lainnya

Pertanyaan terakhir bisa disimpulkan setelah menelusuri fakta lain di sastra internet. Katrin Bandel dalam esainya Karya Sastra sebagai Taman Bermain mengemukakan pengamatannya mengenai kontribusi internet dalam menaungi sastra Indonesia (Bandel, 2006: 1–12). Di laman http://www.truedee.com pernah berlangsung diskusi tentang novel Supernova karya Dewi Lestari (Dee).

Partisipan diskusi tersebut menggunakan username nama penulisnya (entah asli atau palsu) dan mereka yang mengatasnamakan dirinya tokoh-tokoh dalam novel tersebut. Katrin mensinyalir partisipan forum itu adalah pembaca setia karya Dee. Diskusi yang produktif diutamakan sebagai pengembangan dan realisasi ide dan pesan penting dalam Supernova. Forum diskusi karya Dee ini bertajuk Thaks for me.

Partisipan diskusi memerankan tokoh Supernova dengan cukup meyakinkan. Hal ini tampak dari kelancaran dan konsistensi mereka dalam menjaga jalan cerita dan pesan-pesan Supernova. Fenomena sastra dalam internet inilah yang dimaksud Katrin sebagai “lompatan keluar” dari karya dan kontrol seorang pengarang yang menciptakan. Situasi tersebut yang belum pernah dibayangkan sebelumnya dari pembacaan sastra secara konvensional.

Pembaca diberikan keleluasaan dalam berbagi pengalamannya setelah membaca karya sastra. Logika teks dan cara berpikir sehari-hari dijungkirbalikkan oleh kehadiran internet. Inilah dunia pascabuku, dunia virtual yang serba mungkin, yakni dunia yang serba nirbatas. Tidak ada batas fiksi dan manusia nyata. Komunikasi antarpenanggap karya berlangsung segar dan menyenangkan. Sebuah ciri khas yang tidak bisa ditangkal oleh tradisi membaca buku yang berhenti di resensi koran atau majalah.

Namun, Katrin juga menyayangkan sampai manakah batasan itu. Tapi resepsi karya sastra harus diimbangi oleh perhatian yang intensif meninjau karya sastra. Pembaca di forum Thanks for me itu tetaplah bertitel pembaca. Mereka melanggengkan relasi dirinya dengan teks. Di situlah kekuatan internet memfasilitasi sastra untuk bertemu dengan pembacanya.

Pada akhirnya, bagi Katrin, forum resepsi sastra seperti Thanks for me ini merupakan sebuah alternatif, yang mungkin lebih tepat dan cocok bagi sebagian pembaca buku sastra. Lebih dalam lagi, Katrin ingin menegaskan betapa internet mampu menyediakan penentuan makna sebuah teks sebetulnya bukanlah oleh pengarang, tetapi terutama oleh pembacanya (Bandel, 2006: 11).

Dee, yang disoroti Katrin, memanfaatkan momen penting (keluar–masuk) internet. Sebab, dengan kesadaran itu sastrawan dapat mengukur resepsi pembaca terhadap karyanya. Gagasan Katrin ditutup dengan sintesa bahwa internet adalah “taman bermain”. Tempat yang dihadirkan untuk berkegiatan sastra dengan cara baru, cara yang tidak melulu serius atau kaku. Katrin bertanya, apakah dengan akses teknologi ini sebuah karya sastra justru dihinakan?

Rasanya tidak. Sejauh kita mengetahui jawaban atas konsekuensi ikut berpartisipasi dalam forum “simulasi” tersebut. Toh, di dunia virtual seorang pembaca bisa berbuat apa saja dalam menanggapi karya. Begitu pun penulisnya, jika memang turut aktif masuk di dalamnya. Dan lagi-lagi ini perihal cara pandang memaknai karya: membiarkannya teronggok jadi buku di gudang atau dilanjutkan pembacaannya di internet.

Sampai akhir tulisannya, Katrin luput melihat perkara krusial yang sebenarnya bisa menjadi penengah itu semua, yaitu butuh atau tidaknya sastra internet terhadap sosok kritikus sastra untuk mengawasi sastra, menjaga kewibawaannya sastra. Padahal yang terakhir itulah, relasi yang paling rumpang dalam wacana polemik sastra internet.

Potensi yang terdapat pada pegiat sastra, selain bisa lebih produktif dan berharga bagi sejarah sastra karena kemampuan mediumnya, adalah kekuatan dokumentatifnya yang sangkil dan mangkus, serta memiliki daya edar yang luas. Optimalisasi keunggulan ini tampaknya kurang diperhatikan. Padahal, peran dokumentasi merupakan suatu urgensi mengingat belum ada yang meneruskan kerja kepustakaan H.B. Jassin.

Optimalisasi potensi tersebut bertujuan untuk menjaga keberadaan teks sastra dari kemungkinan ketaktercatatan (Nurrohmat, 2007: 153). Kalau saja para pegiat memahami keunggulan elementer ini, mereka tidak dihantui obsesi meraih predikat sastra tertentu.

Kritikus Sastra dan Kejutan Internet

Maman S. Mahayana, kritikus sastra Universitas Indonesia, menyatakan bahwa kualitas penyair-penyair cyber (internet) masih dipertanyakan, sebagian masih tergolong sebagai penulis puisi yang baik, belum sebagai penyair (Suharjo, 2004 dalam Situmorang: 63). Dalam kapasitasnya, Maman tidak bisa sepenuhnya dipersalahkan.

Hal ini disebabkan, tidak semua penulis sastra internet, yang mengarang puisi khususnya, punya pikiran bahwa dirinya penyair atau sastrawan. Medy Loekito dari YMS memaklumi dan tidak dapat mengelak kenyataan akan degradasi mutu besar-besaran dalam sastra internet. Sehubungan dengan itu, menurut Medy, ada dua alasan mengapa para kritikus sastra tidak menanggapi sastra internet sebagaimana sastra koran.

Pertama, karena pasar yang rabun perkembangan sastra. Kedua, karena karakter pasar yang lebih fleksibel sesuai sifat generasi terkini, yakni cenderung bermain-main (Loekito, 1999/2000 dalam Situmorang, 2004: 3).

Di tambah lagi, Medy mengimbau agar kritikus sastra bersedia mengamati hadirnya Angkatan Baru dalam sastra Indonesia dengan mempertimbangkan berbagai aspek termasuk perkembangan teknologi. Pertimbangan tersebut diharapkan supaya tidak mengesampingkan para penulis sastra koran berlatar belakang academic minor yang suka atau tidak suka merupakan kelompok mayoritas rakyat Indonesia.

Kepentingan Medy cukup jelas: ia yang berkecimpung dan bergerak di YMS ingin menegaskan posisi sastra internet di mata kritikus sastra. Sebab, “hak prematur” Angkatan Baru (sastra internet) ada di tangan kritikus sastra. Maka dari itu, Nanang Suryadi (2004: 16) mempertanyakan, adakah kritikus sastra Indonesia yang memanfaatkan sastra internet sebagai informasi atau bahan kritiknya? Singkatnya, Nanang menantang kritikus sastra untuk membedah karya sastra internet.

Di samping itu, redaktur harian Republika Ahmadun Yosi Herfanda (2001: 73) meninjau sifat dasar sastra cyber. Baginya, media cyber membuka ruang alternatif yang luas bagi tumbuhnya sastra alternatif (puisi alternatif) yang memberontak estetika yang lazim dan bukan hanya menjadi media duplikasi dari tradisi sastra cetak (koran). Ahmadun melihat peluang bahwa sastra internet haruslah dilandasi kesadaran dan kepekaan estetik yang tinggi.

Di balik sudut pandang Ahmadun, ada keterkejutan masyarakat sastra kita atas internet. Dunia virtual yang dibidani teknologi adalah konsekuensi masyarakat pascamodern dan pertaruhan nasib baru bagi sastrawan. Pertaruhan yang berarti juga pertarungan dengan tradisi sastra cetak yang sudah mengakar hampir satu abad terlebih dahulu.

Di saat sastra Indonesia dalam keadaan “ditinggalkan” kritikus sekaliber H.B. Jassin dan A. Teeuw asal Leiden (Indonesianis, Belanda), sastra internet menuntut hak sejarahnya. Wacana mengenai kewibawaan kritik(us) sastra ditimbulkan oleh pegiatnya sebagai sosok pengesah sejarah sastra yang resmi. Akan tetapi, selama dekade 1990an di Indonesia sastra cetak pun tidak banyak menyediakan ruang bagi kritik sastra.

Apakah kenyataan itu juga berbarengan dengan pertanda minimnya apresiasi sastra masyarakat? Kecurigaan boleh dilayangkan pada pegiat sastra internet. Mereka berjibaku tentang krisis kritik sastra, tapi juga menanti sebuah pencetusan Angkatan Baru. Cara kerja sastra ambivalen seperti ini yang sebenarnya menyelubungi riwayat historis sastra Indonesia ke belakang.

Memang, sah bagi sastrawan dan karyanya untuk menjadi “kanon sastra”, tapi jika kehendak itu dibutakan oleh ambisi sesaat yang pragmatis, memanfaatkan momen dan kehadiran internet: sampai kapan pun apresiasi sastra hanya akan kandas dalam pujian-pujian belaka yang mengaburkan isi karya dan gagasan kebaruan estetik.

Sebab, secanggih apa pun teknologinya, jangankan menunggu kerja keras kritikus sastra: masyarakat sastra tidak dipayungi iklim yang sehat untuk mengapresiasi. Masyarakat terlanjur diberikan polemik demi polemik kepentingan antarpegiat sastra internet, pendukung dan musuh-musuhnya. Walaupun tidak untuk digeneralisasi karena masih ada forum ‘pertemuan sastrawan dan pembacanya’ seperti Thanks for me (http://www.truedee.com) yang dipaparkan dalam tulisan Katrin Bandel yang dibahas sebelumnya.

Dalam konteks inilah, gagasan Katrin penting sebagai penengah bahwa resepsi (pembaca) terhadap karya sastra tidak mustahil akan menanjak bobot tinjauannya ke apresiasi, lalu ke kritik sastra.

Kesimpulan

Dari uraian di atas, sastra internet telah melahirkan cara pandang baru terhadap sastra dan teknologi memegang kuasa hegemoniknya. Para pegiat sastra internet (contohnya YMS dengan Cybersastra-nya) generasi awal di Indonesia sekiranya kewalahan mengatasi persoalan mana yang harus dikedepankan: mutu atau posisinya dalam sastra Indonesia.

Mereka secara sadar memanfaatkan gejala masyarakat pascamodern dan semangat Reformasi dalam menduniavirtualkan sastra (menjadi bagian dari yang-global = sastra dunia?). Dengan begitu, mereka berani berpolemik dan menantang kritikus sastra untuk meninjau hasil karya sastranya. Namun, fakta di lapangan menunjukkan ketiadaan kritik sastra adalah bukti bahwa sastra internet masih jauh dari legitimasi publik sastra (Nurrohmat, 2007: 151).

Polemik yang berlangsung di sastra internet awal di Indonesia cenderung kontraproduktif dengan pencapaian estetika. Dari sengitnya polemik tersebut, rupanya tidak banyak sastrawan yang memanfaatkan internet dengan baik guna promosi dan pengembangan mutu berkarya supaya dapat menunjang eksistensi di media cyber, membangun relasi efektif dengan pembaca.

Salah satunya Dewi Lestari–yang sejak tercetusnya polemik hingga 2015 tidak pernah mau ikut campur “debat kusir” di Cybersastra atau internet umumnya. Hal ini membuktikan, tanpa berpretensi digolongkan ke Angkatan Baru, Dewi Lestari menjadi antitesis kalangan sastra internet periode awal yang punya ambisi menantang kritikus dengan pelbagai keluhannya. Karena yang utama: konsistensi berkarya.

Dinamika sastra internet dengan media cyber sekarang ini kian hari kian kompleks. Aplikasi media seperti Facebook, Twitter, Path, dan Line dipakai oleh penulis muda untuk menunjukkan ekspresi dan eksistensinya. Beberapa penulis yang aktif di dunia virtual, (untuk sekadar menyebut beberapa nama, antara lain M. Aan Mansyur, Adimas Immanuel, dan Faisal Oddang) sedikit demi sedikit merambah ke media cetak konvensional. Meskipun secara kualitas masih diperlukan penggalian tema-tema (lokalitas, kebangsaan, dan kebaharian) agar lebih variatif dan tidak mandek kreativitasnya pada tema-tema picisan yang cengeng.

Akhir kata, semakin canggih teknologi dunia virtual, toh membuktikan bahwa sastra Indonesia masih ada dan terus berkembang sesuai persoalan kontekstualnya: dengan harapan para pegiatnya pun mendewasakan dirinya dan bijaksana di hadapan tradisi sejarah, pembaca, dan pencapaian estetika sastra. Tanpa membebani moral kepengarangan dengan omong kosong atas krisis kritikus sastra atau hegemoni media sastra cetak.

(Tulisan ini untuk tugas akhir semester Filsafat dan Ilmu Pengetahuan FIB UI, 2015)

Daftar Pustaka

Bandel, Katrin. 2006. “Karya Sastra Sebagai Taman Bermain” dalam Sastra, Perempuan, Seks Kumpulan Esai, hlm. 1–12. Jalasutra: Yogyakarta.

Faruk, HT. 2001. “Cybersastra: Penjelajahan Awal Terhadap Sastra di Internet” dalam Beyond Imagination Sastra Mutakhir dan Ideologi, hlm. 215263. Gama Media: Yogyakarta.

Nurrohmat, Binhad. 2007. “Sastra Saiber” dalam Sastra Perkelaminan, hlm. 149154. Pustaka Pujangga: Lamongan.

Situmorang, Saut (Ed.), dkk. 2004. Cyber Graffiti Polemik Sastra Cyberpunk (Kumpulan Esai Sastra). Yayasan Multimedia Sastra. Jendela: Yogyakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s