YANG SINGKAT DARI KESUSASTRAAN AMERIKA LATIN

Dunia informasi bergerak maju, hidup manusia jadi kian cepat. Manusia zaman ini berpegang moral: membuang waktu adalah kesia-siaan. Dalam situasi ini sastra bertahan, berusaha tetap popular di kalangan pembacanya. Ia menyesuaikan diri, dengan mengalami pergeseran serta kebaharuan.

Matinya Burung-Burung adalah buktinya–merangkum karya-karya pengarang Amerika Latin. Cerita-cerita di buku ini relatif pendek, bahkan sangat pendek. Di lain sisi, faktanya nasib sastra tidak semata berfaktor perubahan sosial dan teknologi. Dari kesusastraan Yunani kuna, kita sudah mengenal fabel Aesop. Sementara itu, dari Jepang kita tahu haiku. Keduanya merupakan genre karya sastra, yang diwariskan oleh peradaban silam.

Belakangan di Indonesia kita mengenal Komunitas Fiksimini yang bergiat menulis di ranah Twitter dengan batasan 140 karakter/100 kata ataupun 69 kata. Pegiatnya, secara disadari maupun tidak, percaya kebutuhan pembaca sastra yaitu bacaan padat nan ringkas. Kebutuhan inilah mengkehendaki penulis prosa pada umumnya untuk mengubah format tulisan.

Sinyalemen literer ini nyatanya tidak hanya terjadi pada sastra, melainkan juga pada yang bukan sastra. Di bidang jurnalisme media, misal yang paling menonjol, turut beradaptasi dengan perubahan yang ada. Adapun karya sastra hakikatnya merupakan karya cipta seni. Dan setiap seni jelmaan dari hiburan. Maka bagi manusia gawai mutakhir, bacaan bagus adalah bacaan yang pendek. Singkat dan tidak panjang. Karena jika panjang berarti membosankan.

Matinya Burung-Burungdapat dikatakan kumpulan percobaan berkisah cepat tetapi bagus. Amerika Latin, salah satu wilayah yang subur bagi penulis dunia. Di sana, kesusastraan modern berkembang pesat. Sepanjang medio abad ke-20, genre ini mendiaspora. Bahkan jadi tren di kalangan pengarang beberapa negara di Amerika Latin. Sejumlah pengarang kenamaan yang diperhitungkan, antara lain Jorge Luis Borges, Gabriel Garcia Marquez, Jose Arrela, Augusto Monterosso, Octavio Paz, dan Elena Poniatowska.

Di samping rutinitas menulis prosa panjang, boleh jadi pengarang Amerika Latin memanfaatkan kesempatan unjuk gigi pada genre ini, yakni mengolah kepadatan ide dan tema. Artinya, secara historis, kemunculan genre ini tak melulu disebabkan perkembangan teknologi informasi. Ketika dunia belum serba komputer, pengarang Amerika Latin telah menulis cerita sangat pendek dengan kapasitas manualnya.

Dengan genre minifiction (Zavala: 2004) ini, kita dapat menikmati sastra dengan tidak berlama-lama berurusan dengan suatu bacaan. Contohnya, Minimus 3 karya José Lira Sosa (Venezuela): “Semuanya bergerak. Tidak ada yang diam karena itu bertentangan dengan hakikat alam semesta, kata sang filsuf sambil meringkuk nyaman di sofa favoritnya” (hlm. 68).

Pada kapasitasnya, Matinya Burung-Burung merupakan bunga rampai yang menghimpun generasi awal minifiction di Amerika Latin. Dalam Matinya Burung-Burung cerita diterjemahkan dari karya utuhnya. Ronny Agustinus tidak punya kriteria khusus dalam pengurutan karya, namun pada setiapnya disertai biodata singkat.

Sayangnya pada setiap karya tidak dicantumkan titimangsa tepat di bawahnya. Sehinga pembaca agak kesulitan memperkirakan konteks waktu dan peristiwa yang berkaitan dengan tulisan dan harus bolak balik ke halaman Tentang Penulis & Muasal Tulisan. Contohnya, yaitu pada karya Orlando van Bredam (Argentina), Coretan di Tembok (hlm. 91); “Gampang saja kok menyatukan lagi The Beatles. Cuma butuh tiga tembakan.” Bagi yang tidak mengetahui kematian John Lennon akan bingung memahami langsung karya tersebut.

Melalui Matinya Burung-Burung, pembaca disuguhkan cerita yang bervariasi dan kaya akan keberagaman budaya serta peristiwa sosial di Amerika Latin. Kita pun jadi tahu gaya penceritaan yang hemat. Ronny Agustinus, penerjemah buku ini, menyadari betapa pentingnya pembaca terbuka kepada wawasan kesejarahannya akan sastra dunia.

(Tulisan ini untuk resensi buku Matinya Burung-Burung, yang diterjemahan Ronny Agustinus, Moka Media, April, 2015)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s