KRITIK

APAKAH karya sastra perlu mengemban kritik? Yang pertama dalam catatan kuna peradaban Yunani, merekalah, Xenophanes dan Heraclitus –sekitar 500 tahun sebelum Masehi. Keduanya terkenal giat mengecam secara radikal kebohongan pada isi cerita tentang subjek dewa-dewi. Dan Plato yang kemudian hari, menulis Republic, mengatakan; ini pertentangan puisi dan filsafat!

Ritus agama punya gregetnya semasa Plato hidup. Barangkali sekarang masih sisa. Plato, dan manusia sejawat lainnya, belum mempunyai gudang kosakata se-genit manusia modern sekarang (seperti: novel, fiksimini, quotes, atau SMS). Filsafat kala Plato, seputar percobaan ekspedisi guna menemukan khasiat hidup yang sesungguhnya. Agama adalah lintasan pencarian Sang Ada. Sehingga, sering dipersulit dengan hal-hal puitik dan filosofis, contohnya: Thales, pemikir pra-sokratik yang berujar, “Semuanya (yang bermula, red) adalah air, dan dunia penuh dengan dewa-dewi”. Thales berfilsafat atau berpuisi?

Tetapi, Aristoteles memberikan cerah, sekaligus pembantahan atas Plato, dengan menulis Poetic. Sebuah rumus pengantar untuk bersastra ketika itu; puisi punya dorongan kecenderungan alamiah dan kecenderungan emosional. Aristoteles pun sesekali membuat puisi yang ditujukan orang tercintanya. Aritoteles dengan hal-hal retoris.

Dia tak menghiraukan omongan Plato yakni, penyair hanya meniru, imitator, tanpa jalan menuju kenyataan dan kebenaran. Tapi puisi itu tetap retoris, mirip dengan filsafat –ah andaikan Plato peka. Dua unsur di atas kenyang dengan indah-nya masing-masing. Meskipun demikian, filsafat agak terkait erat dengan diskursus kepercayaan pribadi dan kesadaran magis penulisnya; Aristoteles terkadang bersentuhan dengan dimensi religius, metafisikal dalam puisi.

Menurut riwayat lain, Plato itu pria obsesif yang bergelut di segi minat dalam bersastra saja. Tetapi terlalu tanggung baginya untuk keluar dari jalur komitmennya dengan Sokrates, maha guru spiritualnya. Ia berbeda dengan Aristoteles, yang notabene muridnya, di mana ia memaparkan; puisi bukalah jalan lain dari kehidupan, atau pun musuh. Yang Plato tahu hanya apokaliptik, yakni sikap kebaikan yang ada dan memiliki kekuatan. Apakah puisi merupakan pengecualian?

Dengan kata lain, ketika puisi dan filsafat dibenturkan. Yang dibutuhkan tidak lain pengembalian apresiasi untuk menjunjung nilai karya sastra itu sendiri. Plato ternyata bersikeras membatasi karya sastra –koridor ragam tema karya sastra– yang mana sikap ini ditafsirkan sebagai mengendurnya kritik sastra. Di mata Plato perlu ada dua nilai saja; (1) ideologis, (2) moral. Dan Yunani adalah perjanjian: siapa yang keluar konteks dalam berkarya sastra, penyair manapun sebaiknya dihapuskan.

Walhasil, kecanggungan apokaliptik Plato rupanya membuat sastra tersendat-sendat. Lalu, di mana kebebasan berkarya? Apa cukup diam saja. Atau berkomentar tentang karya-karya yang berpihak pada kepentingan Yunani saja. Dengan irama mengejek. Tidak juga. Tidak semua penyair keras kepala. Terbukti, seorang penyair tragik, seperti Aeschylus –yang penerusnya adalah Sophocles, perduli akan kritik pada karya. Bukan hanya subjek Gestalt, dalam butir perkataan Merleau Ponty; puisi itu seperti sebuah mesin bahasa, yakni sebagai mekanik tersendiri. Puisi itu subjek di luar subjek penulis.

Dan kembalikanlah ke realita zaman Yunani –sampai sekarang, kita tidak bisa lepaskan, demi mengesampingkan pengaruh atau konteks kehidupan di mana manusia sastra itu hidup. Aeschylus dibicarakan namanya sekalipun ia sudah meninggal. Boleh soal, ia berkehidupan strategis pada politik negaranya, Athena.

Semakin ke sini, sastra mengalami pemangkasan. Agama tidak begitu disegani dalam konteks sekarang. Dan perdebatan kritik tak sekedap dahulu, Yunani. Ranah manusia modern, dihitung awal sekali John Dyden menyumbang istilah cirticism pada tahun 1677 yang letaknya sudah disejajarkan dengan asas kritik-sastra Aristoteles, yaitu kritik harus berdasarkan penilaian yang benar: hasil pembacaan.

Sebab, persaingan sastrawan kreatif dengan para kritikus, itu tidak sejernih kita melihatnya, seperti tidak terjadi apa-apa. Penyair besar Jerman, Johann Wolfgang von Goethe kurang tertarik berkecimpung dalam perdebatan, ia tak tertarik untuk afeksi terhadap kritik. Meski ia menyadari bahwasanya karya sastra baik belum tentu purna tanpa kritik. Maka pertanyaan balik darinya, “Apakah seorang kritikus sastra dapat membuat karya sastra melebihi ketimbang sastrawan kreatif?”

Inilah yang kelak ditekankan oleh Ignas Kleden; tugas kritikus adalah menghayati dan melakukan empati terhadap proses produksi suatu karya, berikut ilham penciptaanya. Sekalipun, karya sastra dapat berdiri tanpa terpikirkan hakekat, makna, intensi, esensi. Atau tanpa perlu ribut-ribut yang belum jelas. Biarkanlah sistem huruf mencari bentuknya sendiri dari setiap karya yang dihasilan. Di sinilah sabda-sabda modernisme menggaung di ruang sastra. Kita: mencari nilai yang tiada berhenti.

Katakanlah, ada seorang penulis pernah berbalas komentar dengan temannya sehabis membaca tulisan yang dibuatnya. Temannya bilang itu adalah prosa. Katanya kepada temannya, “Kau itu perlu lurus dalam bertutur secara teks, tak semua orang bisa paham mengenali tulisanmu.” Ia menanyakan ulang apa kategori komentar tersebut termasuk kritik-sastra? Lantas. substansi tulisannya ia kesampingkan. Aneh sekali. Nol besar!

Di lain sisi, penulis tersebut sering bertengkar dengan diri sendiri, yang satu lagi di dalam diri: sang alter ego. Tentang; apakah tulisan, karya sastra, itu butuh pembaca?

Hasilnya, kerap kali ia yang mengalah, tetapi tetap ia beranggapan; penulis tampil bersama, berbarengan dengan hasil karyanya. Pembaca adalah aspek dampak karya itu punya kadar takarannya. Dimengerti atau tidak bukan urusan penulis. Ia menulis, itulah pasalnya –meski egois. Dan kritikus mengambil posisi pasca-penulis, di mana ia mengadakan penyampaian ulasan –bisa juga opini lepas terhadap karya. Sebagai orang yang mengaku kritikus –siapa pun orangnya– ia harus berkata seterang-terangnya, dan benar. Pengandaian hanyalah omong kosong.

Penulis –siapa pun orangnya– berhak tahu apa yang ditulis. Kalau kehendaknya sastra, maka tulislah sastra. Kemauannya absolut. Ketika teks itu belum ada kritikus atau pembaca entah di mana. Kita pun maklum, masing-masing bekerja sesuai caranya. Hadirkanlah ragu jika berpapasan dengan orang yang asal-usil komentar terhadap karya penulis. Apalah itu statusnya, kritikus atau apapun.

Dan teks tidak bisa diperlakukan semaunya, sembarang. Ia perlu dihayati, dicerap isinya. Dalam-dalam. Mungkin saja kritikus terjebak; antara penghayatan sebagai penulis dan penghayatan indah (pembaca). Dalam kacamata Andre Hardjana: lihatlah pangkal tolak dan titik akhirnya. Dari situ kita sepatutnya mengetahui ke mana kritik menuju.

(Tulisan ini untuk diskusi Kajian Reboan LKM UNJ, Rawamangun, 20 Juli 2011)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s