POLITIK, MAHASISWA, DAN KOTA DALAM CORET-CORET DI TOILET

Cerita-cerita dalam Coret-coret di Toilet merupakan contoh dari suatu kecenderungan sastra pasca-Orde Baru Soeharto, yang disebut dengan era Reformasi. Eka Kurniawan menarasikan politik melalui kumpulan cerita pendeknya tersebut. Disadari atau tidak, cerita-cerita Eka mengupayakan suatu pendokumentasian perubahan sosial di Indonesia. Atas motif pendokumentasiannya, selaku pengarang, misalnya Eka berperan penting mengonstruksi sosok mahasiswa sebagai tokoh dalam beberapa cerita pentingnya. Di samping itu, dalam Coret-coret di Toilet Eka juga menarasikan kota sebagai latar ruang yang ditampilkan dalam cerita-ceritanya. Dalam tulisan ini, penulis mengambil sumber data dari dua buku Coret-coret di Toilet yang terbit pada Agustus 2000 (Yayasan Aksara Indonesia) dan April 2016 (Gramedia Pustaka Utama). Tulisan ini–berangkat dari sebuah anggapan sosiologis bahwa teks sastra melukiskan kecenderungan utama dalam masyarakat–berusaha mengupas pandangan Eka terhadap politik, mahasiswa, dan kota. Pertalian tiga hal tersebut menjadi pokok tinjauan atas sejumlah cerita-cerita yang terkuat dalam Coret-coret di Toilet. Sehubungan dengan itu, pembahasan tulisan ini meminjam pendekatan sosiologi sastra.

Pendahuluan

Menjelang Reformasi Mei 1998, banyak peristiwa kerusuhan terjadi di sejumlah kota besar di Indonesia termasuk juga ibu kota Jakarta. Salah satu kerusuhan berwujud demonstrasi gabungan kalangan mahasiswa, warga sipil, dan buruh. Orientasi tuntutan lapisan bawah (grassroot), yaitu menurunkan rezim Soeharto yang berkuasa selama 32 tahun. Ada sebagian sastrawan pada masa itu turut aktif merespon situasi nasional melalui karya dan rangkaian aksi turun ke jalan. Pada masa itu publikasi karya sastra yang fokus menyoroti isu-isu politik dalam negeri secara kritis semakin tersebarluaskan. Di atmosfer kesastraan itulah dorongan menulis tema perubahan sosial menjadi perlu.

Pada dekade 1990an, pemerintah melakukan pelbagai deregulasi dalam bidang ekonomi menghendaki deregulasi di bidang politik dan hukum. Deregulasi tersebut secara berlebihan, misalnya dengan pembredelan pers, antara lain terhadap Tempo, Detik dan Editor. Pembredelan media massa juga bersamaan dengan pelarangan sejumlah buku dan pertunjukan kesenian sehingga membuat institusi dan mekanisme ekonomi berjalan tanpa koreksi memadai, baik secara moral maupun politik. Di tengah situasi rawan itulah para sastrawan menanamkan kecenderungan mengolah tema sosial dalam karya mereka (Sarjono, 2001: 190).

Setelah Orde Baru tumbang pada 21 Mei 1998 dan Soeharto menyatakan resmi mundur dari kursi kepresidenan, perubahan sosial tidak bisa dielakkan. Di tengah angin segar Reformasi, karya sastra bertema sosial politik gencar dan leluasa dituliskan sehingga muncul semacam kecenderungan baru pada masa pasca-Soeharto, yaitu kebebasan mengutarakan pendapat politis baik yang mengatasnamakan individu maupun kelompok. Kecenderungan ini tampak pada gagasan dan pemikiran yang terkandung dalam karya sastra yang diproduksi saat tahun-tahun awal Reformasi. Fenomena ini berbuntut dengan munculnya gerakan sastra komunitas atau kantung budaya di beberapa kota.

Hal pertama yang penulis dicatat, yaitu sepuluh cerita Eka Kurniawan dalam Coret-coret di Toilet (YAI) ditulis dan terpublikasi pada 1999-2000 setahun pasca Reformasi 1998 di Indonesia. Tulisan ini menggunakan pendekatan yang meyakini bahwa sastra bisa mengandung gagasan yang dimanfaatkan untuk menumbuhkan sikap sosial tertentu–atau bahkan untuk mencetuskan peristiwa sosial tertentu (Damono, 1984: 2). Pendekatan tersebut menyepakati satu kesamaan: perhatian terhadap sastra sebagai lembaga sosial, yang diciptakan sastrawan–anggota masyarakat. Tulisan ini bertujuan membuat analisis umum dan khusus, serta paparan garis besar gagasan dalam cerita di buku tersebut.

Sebagai orang Indonesia yang lahir, tumbuh dewasa dan dibesarkan zaman Orde Baru, Eka menyaksikan langsung dan bersentuhan dengan pelbagai peristiwa dan gejolak sosial politik masa itu. Coret-coret di Toilet adalah debut Eka sebagai pengarang/sastrawan. Sebelum berlangsungnya Reformasi 1998, Eka terhitung sebagai penulis muda yang sedang menempuh studi di tingkat perguruan tinggi. Eka mengalami masa peralihan besar politik dari Orde Baru ke Reformasi yang sebagaimana jelas tergambar pada cerita karangannya. Pada April 2016 Coret-coret di Toilet cetak ulang (Gramedia Pustaka Utama) dengan penambahan dua cerita, antara lain “Dewi Amor” dan “Kandang Babi”.

Kajian Pustaka

Melalui pendekatan sosiologi sastra, teks cerita pendek Eka Kurniawan dianalisis untuk mengetahui strukturnya, untuk kemudian dipergunakan memahami lebih dalam gejala sosial di luar sastra. Atas kebutuhan tersebut, penulis meminjam model analisis Grebstein (1968). Pertama, Coret-coret di Toilet memungkinkan ‘untuk dipahami lengkap jika tidak dipisahkan dari lingkungan yang menghasilkan; dipelajari dalam konteks yang seluas-luasnya, dan tak hanya dirinya sendiri’. Kedua, gagasan dalam Coret-coret di Toilet ‘sama pentingnya dengan bentuk dan teknik penulisannya: bahkan bentuk dan teknik itu ditentukan oleh gagasan’ (dalam Damono, 1984: 5).

Dengan analisis Grebstein, sastra–melalui pembacaan berperspektif sosiologis–ditempatkan selalu berurusan perihal manusia dalam masyarakat, serta boleh jadi usaha pengarangnya menyesuaikan diri untuk mengubah masyarakat. Konsekuensi dari pembacaan ini, sastra dimengerti sebagai unikum yang bisa didekati dengan cara yang sangat subjektif (Damono, 1984: 7-8). Meskipun begitu, penjelasan sosiologis yang subjektif di sini berikhtiar memberi manfaat terhadap karya sastra. Cerita pendek adalah salah satu genre sastra yang pada hakikatnya berupa fiksi, atau prosa dunia rekaan, yang dibaur-lengkapi pengalaman pengarangnya di tengah lingkungan, tempatnya hidup.

Sebuah tesis yang penting digarisbawahi di sini. Bahwa selain faktor politik, Orde Baru tumbang juga dikarenakan kegagalan sistem perekonomian nasional. Kevin O’Rouke (2002) menyebut 1998 adalah tahun penuh kecemasan. Indonesia membutuhkan perubahan yang sangat mendesak. Krisis ekonomi melumpuhkan orientasi ekonomi pasar yang dibangun Orde Baru. Di paruh kedua 1998, nilai barang dan jasa (GDP) menurun sampai 16.5 persen seperti yang terjadi pada 1997. Pada akhir Mei di tahun yang sama, nilai rupiah merosot di angka Rp11.000/$ dengan selisih Rp2.300$ dari tahun sebelumnya (O’Roune, 2002: 2 & 160). Harga impor meningkat. Inflasi pun tidak terbendung.

Rangkaian krisis moneter dan ekonomi pada medio 1997 berdampak pada disintegrasi multidimensional masyarakat. Proses disintegrasi tersebut ditunjukkan dengan pudarnya nilai-nilai sosial-budaya yang menjadi pedoman hidup masyarakat Indonesia dalam waktu lampau dan kini. Hal ini dikarenakan nilai yang ditanamkan Orde Baru seolah-olah tidak berlaku lagi dan masyarakat ragu untuk memegangnya sebagai pedoman hidup sosial. Sehubungan dengan itu, disintegrasi juga berbarengan dengan perjuangan kubu reformasi (rakyat) berhadapan dengan kubu status quo yang masih menguasai lebaga legislatif, ekskutif, dan yudikatif (Soemardjan dalam Sularto, 2001: 130-132).

Namun, perhatian pemerintah pasca Soeharto memperbaiki kondisi ekonomi memusatkan seluruh tenaganya pada economic recovery sehingga terabaikanlah economic reform yang justru merupakan cita-cita dan amanat Reformasi 1998 (Kleden, 2004: 17). Keadaan ini ditambah pelik dengan isu krisis kepemimpinan. Akumulasi keterpurukan ini diperburuk dengan warisan Soeharto lainnya seperti praktik KKN, Dwifungsi ABRI, dan pemberlakuan Daerah Operasi Militer (DOM). Krisis nasional itu mengindikasi istabilitas politik. Alhasil, demokrasi berada di ambang trauma sisaan rezim otoriter korporatis, yang konsentrasi pembangunan dan sentralisasi kekuasaan politik.

Pada gilirannya, intervensionisme negaralah yang lahir dari paham korporatisme sehingga membuat distorsi besar dalam pelaksanaan demokrasi. Pembagian wewenang antara negara dan masyarakat, atau antara pemerintah dan rakyat cukup jelas menurut prinsip demokrasi. Yaitu, negara mengatur dan masyarakat mengawasi, pemerintah mengatur dan rakyat mengawasi. Dalam suatu negara korporatis, pembagian wewenang itu tidak dijalankan, karena negara mengatur sekaligus mengawasi para warganya. Kekuasaan eksekutif dan wewenang untuk kontrol itu direbut oleh negara dan digenggam dalam satu tangan oleh negara dan pemerintah (Kleden, 2004: 21).

Korporatisme negara dalam Orde Baru tidak dikoreksi dengan tepat untuk menghasilkan pembagian wewenang yang lebih baik antara negara dan masyarakat dalam masa reformasi, tetapi malahan mengakibatkan bangkitnya kekuatan-kekuata komunal yang bersifat agresif, yang bukan saja mengancam negara tetapi sekaligus civil society. Misalnya, sektor privat dengan berbagai sentimen golongan dan preferensi kebudayaan mendesakkan diri ke dalam sektor publik atas nama reformasi (Kleden, 2004: 24). Dalam kapasitas isi, hampir semua cerita di Coret-coret di Toilet membongkar otoritarianisme bercorak Orde Baru yang curiga terhadap segala yang berkaitan dengan individu.

Seperti disebutkan, sastra era Reformasi merayakan kebebasan berpendapat. Mengenai hal tersebut, Agus R. Sarjono menyebut dominannya kritik sosial dalam sastra identik pula dengan dominannya masalah sosial dalam kehidupan di luar sastra (Sarjono, 2001: 93). Oleh karena itu, tokoh-tokoh dalam cerita pendek Eka menampilkan dirinya sebagai individu pembebas yang dalam pengertian yang berhubungan dengan hak-hak dan perkembangan seorang individu dalam negara. Melalui cerita-cerita gubahan Eka, akan terlihat gambaran manusia–dengan tipikal problematika kelas menengah/rendah perkotaan seperti mahasiswa–yang mengemanpasi otonominya di tengah kecamuk sosial politik.

Garis besar cerita pendek Eka merawikan politik (Peter Pan, Coret-coret di Toilet), mahasiswa (Teman Kencan, Dongeng Sebelum Bercinta, Kisah dari Seorang Kawan, Kandang Babi), dan kota (Hikayat Si Orang Gila, Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti). Setiap cerita menyediakankan irisan antarwacana satu ke yang lain. Teknik penarasian yang dipakai Eka adalah gaya realis; sehingga cerita akan terasa dekat dengan pembacanya. Cerita Eka menyingkap kegelisahan tokoh manusia menghadapi zaman yang serba krusial. Bahkan, percampuran anasir dongeng dan alegori dengan kenyataan nonfiksi memperhalus gagasan inti sang pengarang ke dalam ceritanya.

Tulisan ini utamanya ditopang buku teori Sosiologi Sastra (1984)–susunan Sapardi Djoko Damono–yang bertujuan mengupas cerita-cerita Eka dengan pendekatan sosiologi sastra. Penulis juga memakai buku penunjang lainnya, antara lain Sastra dalam Empat Orba (Agus R. Sarjono, 2001) dan Kuminasi: Teks, Konteks, Kota (Imam Muhtarom, 2013). Adapun misalnya Masyarakat dan Negara (Ignas Kleden, 2004), Ruang Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto (Abidin Kusno, 2009) dan beberapa buku esai lainnya digunakan untuk melengkapi analisis sehingga memudahkan pembaca dalam memahami konteks di luar karya sastra tersebut.

Analisis Umum

Cerita berjudul Coret-Coret di Toilet adalah yang paling gamblang mengajukan beberapa gambaran jelas mengenai Reformasi 1998. Para tokoh rekaan yang berseliweran di dalamnya merupakan mereka yang tergolong ke dalam kelas menengah. Turunnya Soeharto dari pada 1998 dibenarkan sebagai pertanda bangkrutnya Orde Baru, meskipun kenyataannya kemudian reformasi segala bidang tidak berjalan mulus. Khususnya reformasi birokrasi yang menulai hambatan di mana ‘orang-orang lama’ yang bercokol di pemerintahan masa Orde Baru masih memegang kendali dan pengaruh baik dalam tataran pemikiran maupun keputusan praktis. Suara ketidakpuasan tersurat begini:

Bocah itu berumur dua puluh tahun, berpakaian gaya anak punk dan terkagum-kagum dengan dinding toilet yang polos. Baru dicat dengan warna krem yang centil. Ia merogoh tas punggungnya dan menemukan apa yang dicarinya: spidol. Dengan penuh kemenangan ia menulis di dinding, “Reformasi gagal total, Kawan! Mari kita tuntaskan revolusi demokratik!

(h. 22, CCdT, YAI 2000)

Dalam cerita tersebut, revolusi demokratiklah yang dicanangkan sebagai jalan keluar karena melibatkan kesadaran banyak orang, atau masyarakat luas. Tokoh bocah duapuluhan hendak menekankan pengerahan revolusi demokratik mesti dikomandoi rakyat. Akan tetapi, dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, revolusi diidentikkan dengan pertumpahan darah yang menelan korban jiwa, yang kerap juga ditandai dengan perpindahan suatu politik dari suatu kekuatan politik ke kekuatan politik lainnya. Kegagalan Reformasi ini disuarakan tokoh bocah untuk melegitimasi seruan bombantis nan romantis tentang zaman revolusi sering diibaratkan sebagai zaman peralihan kuasa politik.

Latar tempat yang disuguhkan dalam cerita ini adalah kamar mandi yang berlokasi di salah satu kampus. Hal ini ditunjukan dengan tokoh dekan yang mempunyai kuasa untuk memerintah pekerjaan mengecat ulang dinding toilet. Dalam Coret-coret di Toilet, pandangan reaksioner berhadapan dengan pandangan positivis yang percaya bahwa Reformasi perlu dilihat dan diukur sejauh tahapan demi tahapan; dicapai demi kemajuan bangsa dan negara yang trauma terhadap kediktatoran. Adapun prasaran tokoh dekan tersebut diejawantahkan oleh tindakan dan keputusan ‘mahasiswa alim’ yang menemukan persoalan coret-mencoret yang didapatinya di kamar mandi.

Coret-coret di Toilet menampilkan tokoh mahasiswa alim yang prosedural, seminimalnya konservatif, yang nantinya memperlihatkan contoh kehendak seorang moralis yang sempit pemikirannya dalam melihat keadaan secara objektif, baik politik maupun sosial. Sikap mahasiswa alim tersebut menyebabkan dirinya kurang produktif dalam segi progresitas wacana pikiran dalam membaca kenyataan. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa tersebut justru bersikap ambivalen: ia tidak menyukai vandalisme tapi ikut menulis mengotori dinding dengan coretan nasihatnya. Meskipun demikian, tulisan mahasiswa tersebut bersifat imbauan politik. Simaklah kutipan cerita berikut:

Karena kemudian menjadi tampak kumuh, sang dekan sebagai pihak yang berkuasa di fakultas memutuskan untuk mengecat kembali dinding toilet. Maka terhapuslah buku harian milik umum itu. Tapi seperti kemudian diketahui, tulisan pertama mulai muncul, lalu ditanggapi oleh tulisan kedua, dan ramailah kembali dinding-dinding toilet dengan ekspresi-ekspresi yang mencoba menyaingi kisah-kisah relief di dinding candi. Kenyataan ini membuat gelisah mahasiswa-mahasiswa alim yang cinta keindahan, cinta harmoni dan menjunjung nilai-nilai moral dalam standar tinggi.

Salah satu mahasiswa jenis ini kemudian masuk toilet dan segera saja merasa jengkel melihat dinding yang beberapa hari lalu masih polos sudah kembali dipenuhi gagasan-gagasan konyol dari makhluk-makhluk usil. Ia tak pernah berbuat sesuatu yang bersifat vandalisme, tapi kali ini ia menjadi tergoda luar biasa. Tentu saja karena jengkel. Maka ia pun ikut menulis, walau hatinya nyaris menangis, “Kawan-kawan, tolong jangan coret-coret di dinding toilet. Jagalah kebersihan. Toilet bukan tempat menampung uneg-uneg. Salurkan saja aspirasi Anda ke bapak anggota depan.”

(h. 27-28, CCdT, YAI 2000)

Anggota dewan yang dipandang sebagai pihak yang selama ini membawa petaka dalam keberlangsungan kehidupan negeri; mereka adalah politikus yang tak bisa dipegang omongannya, atau diminta pertanggungjawabannya. Mereka itulah yang membuat ulah dari semua akumulasi krisis bagi negara Indonesia. Perlakuan dan tabiat buruk mereka mendatangkan suatu akumulasi kekacauan bagi nasib bangsa. Imbauan politik mahasiswa alim disimpulkan sebagai sikap yang justru menegasikan tulisan pertama tentang kegagalan Reformasi. Kemiripan sikap tokoh dekan dan mahasiswa alim tidak kontekstual, atau terkesan menutupi kenyataan sosial politik yang sedang terjadi.

Tidaklah mengherankan, setiap tulisan di toilet tersebut merupakan respon masyarakat yang sebetulnya tidak melihat hanya itikad baik dari Reformasi 1998. Hal ini sah-sah saja menimbang sejauh faktanya memang para politikus, yaitu ‘anggota dewan’ tak bisa membuat perubahan, dan selalu mengecewakan rakyat. Tulisan mahasiswa alim direspon cepat dengan “Tulisan pertama berbunyi: “Aku tak percaya bapak-bapak anggota dewan, aku lebih percaya pada dinding toilet.” / Tulisan kedua berbunyi: “Aku juga.” / Dan seratus tulisan tersisa, juga hanya menulis, “Aku juga.” (Kurniawan, 2000: 28).

Eka menawarkan pembacaan sosiologis masyarakat yang diwakili oleh kelas menengah-yang kisaran usianya muda: representasi dari siapa saja yang memberi coretan di toilet. Tokoh-tokoh dalam Coret-coret di Toilet adalah mereka yang terkategorisasi sebagai golongan yang paling relevan dan kontekstual menyadari perubahan politik. Kelompok inilah yang disebut oleh Ben Anderson (2008) sebagai orang-orang medioker yang sinikal. Dalam beberapa coretan dinding di cerita tersebut saling sahut menyahut pun menyiratkan anekdot yang bernuansa sindiran dan main-main. Eka membaurkan keseriusan dengan humor gelap.

Bahkan melalui apa yang kemudian ditulisnya di dinding, yang merupakan ungkapan politis ideologisnya, ia tetap tidak bisa dipastikan apakah sungguh-sungguh punya kelainan perilaku seksual atau tidak. Beginilah apa yang ia tulis: “Kawan, kalau kalian sungguh-sungguh revolusioner, tunjukkan muka kalian kalau berani. Jangan cuma teriak-teriak di belakang, bikin rusuh, dasar PKI!”

(h. 26, CCdT, YAI 2000)

Selanjutnya;

Si bocah merasa lega dan mulailah ia membaca pesan-pesan di dinding dengan kemarahan yang tersisa dari tragedi yang baru saja terjadi. Ia ambil spidol warna birunya dan segera ikut menulis, “Ini dia reaksioner brengsek, yang ngebom tanpa dibanjir! Jangan-jangan tak pernah cebok pula. Hey, Kawan, aku memang PKI: Pecinta Komik Indonesia. Kau mau apa, heh?”

(h. 27, CCdT, YAI 2000)

Dari kutipan sebelumnya tampaklah kebebasan masing-masing tokohnya menyatakan sikap pendiriannya, baik serius maupun sekadar ejekan. Selain cerita Coret-coret di Toilet, unsur anekdot dan humor gelap juga tersuguh dalam cerita lainnya di buku Eka. Meskipun demikian, topik politik selalu menjadi gagasan yang utama. Para tokoh yang dikonstruksi Eka adalah mereka yang lebih kurang punya persentuhan langsung dan tidak langsung dengan wacana politik. Pembahasan selanjutnya merupakan analisis khusus mengenai politik, mahasiswa, dan kota yang uraiannya deskriptif; membedah per cerita dengan pendekatan sosiologis.

Analisis Khusus: Politik

Cerita Peter Pan menampilkan latar peristiwa di sebuah negara–dinakhodai suatu rezim penguasa–yang menunggu kehancurannya. Tokoh Tuan Putri dimunculkan sebagai sosok yang serba tahu mengenai aktivitas Peter Pan, dan punya relasi pribadi tersendiri terhadap tokoh utama, Peter Pan, yang memang bergiat dalam gerakan politik bawah tanah. Dalam cerita ini, terdapat kesenjangan antara orang miskin dan orang kaya yang diukur dari kehidupan bergelimang harta pejabat. Ada semacam konglomerasi kaum elit di atas kepentingan masyarakat banyak, di atas penderitaan rakyat. Peter Pan simbol pembebas–disebut sebagai aktivis–yang tak gentar menentang diktator.

Tokoh dongeng Peter Pan ditulis oleh drawaman kelahiran Skotlandia, J.M. Barrie (1860–1937) dipinjam Eka guna mengasosiasikan kesepadanan hidup aktivis di Indonesia pada Reformasi. Secara sosiologis, Eka menaruh perhatian terhadap aspek dokumenter sastra dan minat menulis karya yang mencerminkan zaman. Latar peristiwa yang terjadi dalam Peter Pan mengilasbalik langsung struktur sosial dan pertentangan kelas di Indonesia. Oleh karena itu, pengalaman tokoh khayali dan situasi ciptaan Eka berkesesuaian dengan keadaan sejarah yang bercorak asal usulnya. Tema dan gaya yang bersifat pribadi dalam cerita berubah menjadi hal-hal sosial sifatnya (Damono, 1984: 9).

Di negara bersistem demokrasi, kediktatoran sangat kontraproduktif dan sudah tentu menghambat keberlangsungan sistem tersebut. Eka menawarkan kritik yang sarkastik, lagi-lagi humor gelap, dengan mengadopsi bangunan cerita Peter Pan yang berupa dongeng, untuk menyatakan bahwa kediktatoran tersebut pada kenyataannya merujuk pada Orde Baru Soeharto. Humor, misalnya, diselipkan betapa Soeharto selama jangka yang panjang memimpin telah “menutup kesempatan orang yang memiliki bakat menjadi presiden,” (Kurniawan, 2000: 3). Kesegaran humor tersebut mengindikasikan bahwa situasi politik negerinya disadari oleh pengarang cerita. Eka menulis:

Tuan Puteri berkata padanya bahwa di mana-mana rakyat begitu miskin sementara para pejabat hidup mewah. Negara sudah di ambang bangkrut karena hutang luar negeri dan sang diktator sudah terlalu lama berkuasa, menutup kesempatan kerja bagi orang yang memiliki bakat menjadi presiden. Menurut Tuan Puteri, itu semua alasan-alasan yang cukup untuk pengumuman perang. Tapi laki-laki itu keberatan. Katanya, alasan seperti itu sudah terlalu banyak diketahui orang tapi nyatanya tak seorang pun menyatakan perang karena itu.

(h. 3, PP, YAI 2000)

Politik Orde Baru roboh saat mencapai totalisasi sistemik yang kelewat batas. Ketidakpercayaan yang merebak di benak masyarakat (komunitas kewargaan) terhadap kekuasaan Soeharto mengikis pengaruh dari totalisasi Orde Baru. Tokoh Peter Pan tampil ibarat pahlawan dongengan, yang merepresentasi rakyat kecil, dengan kegiatan dan tindak tanduk yang melawan penguasa. Namun, alegori penguasa yang tidaklah lain kaum elite, dibayangkan sebagai Orde Baru ini, bersikeras untuk tetap mempertahankan kemandulan pemerintahannya. Tokoh Peter Pan yang digambarkan sebagai jelmaan aktivis bawah tanah bersikeras membuktikan kebangkrutan rezim yang sudah di ujung tanduk.

Mereka berkumpul bersama dalam satu kesepakatan bahwa diktator memang tak layak lagi dipertahankan. Senyumnya yang sering muncul di televisi dan tercetak di uang kertas sudah mulai terasa menyebalkan. Hari-hari dilewati hanya dengan turun dan turun ke jalan, dalam satu hiruk-pikuk yang sama: Turunlah Tuan Presiden sebelum kami membakarmu hidup-hidup dalam api revolusi. Itulah hari yang paling subversif selama kekuasaan sang diktator yang sudah mulai berkarat.

Bagaimana nasibnya setelah itu, tak banyak yang tahu. Mungkin hanya sang diktator sendiri yang tahu. Bahkan ketika sang diktator akhirnya tumbang oleh aksi-aksi jalanan, oleh kerusuhan yang melanda kota-kota karena ribuan buruh dipecat dari pabrik-pabrik, dan oleh perang antara tentara dan mahasiswa yang membanjirkan darah di layar televisi dan surat kabar, kami tak juga menemukan Peter Pan. Bahkan bau mayatnya pun tak tercium oleh hidung kami. Peter Pan lenyap, hanya menjadi legenda dan mitos di antara kami yang menjadi tak berdaya.

(h. 8-9, Peter Pan, YAI 2000)

Kebulatan suara rakyat menjelang Reformasi 1998 adalah tuntutan penggulingan Soeharto. Massa yang merespons gejala ini adalah mereka yang percaya bahwa suksesi pemerintah baru perlu dilangsungkan. Tahun-tahun menjelang kejatuhan Soeharto, misalnya di bidang kesenian teater, kelompok Teater Koma mengalami pencekalan untuk mementaskan drama bertajuk Suksesi dan Opera Kecoa pada 1990. Kedua lakon tersebut menyinggung pemerintah. Pembatalan izin pementas Teater Koma menunjukkan kesenian merupakan salah satu alternatif mengkritik politik, sedangkan pihak berwajib, dalam hal ini aparat Orde Baru, melihatnya sebagai tindakan subversif.

Di saat aksi demonstrasi merebak di sejumlah kota besar di Indonesia, termasuk Jakarta, menyebarlah serentak wacana krisis nasional. Di daerah-daerah, demonstrasi meletus dimulai dari tingkat universitas hingga ke pelosok desa. Dari kutipan sebelumnya, demontrasi tampil dalam cerita Eka yang tujuannya tidaklah lain pengganyangan sang diktator. Eka lebih memilih kata ‘revolusi’ untuk menyebut gerakan perlawanan dari bawah tersebut. Metafora ‘darah’ mengacu secara tidak langsung pada ingatan Tragedi Semanggi I (11-13 November 1998) menewaskan 17 warga sipil dan disusul Tragedi Semanggi II (24 September 1999) menewaskan 11 orang dan 217 korban luka-luka.

Cerita Peter Pan mewujud sebagai realisasi Eka selaku pengarang yang sadar menghubungkan sastra dan situasi sosial politik. Artinya, sastra dan masyarakat saling memberi pengaruh (Damono, 1984: 9). Tokoh Peter Pan dalam cerita Eka merupakan pengibratan atas tokoh dongengan yang ada tidaknya tetapi diyakini ada. Begitulah keberadaan para aktivis ‘dilenyapkan’ dan diculik oleh rezim penguasa Orde Baru. Kelompok aktivis tersebut, bagi pihak penguasa, adalah penentang yang memperjuangkan demokrasi. Dalam kepentingan itu, Eka menanggapi kerja sistem demokrasi yang tidak sehat dan penuh kerancuan dalam kendali Soeharto.

Sekurang-kurangnya, Peter Pan mengingatkan kita, kepada sosok aktivis seperti Wiji Thukul yang hilang rimbanya. Peter Pan adalah representasi mereka yang melegenda sebagai tokoh Reformasi 1998. Cerita ini mengundang pertanyaan besar perihal siapa dalang di balik hilangnya Peter Pan, atau siapa dalang di balik penculikan para aktivis? Cerita ditutup dengan tidak diungkapkannya rahasia mengenai sosok ‘penjahat besar’ yang hanya dikatakan tokoh Tuan Putri, dan barangkali pengarang cerita yang serba tahu (tokoh aku si narator). Eka menulis, “Siapa penjahat besar yang dimaksud Tuan Puteri, kupikir aku tak perlu menuliskannya” (Kurniawan, 2000: 10).

Dalam pandangan sosiologis, cerita Eka seperti ajakan melihat dunia sastra melalui perhubungannya dengan konteks Orde Baru guna menunjukkan bahwa dunia sastra tidaklah sepenuhnya terpisah dari pergolakan sekitar yang dialami penulis sendiri atau sekaligus terlebih luasnya masyarakat Indonesia. Dengan kata lain, cerita Peter Pan merupakan suatu itikad penyadaran yang paling mungkin dikontribusikan dunia sastra untuk mengkritik juga membongkar borok pemerintah Orde Baru yang mengutamakan penyeragaman ketimbang menghargai perbedaan; dan condong otoriter karena telah mengekang kehidupan sosial politik, serta budaya, selama kurun waktu tiga puluh tahun lebih.

Analisis Khusus: Mahasiswa

Cerita Eka lainnya yang menyoal sisi mahasiswa berjudul Dongeng Sebelum Bercinta yang mengisahkan tokoh utama perempuan bernama Alamanda. Secara singkat, Alamanda dinikahkan, di atas keputusan orang tuanya, dengan seorang sepupu laki-laki kaya raya dengan warisan banyak yang sudah sejak lama menaruh hati kepadanya; akan tetapi cinta laki-laki tersebut hanya isapan jempol bagi Alamanda. Maka, setelah resmi menikah, Alamanda menolak secara halus ajakan ‘bercinta’ alih-alih ia mendongengkan Alice in Wonderland kepada si suami. Di tengah proses mendongeng itulah Alamanda terkenang masa lalu ketika berpacaran dengan kekasih terdahulu semasa kuliah.

Dalam cerita Dongeng Sebelum Bercinta, tokoh Alamanda menentang totalitarianisme di institusi keluarganya dengan kesadarannya tentang kebebasan saat ia kuliah di Yogyakarta (Pemberontakan yang kedua: istilah Eka, h. 17, YAI). Eka menampilkan bahwa kota adalah tempat rantauan untuk mengevolusi diri. Di sanalah pengalaman dan pemahaman manusia akan dunia, menjadi lebih maju dan terdewasakan; sehingga tampak semacam akselerasi intelektualitas tokoh Alamanda yang dijabarkan dalam cerita. Dengan begitu, sebuah kota menjadi sumber penyedia pengetahuan. Alamanda digambarkan sebagai manusia kota yang melihat ‘suatu keberanian hidup’ (h. 17-18: YAI).

Pemberontakannya yang kedua ia lakukan ketika ia menjadi mahasiswi di Yogya. Jauh dari keluarga ia seorang memperoleh kebebasannya. Ia kencan dengan seorang gembel. Sorang mahasiswa dengan prestasi agak buruk: miskin, pemabuk, dan hidup hanya untuk bermain musik bersama teman-temannya. Tapi ia sangat romantis, dan di matanya ia melihat suatu keberanian hidup. Si gembel suatu ketika pernah berkata:

“Orangtuaku tuan tanah licik, borjuis yang menyebalkan. Walaupun miskin, aku telah bebas darinya dan tak ada kesulitan kalau harus membebaskan seorang lagi. Apalagi gadis secantikmu, Alamanda.”

(h. 18, DSB, YAI, 2000)

Pandangan ‘keberanian hidup’ diperoleh Amanda dari kekasihnya semasa di kampus. Hubungan pandangan tersebut dengan pembentukan karakter tokoh dipertegas melalui pengalaman yang sama dialami Alamanda dan kekasihnya. Keduanya mahasiswa dan keduanya menentang kemapanan dalam artian suatu kediktatoran dalam bentuk apa pun. Dalam cerita ini, kata ‘borjuis’ dipandang sinis karena berlain haluan dengan tuntutan kehendak gerakan dan pikiran tokohnya. Oposisi yang dimaksud, yaitu tokoh Alamanda beserta kekasihnya mengasosiasikan diri mereka ke dalam proletar; disebabkan keduanya menunggangi status kemahasiswaannya, untuk berantagonis dengan yang-borjuis.

Untuk itu, menyoal Dongeng Sebelum Bercinta setidaknya memerlukan pendekatan sosiologi terhadap sastra yang terbagi menjadi dua jalur utama. Pertama, positivisme; usaha untuk mencari hubungan antara sastra dan beberapa faktor seperti iklim, geografi, dan ras. Bagian perpindahan Alamanda ke Yogyakarta dianggap sebagai fakta seperti halnya faktor-faktor lain tersebut. Eka sekiranya hendak mewajarkan motif perpindahan geografis tersebut agar proses perkembangan kesadaran tokoh ceritanya diterima pembaca dan menjadi logis. Yogyakarta, yang tenar berkat julukan kota pelajar, berkembang menjadi mitos ‘sebagai kota kelahiran kedua’ bagi pelancong (Santosa, 2003: 28).

Kedua, yakni pandangan bahwa sastra bukan sekadar pencerminan masyarakatnya: sastra merupakan usaha manusia untuk menemukan makna dunia yang semakin kosong dari nilai-nilai sebagai akibat adanya pembagian kerja. Pendekatan ini menomorsatukan nilai di antara aspek-aspek lain dalam penelaahan sastra. Sosiologi sastra terutama berupa penelaahan nilai-nilai yang harus dihayati oleh orang-orang dan masyarakat (Damono, 1984: 18). Pandangan kedua ini tampak pada inisiatif Alamanda yang mendongengkan suaminya sebelum bercinta sebagai tindakan mengulur ‘percintaan’ karena merasa si suami bukanlah jodohnya (Pemberontakan yang pertama, h. 15, YAI).

Seperti yang dijelaskan sebelumnya, ‘kebebasan’ menjadi perkara penting bagi mahasiswa. Alamanda memposisikan diri sebagai pembebas bagi kaum marginalia. Sikap keberpihakan Alamanda ketika jadi mahasiswa ini bertujuan membongkar konstruksi totalitarianisme yang melanggengkan suatu kekuasaan politik. Kisah cinta Alamanda di sekolah kelas menengah (SMA) pun dikisahkan ulang oleh Eka. Alamanda kecewa dengan kekasih yang tidak berani membawanya lari dari rumah (guna menghindari perjodohan dengan sepupu). Bagi Alamanda, kekasihnya semasa SMA tidak lebih dari pengecut. Eka menambahkan sindiran politis atas kepengecutan. Perhatikan kutipan berikut:

Sang kekasih konon melanjutkan karir masuk ke angkatan laut. Ingin sekali waktu itu Alamanda menulis surat pada Yang Terhormat Tuan Panglima, memberi tahu bahwa tentara telah melakukan kesalahan besar menerima seorang pengecut macam dia! Ya, pengecut yang telah mencampakkan dirinya lagi ke dalam totalitarianisme sang ayah yang kaku. Uh, brengsek!

(h. 17-18, DSB, YAI 2000)

Tampak sekali Eka mengasosiasikan kepengecutan kekasih Alamanda di bangku SMA dengan institusi militer yang disebutnya. Kritik terhadap totalitarianisme ditampilkan pada penulisan gelar ‘Yang Terhormat Tuan Panglima’ yang secara khusus merujuk pada Soeharto selaku pimpinan tertinggi militer di Indonesia, atas secara umum pemerintah Orde Baru. Dongeng Sebelum Bercinta menyoroti mahasiswa, pada zaman yang menjelang keruntuhan Orde Baru Soeharto, yang menentang segala jenis kekuasaan tangan besi. Cerita ini ditutup dengan ketakutan Alamanda yang merasa tidak perawan lagi di mata si suami sambil mengenang percintaannya dengan kekasihnya di kampus.

Sepanjang Orde Baru, dwifungsi ABRI mempersilakan militer guna menempatkan negara dan bangsa atas landasan peluncuran pembangunan yang berdalih mengubah tingkat kesejahteraan masyarakat. Dalih tersebut kandas sebab Soeharto terlalu lama berkuasa sehingga dwifungsi majal fungsinya. Militer pun dihinggapi waham kekuasaan. Tokoh Alamanda mengutarakan ironi yang sebetulnya mengkritik institusi kemiliteran yang merupakan tempat bagi para pengecut. Setelah Soeharto turun, tabir Orde Baru terbuka. Dosa ABRI, terutama TNI AD seperti pelanggaran HAM, penyalahgunaan kekuasaan, operasi kotor, dan rekayasa politik (Habib dalam Sularto, 2001: 77-89).

Selain Dongeng Sebelum Bercinta, cerita berjudul Teman Kencan menawarkan sisi lain dari kehidupan aktivis, yang disuguhkan semacam kisah mahasiswa pergerakan, yang tidak melulu menghadapi persoalan politik nasional. Sisi kehidupan yang disuguhkan sangat pribadi, yaitu percintaan. Dinamika kegiatan bawah tanah yang membuat jurang antara hidup normal dan tak normal bagi aktivis. Jurang itu membuat tokoh utama (laki-laki) bertekuklutut tidak berdaya menyelesaikan masalah dengan tokoh perempuan bernama Ayu yang merupakan mantan kekasihnya. Eka membuka sudut pandang lain perihal biografi seorang aktivis perjuangan melalui monolog si tokoh utama:

Ayu, kekasihku yang minggat itu, memanglah punya senyum yang bisa bikin kasmaran siang dan malam, tujuh hari tujuh malam, dalam sekali lirik. Gila. Sayang sekali dia minggat sudah dan aku masih ingat kata-kata terakhirnya di telepon, “Oke, Boy. Aku punya dunia sendiri dan kau seorang activist yang juga punya dunia sendiri. Kau terlampau asyik dengan duniamu. Baiknya kita berhenti saja sampai di sini. Selamat jalan, Anak Manis!”

(h. 32-33, TK, YAI 2000)

Cerita Teman Kencan mengandung unsur ironi yang memilukan. Hal inilah yang merupakan pendekatan sosiologi sastra kedua dalam analisis sebelumnya atas Dongeng Sebelum Bercinta. Kegalauan tokoh cerita yang disisipkan Eka diartikan usaha manusia menemukan makna dunia yang semakin kosong dari nilai-nilai sebagai akibat adanya pembagian kerja (tokoh utama = aktivis). Dalam keadaan bawah sadarnya, tokoh aktivis menyanyikan Darah Juang ketika dilanda perasaan tak menentu memikirkan nasib ditinggal kekasih. Pilihan lagu tersebut mengindikasikan sisi manusiawi seorang yang memegang idealisme perjuangan walau membuatnya terkesan seorang pecinta yang gagal.

Kutelusuri jalan yang gelap dan sepi sambil kunyanyikan Hymne Darah Juang dengan kencang tapi segera kuhentikan karena merasa tidak cocok dengan suasana romantis yang sedang kubangun. Lalu kuganti, menyanyikan Dari Sabang sampai Merauke

(h. 35, TK, YAI 2000)

Meskipun demikian, Wellek dan Warren (1956: 92) mengatakan bahwa tanpa mengetahui metode artistik pengarang dalam teks, pembaca bisa berkesimpulan keliru tentang kenyataan sosial. Sebelum menerapkan anggapan “sastra sebagai cerminan masyarakatnya”, sebaiknya terlebih dahulu mengetahui apakah karya itu realistis, karikatural, romantis, atau satiris (dalam Damono, 1984: 21). Dalam pandangan demikian, cerita Teman Kencan bisa dinilai sebagai sebuah satir. Eka menawarkan drama yang tragis: menampilkan krisis eksistensial aktivis yang ditaklukan oleh permasalahan cinta yang mengalihkan fokus tugasnya untuk memperjuangkan panggilan sosialnya.

Problematika mahasiswa juga tampak pada cerita berjudul Kisah Dari Seorang Kawan yang berlatar kampus pada saat magrib, menjelang malam. Kampus, tempat mahasiswa menuntut ilmu, dideskripsikan sebagai tempat kumuh dan penuh rongsokan. Di tempat tersebut para mahasiswa, para aktivis gerakan, para pecinta alam, para jurnalis-jurnalis dan sebagian orang-orang nomaden yang tidak memiliki pondokan berada (Kurniawan, 2000: 85). Cerita ini mengisahkan pertemuan empat mahasiswa yang asyik mengobrol sambil mengalihkan rasa lapar. Setiap mahasiswa yang terlibat dalam obrolan tersebut memiliki latar belakang kehidupan berbeda. Eka membuka ceritanya:

Senja selalu jatuh lebih cepat di dalam kampus, karena pohon-pohon flamboyan rindang menaungi dan sinar matahari menghilang lebih dini ditolak daun-daun dan bunga-bunga. lampu-lampu jalan, lampu pelataran, lampu taman, dan lampu di pos satpam mulai menyala. Malam terasa meluncur lebih cepat lagi.

Di kala itulah para gelandangan kampus mulai menggeliat. Merekalah para mahasiswa, nyawa kampus, para aktivis gerakan, para pecinta alam, seniman-seniman, jurnalis-jurnalis dan sebagian memanglah orang-orang  nomaden yang tidak memiliki pondokan. Ruang-ruang kumuh yang penuh rongsokan menjadi tempat tinggal mereka dan lorong-lorong, tangga, serta kursi menjadi teman tidur yang indah.

(h. 85, KdSK, YAI 2000)

Eka menganggap mereka yang bergumul di kampus hingga malam adalah mereka yang digolongkan sebagai ‘gelandangan’. Klasifikasi ini bukan tanpa maksud. Eka seperti hendak mengajukan lagi sudut pandang lain mengenai sisi kehidupan mahasiswa yang tidak heroik. Kisah Dari Seorang Kawan bernada seperti Teman Kencan yang mengandung satir. Akan tetapi, kehadiran ‘gelandangan’ di waktu atau jam yang memang bukan perkuliahan tersebut boleh jadi merupakan aktivitas untuk membungkam suatu kebijakan normalisasi kehidupan kampus yang pernah berlaku pada akhir dekade 1970an dengan peraturan NKK/BKK.

Tokoh-tokoh mahasiswa yang terlibat obrolan antara lain, (1) Mahasiswa Baret Guevara, (2) Mahasiswa Berkaki Pincang, (3) Mahasiswa Kurus yang Melankolis, dan (4) Mahasiswa Gondrong. Masing-masing dari mereka saling bersanggah dan berdebat mengenai cerita ayahnya. Mahasiswa ke-1 yang berpostur tinggi mengawali obrolan bercerita bagaimana ayahnya seorang militer (tentara). Mahasiswa ke-2 mengatakan kalau ayahnya seorang petani. Sedangkan mahasiswa ke-3 menjelaskan profesi ayahnya sebagai guru di sekolah dasar. Mahasiswa ke-4 yang bermuka kotor mengakui ayahnya tahanan kriminal.

Dalam analisis Goldmann karya sastra harus dipahami sebagai totalitas yang bermakna; memiliki kepaduan total, dan bahwa unsur-unsur yang membentuk teks itu mengandung arti hanya apabila bisa memberikan suatu lukisan lengkap dan padu tentang makna keseluruhan karya sastra (Damono, 1984: 39). Cerita Kisah Dari Seorang Kawan dibangun oleh percakapan demi percakapan yang mengerucut pada pemaknaan keberadaan mahasiswa di kampus. Dalam hal ini, percakapan antarmahasiswa tersebut merupakan unsur penting dalam cerita. Totalitas pemaknaan semakin jelas ketika mahasiswa ke-4 panjang lebar bercerita.

Mahasiswa ke-4 menjabarkan kronologi permasalahan yang menimpa ayahnya sebagai pedagang kecil. Seorang saudagar kaya yang entah dari mana membeli delapan kios di pasar tempat ayah mahasiswa ke-4 berjualan. Delapan kios milik saudagar digunakan untuk berjualan beras. Kehadiran ‘gudang beras’ tersebut memiliki pasar tersendiri terutama ibu-ibu rumah tangga yang juga dikenal para pedagang lainnya termasuk ayah mahasiswa ke-4. Puncak masalah dalam cerita pengakuan tokoh mahasiswa ini adalah pemberitahuan kenaikan harga beras yang melonjak tinggi. Eka menyuguhkan dialog yang khas bergaya mahasiswa:

“Setan kapitalisnya mulai muncul,” si Kaki Pincang berkomentar.

“Begitulah,” kata si Gondrong.

“Apa yang terjadi kemudian?” tanya si Wajah Melankolis.

“Kau tahu,” kata si Gondrong. “Kalau beras dijual empat ratus rupiah per kilogram, itu berarti kau dapat untung yang sedikit benar. Tak adalah artinya untuk bisa menghidupi keluarga. Tapi tidak menjadi soal buat si saudagar besar itu. Ia punya banyak uang. Dan sekarang, karena menjual lebih murah ia bisa menjual lebih banyak.

(h. 89-90, KdSK, YAI 2000)

Mendengar cerita tersebut, ketiga mahasiswa lainnya terpancing amarahnya. Jiwa mereka mendidih, berkobar dari ucapan interupsi masing-masing. Kemarahan ayah mahasiswa ke-4 tidak bisa dibendung ketika sudagar ‘gudang beras’ membandrol enam ratus rupiah untuk beras jualannya. Ayah mahasiswa ke-4 pulang ke rumah untuk mengambil golok dan datang kembali ke pasar untuk menghabisi nyawa saudagar tersebut. Cerita mahasiswa ke-4 habis sampai di situ. Eka pun memutar arah ceritanya dengan menuturkan suasana dan lanskap taman ke ruang kuliah, tempat perpindahan terakhir keempat mahasiswa, setelah kantin ditutup.

Ketika malam semakin bergerak, mereka beranjak dari tempat duduknya yang berupa balok beton penghias taman. Tersaruk-saruk mereka menelusuri koridor ruang-ruang kuliah menuju ruang kantin.

Meja-meja dan kursi-kursi berderet tak teratur sebagaimana terakhir kali ditinggalkan para mahasiswa siang tadi ketika kantin tutup. Keempatnya tak pernah mampir di kantin tersebut kalau siang, karena harganya mahal. Hanya mahasiswa-mahasiswa asing dan mahasiswa-mahasiswa borjuis biasa makan di situ, memisahkan diri dari gerombolan mahasiswa lain yang makan di kantin kumuh di samping tempat parkir.

Keempatnya menemukan kotak makanan tergeletak di meja makan. Seporsi makanan yang nyaris utuh, hanya bekas sedikit dicicipi. Tampaknya si pelanggan keburu tak berselera. Si Gondrong menciumi makanan itu dan berkataa:

“Tidak basi!”

Keempat kawanan itu lalu memakannya bersama-sama. Mengobati rasa lapar untuk malam hari mereka yang tak begitu indah, yang segera akan mereka lalui.

(h. 91-92, KdSK, YAI 2000)

Cerita Kisah Dari Seorang Kawan dipungkas Eka dengan penemuan makanan sisa yang bisa mengganjal perut kosong keempat tokoh mahasiswa tersebut; seakan-akan cerita tragis mahasiswa ke-4 menguap begitu saja. Dari ketiga cerita Dongeng Sebelum Tidur, Teman Kencan, dan Kisah Dari Seorang Kawan menarasikan sisi psikologis mahasiswa sebagai individu maupun kelompok. Stigma fungsional tentang mahasiswa sebagai agen perubahan yang gagah berani hanya ditampilkan sekadar pelengkap sikap dasar yang diawali oleh jebakan kepentingan pribadi (individu). Mahasiswa dalam cerita Eka adalah mereka yang menanggung beban hidup manusiawi pada umumnya.

Analisis Khusus: Kota

Sebuah term mengatakan sastra dilahirkan lingkungannya. Dalam pendekatan sosiologi sastra, habitat sastrawan memberi pengaruh besar pada hasil karyanya. Sebagai ibu kota, Jakarta memainkan sebuah protoripe kota besar Indonesia yang menjalani babakan-babakan sejarahnya yang langsung dan tidak langsung yang tercermin pada kehidupan sastra di kota bersangkutan (Sarjono, 2003: 1). Bagian yang tak terpisahkan dari kota adalah penghuninya. Pada beberapa ceritanya, Eka menjadikan kota sebagai latar tempat terjadinya peristiwa sosial dan politik seperti yang tampak jelas pada Peter Pan dan Dongeng Sebelum Bercinta.

Contoh lainnya di Coret-coret di Toilet, yaitu cerita Hikayat Si Orang Gila yang mempertegas pemeo betapa kota muara peruntungan nasib manusia atas bermacam tujuan atasnya dipertaruhkan. Dengan risiko, kota itu sendiri mengancam keberlangsungan penduduknya. Dalam cerita ini tergamblangkan keadaan yang gegap gempita, di mana chaos masyarakat tidak bisa ditanggulangi. Cerita ini bernuansa satir. Tokoh Orang Gila terancam keberadaannya di tengah kota yang manusianya kehabisan kemanusiaan. Dalam kesehariannya, Orang Gila tidak memedulikan apa pun, kecuali urusan makanan yang bisa diperolehnya agar dapat bertahan menyambung hidup. Eka menulis:

Si Orang Gila hanya memandangnya tanpa reaksi. Ia mengenalinya sebagai gadis yang hampir tiap pagi memberinya makanan, tak lebih dari itu. Sampai sejauh ini ia pun hanya menduga si gadis akan memberinya sesuatu yang dapat dimakan.

“Ayo tinggalkan kota!” kata si gadis lagi.

Masih tak ada reaksi.

Kemudian rentetan senjata mulai terdengar kembali. Bergemuruh dan bersahutan. Bergerak semakin cepat.

“Cut Diah! Cepat kau! Berangkat kita!” seorang perempuan tua berteriak dari atas truk.

Si gadis masih menatap si Orang Gila dengan cemas, dan perlahan mundur berlari menuju truk.

(h. 49, HSOG,  YAI 2000)

Orang Gila adalah saksi pecahnya kerusuhan yang berlangsung di kota. Dalam cerita inidituturkan adegan baku hantam senjata antarkelompok. Karena modal sosial hidupnyalah maka jadilah wajar Orang Gila tak dipedulikan. Ia pihak yang tak dianggap kehadirannya atau faedahnya. Bagaimanapun juga, pandangan dan pilihan hidup Orang Gila terhadap aspek keruangan kota menentukan orientasi sosialnya. Secara umum, posisi ruang itu nyaris tak berbeda dengan norma yang menetapkan gerak tubuh motorik; walau Orang Gila condong dikendalikan ketidaksadaran (bawah sadar). Hikayat Si Orang Gila mendeskripsi ruang yang memungkinkan perjumpaan sosial tokohnya:

Nun jauh di sana di suatu tempat, bunyi mesin perang mulai terdengar lagi. Mulanya perlahan, lalu mulai bersahutan. Terseok-seol menopag tubuhnya yang hanya meninggalkan belulang, kaki si Orang Gila mulai melangkah menelusuri jalan menuju sumber bunyi itu. Mungkin ia hanya menduga salakan senapan pembunuh itu bisa memberinya makan. Memberi suatu untuk perutnya yang menyedihkan itu.

Maka ia tinggalkan kota kecilnya yang telah demikian ia akrabi. Tak ada yang melepas kepergiannya, pun tak ada yang menangis untuknya.

(hlm. 52, HSOG, YAI 2000)

Dalam cerita ini, kota ditunjukkan Eka melalui sisi negatifnya dan seakan tidak menyediakan peluang alternatif untuk mengukuhkan kelayakan tempat bagi impian dan harapan. Kota adalah habitat bagi mereka yang pesakitan dan menjadi korban pertikaian. Sekali pun demikian, warga sipil digambarkan juga kurang jelas apa motif kenapa mesti mengungsi keluar kota, dan tidak menjadi korban dari kerusuhan yang meletus oleh mereka yang baku hantam senjata. Tokoh Orang Gila yang mengakrabkan dirinya (untuk sekadar menyambung makan), menyesuaikan lika-liku selama bergelandang, bahkan terdorong untuk menyongsong desakan perubahan yang melanda seisi kota.

Pada masa Orde Baru, kota merepresentasi kelas menengah yang dibayangkan sebagai ruang hidup yang modern bagi mereka. Penciptaan kultus tersebut menghapus memori sejarah kota di bawah rezim Soekarno (Kusno, 2009: 65-66). Kerusuhan yang tergambar dalam cerita menyatakan hanya kota hancur lebur yang layak ditempati orang kelas bawahan. Sebab, modernitas di kota dibangun pula atas ketakutan untuk menjadi kelas bawah. Orang Gila dalam Hikayat Si Orang Gila adalah manifestasi atas bagian kecil dari kelompok yang diabaikan oleh mobilitas kemajuan kota. Mereka pihak yang dinihilkan identitas dan eksistensinya dalam proses membangun sebuah kota.

Di samping itu, cerita ini mengilustrasikan kekejaman kota, melebihi kekejaman di atas nilai kemanusiaan itu sendiri. Akan tetapi, pengecualian tersemat pada tokoh Cut Mutia, yang berupaya menolong Orang Gila pun, walau pada akhirnya rasa empatinya berlandaskan perasaan iba belaka. Sekali lagi, di sini Eka hendak menyampaikan bahwa kota bukanlah tempat yang aman dan layak huni bagi manusia yang sehat. Menurut pendekatan sosiologi sastra, sebagai produk dari dunia sosial yang senantiasa berubah-ubah, Hikayat Si Orang Gila merupakan kesatuan dinamis yang bermakna, sebagai perwujudan nilai-nilai dan peristiwa-peristiwa penting zamannya.

Menurut Goldmann (1913–1970), kegiatan kultural yang tertuang di karya sastra tak bulat dipahami di luar totalitas kehidupan masyarakt yang penginspirasi. Artinya, Hikayat Si Orang Gila tidak utuh ditelaah jika mengesampingkan Eka selaku pengarang; sehingga mencerai pengarang dari hubungan sosio-historis yang melibatkannya berarti berpeluang mereduksi pemaknaan. Perilaku Orang Gila dan peristiwa di sekitarnya–dikisahkan Eka berupa gambaran kesaksian dari secuil kenyataan dan situasi penghuni kota–membawa ingatan sejarah paling berdarah dari Reformasi 1998 yang ditandai, misalnya, dengan kerusuhan antaretnis di ibu kota hingga Tragedi Timor Timur.

Selain itu, Goldmann juga mengembangkan konsep tentang pandangan dunia (vision du monde) yang terwujud dalam karya sastra. Pandangan dunia ini diartikan suatu struktur global yang bermakna, suatu pemahaman total terhadap dunia yang mencoba menangkap maknanya–dengan segala kerumitan dan keutuhannya (Damono, 1984: 40-41). Dalam cerita-cerita Eka, pandangan dunia ibarat himpunan pikiran yang total mencoba menangkap kenyataan sebagai suatu yang utuh–seperti empiris dan tragik–yang erat kaitannya dengan kelas-kelas sosial. Tokoh (individu) –dengan aneka latar kulturnya–dalam cerita Eka membawa pandangan kelas sosial masing-masing.

Pandangan dunia ini, bagi Goldmann, merupakan struktur gagasan, aspirasi, dan perasaan yang dapat menyatukan suatu kelompok sosial di hadapan suatu kelompok sosial lain. Dengan begitu, pandangan dunia menjadi suatu abstraksi yang mencapai bentuk konkrit dalam cerita Eka. Dalam cerita Coretcoret di Toilet dan Kisah dari Seorang Kawan yang dijelaskan sebelumnya menampilkan ekspresi teoretis dari kondisi dan kepentingan yang nyata dari suatu sastra bertema sosial. Pada kedua cerita tersebut pandangan dunia menjelma sebentuk kesadaran kolektif yang menyatukan individu-individu menjadi suatu kelompok yang memiliki identitas kolektif (Damono, 1984: 41).

Kembali ke pembahasan ruang. Dalam lanskap perkotaan, waktu bukanlah milik pribadi, melainkan ditentukan oleh sesuatu di luar individu. Oleh sebab itu, ruang di kota lagi-lagi bukan sesuatu yang netral dan tidak setiap orang dapat mengaksesnya dengan mudah. Ruang dalam kota erat berkait dengan bagaimana modal mewujudkan dirinya dalam rupa infrastruktur membentuk sejenis klasifikasi sosial dimulai dari posisi badan dalam berjalan, duduk, dan bicara dengan siapa lantas dapat mengakses apa, siapa bertemu siapa dan membicarakan apa (Muhtarom, 2013: 161-162). Cerita Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti sangatlah gamblang mengurai klasifikasi sosial tersebut.

Dalam Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti dikisahkan tokoh seorang bocah yang berusia sepuluh tahun pembuat onar di kota yang sebetulnya adalah anak baik yang hanya menginginkan kehadiran sosok ibu yang mengasuhnya. Penampilan dan tingkah laku tokoh bocah tersebut menyerupai tokoh Oliver Twist dalam karya Charles Dickens. Cerita ini mengambil kota sebagai latar penceritaan. Citra kota yang dibangun Eka adalah kota modern yang di atasnya dibangun gedung besar dan bioskop tempat hiburan. Tokoh Bandit Kecil disebut momok bagi masyarakat dikarenakan ada suatu pihak pemegang kendali norma dan perilaku sosial di kota:

Dalam kapasitas tersebut, polisi berusaha mengendalikan demi kepentingan keamanan. “Aku heran,” kata salah satu polisi itu. “Di kota besar ada ratusan pencuri roti seperti dia tapi tak akan membuat polisi sesibuk kita di sini.”

“Ya,” polisi yang satu lagi menyetujui. “Andai saja bocah itu punya seorang ibu yang akan mengurusnya….”

(h. 83, TSBKPR, YAI 2000)

Penyingkapan kota dalam cerita meneroka nasib tokoh Bandit Kecil yang sebetulnya terpaksa melakukan tindakan kriminal. Namun, pihak polisi yang berkuasa mengatur stabilitas kota pun memainkan peran politis. Wacana politik dalam cerita ini tampak dalam relasi polisi dengan warga sipil, khususnya para pemilik toko roti yang dagangannya dicuri Bandit Kecil. Polisi secara tidak langsung menghasut agar para pedagang roti lekas menangkap bocah. Di tengah perubahan sosial itulah timbul ekspresi antagonisme kelas, dan jelas memengaruhi kesadaran kelas (Damono, 1984: 41). Hal ini tampak pada sikap tokoh aku-narator (anak-anak) yang memaklumi tindakan Bandit Kecil.

Citraan negatif kota dalam cerita Eka disebabkan lantaran kota membentuk kehidupan yang mekanistis. Penghuninya jauh dari sifat manusiawi. Dalam Hikayat Si Orang Gila kontribusi individu ke individu dipangkas sifat alamiahnya untuk saling membantu dan bertenggangrasa. Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti lebih lagi menyiratkan hubungan antar penghuni  kota tak beda dengan transaksi yang ada dalam dunia dagang. Kedua tokoh utama cerita tersebut terpinggirkan dari sistem kerja kota. Mereka digolongkan ke dalam kelompok sosial bejat (atau pesakitan) yang tidak lain merupakan korban hukum mekanis sebuah kota (Muhtarom, 2013: 159-160).

Cerita Eka seolah membenarkan pandangan Goldmann (1973) perihal penjabaran fakta estetis: (1) hubungan antara pandangan dunia sebagai suatu kenyataan yang dialami dan alam ciptaan pengarang, dan (2) hubungan antara alam ciptaan ini dan alat-alat kesusastraan tertentu seperti sintaksis, gaya, dan citra yang dipergunakan pengarang dalam penulisannya (dalam Damono, 1984: 42). Melalui biografi tokoh ceritanya, Eka mengidentifikasi kecenderungan memaparan aspek sosio-hitoris pada era Refomasi yang penting, di mana kota menjadi latar segala problem sosial. Dilihat dari upaya itulah, cerita dalam Coret-coret di Toilet tampak menoreh ekspresi yang padu tentang kenyataan.

Perkembangan kota yang berjalan seiringan dengan modernitas itu sendiri membuka terciptanya ruang yang benar-benar berbeda dari desa (yang cenderung bergantung pada alam), serta memberi pengaruh psikologis masyarakat yang tinggal di wilayah suburban. Dalam cerita Eka, deskripsi latar perkotaan membuka pengalaman pembaca dalam melihat bagaimana penghuni kota memenuhi kebutuhan ekonominya. Sistem yang berlaku di perkotaan diukur dari sarana pengelolaan dan diatur sesuai aparatur negara setempat yang menyediakan segala kebutuhan masyarakatnya. Dengan kata lain, otonomi kota menjadi urusan tersedianya modal besar dan sistem administrasi yang memadai.

Orang Gila dan Bandit Kecil yang dikucilkan dalam cerita adalah orang-orang krisis modal yang berkendala dalam aktivitas ekonomi. Kota yang melingkupinya–menjadi tumpuan peraduan hidup–memiliki karakteristik yang berubah cepat karena modal di dalamnya mesti terus berlipatganda agar produktif. Di samping itu, krisis tokoh dalam cerita Eka tersebut mengakibatkan krisis akses–yang tak sama dengan warga normal pada umumnya–harus menghadapi birokrasi demi pemenuhan kebutuhannya secara administratif. Parabel tentara dan polisi dalam cerita berlatar kota Eka dihadirkan sebagai sosok yang bertanggung jawab mengamankan kota dari segala hal yang bersifat patologis.

Cerita Hikayat Si Orang Gila dan Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti secara tersurat menguarkan perubahan sosial. Keberadaan tokoh yang menggelandang merepresentasi kelas sosial rendah yang tergerus sistem pengelolaan kota. Eka menyematkan anti-pahlawaan pada tokohnya. Hikayat Si Orang Gila ditutup dengan: “Tanpa makan berhari-hari dan kemudian demam, Si Orang Gila akhirnya mati di situ. Terkapar tak bernyawa,” (Kurniawan, 2016: 56), sedangkan Tertangkapnya Si Bandit Kecil Pencuri Roti diusaikan dengan “Para sahabatku, demikianlah Si Bandit Kecil Pencuri Roti ditangkap, dan demikian pulalah cerita ini berakhir,” (Kurniawan, 2016: 84).

Kesimpulan

Kumpulan cerita Coret-coret di Toilet adalah rekayasa fiksi yang berpadu dengan pandangan dunia Eka Kurniawan, si penentu struktur dan teknik penulisan karyanya. Cerita-cerita dalam buku tersebut memiliki kepaduan internal yang menyebabkan mampu mengekspresikan kondisi manusia yang universal dan dasar. Kritik dalam karya Eka terhadap riwayat sistem perpolitik Indonesia, posisi sosial mahasiswa di lingkungan kebercimpungannya, dan potret kehidupan kota tidak cuma mencerminkan kronologi sejarah perkembangan masyarakat pada era Reformasi. Tetapi juga, kritik itu dibarengi penyisipan cara pandang baru melihat realitas secara tidak deterministik.

Eka berhati-hati supaya ceritanya terhindar dari tekanan gagasan pemikirannya. Hal ini disiasatinya melalui pilihan gaya dan teknik bercerita yang mengandung alegori (sesekali mengambil referensi dari kisah dongengan yang pernah ditulis) yang bernuansa satir dan ironi. Dalam beberapa cerita, tokoh-tokoh di Coret-coret di Toilet bebas dan tidak terbebani untuk menyuarakan kebenaran versi pengarangnya. Inilah yang membuat cerita-cerita Eka enggan terjebur ke dalam tendensi menggurui pembacanya. Dari uraian analisis berpendekatan sosiologi sastra, cerita Eka mudah diakrabkan pembaca lantaran dimaknai sebagai hasil timbal-balik dari faktor sosial, ekonomi, dan kultural yang ada.

Realistisnya cerita Eka mendaraskan peroblematika manusia yang bersifat historis. Pengedepanan aspek sosiologis dalam hampir setiap ceritanya menjadi tolok ukur usaha Eka untuk menelaah fakta-fakta kemanusiaan baik dalam strukturnya yang esensial maupun dalam kenyataannya yang konkrit. Misalnya, dalam memandang Reformasi, Eka tidak mengatakan ketidakpuasan terhadap peristiwa besar politik di Indonesia pada 1998 itu, alih-alih mengumpulkan pelbagai pandangan dan sikap para tokoh cerita guna mensintesakan gagasannya tersebut. Kepaduan anasir internal dalam cerita Coret-coret di Toilet boleh jadi karena Eka erat mengalami aneka latar dan peristiwa sosial sebenarnya.

Walaupun penceritaan mengenai kota dipenuhi kesan negatif dan tidak terhitung baru dalam ragam tema penulisan cerita (prosa) di Indonesia, kelebihan Eka adalah penuturan aspek keruangan yang melingkupi kehidupan penghuni kota–yang individualis dan kerap irasional. Pada cerita yang bertema kota, Eka mempertimbangkan pola ekonomi memengaruhi pola kesadaran tokohnya untuk kemudian menjungkirbalikkan bahwa tokoh yang dianggap irasional (seperti orang gila) adalah sosok yang paling rasional. Hal serupa juga terdapat pada cerita bertema mahasiswa yang justru menampilkan tokoh mahasiswa sebagai sosok konservatif dan ambivalen ketika memutuskan sikap politik.

Coret-coret di Toilet adalah satu contoh kumpulan cerita pendek pengarang Indonesia yang layak dicermati untuk melihat perubahan sosial, khususnya era Reformasi. Setiap cerita mengundang suatu pembacaan ulang atas jalinan persoalan demi persoalan yang terkait posisi dan individu atau kelompok (masyarakat) dalam hubunganya dengan lingkungan, negara-bangsa–dan sebaliknya juga–di Indonesia pada pengujung abad 20. Kritik sosial Coret-coret di Toilet baik tersurat maupun tersirat mengindikasi Eka Kurniawan sebagai pengarang yang memiliki teknik komposisi bercerita dengan kepekaannya mengangkat permasalahan sosial tanpa harus berceramah bak seorang moralis.

Ditulis: Klender, Rawamangun, Depok, Juli–Agustus 2016

 

Daftar Pustaka

 Anderson, Benedict R. O’G. 2008. “Introduction to ‘Graffiti In The Toilet’” dalam Jurnal Indonesia, Vol. 86.

Damono, Sapardi Djoko. 1984. Sosiologi Sastra, Sebuah Pengantar. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa Departemen Pendidikan

Herfanda, Ahmadun Y. 2003. Sastra Kota, Bunga Rampai Esai Temu Sastra Jakarta. Yogyakarta: Bentang.

Kleden, Ignas. 2004. Masyarakat dan Negara: Sebuah Persoalan. Magelang: IndonesiaTera.

Kurniawan, Eka. 2000. Coret-coret di Toilet (Kumpulan Cerita Pendek). Yogyakarta: Yayasan Aksara Indonesia.

Kurniawan, Eka. 2016. Coret-coret di Toilet (Kumpulan Cerita Pendek). Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Kusno, Abidin. 2009. Publik, Identitas dan Memori Kolektif: Jakarta Pasca-Suharto. Yogyakarta: Ombak.

Muhtarom, Imam. 2013. Kulminasi: Teks, Konteks, Kota. Yogyakarta: Kasim Press.

O’Rourke, Kevin. 2002. Reformasi, The Struggle for Power in Post-Soeharto Indonesia. Australia: Allen & Unwin.

Santosa, Iman Budhi. 2005. Kalakanji, Kumpulan Tulisan/Esai. Yogyakarta: Jalasutra.

Sarjono, Agus R. 2001. Sastra dalam Empat Orba. Yogyakarta: Bentang.

Sularto, St (ed.). 2001. Masyarakat Warga dan Pergulatan Demokrasi. Jakarta: Kompas.

 

(Tulisan ini untuk makalah seminar HISKI Surabaya, 9-10 November 2016 di Universitas PETRA, Surabaya)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s