SARINAH-NYA ESHA TEGAR PUTRA

Baiklah, kita mulai. Dalam Sarinah, saya terkesan pada benda-benda materiil yang mengantungi riwayat dan fungsinya sendiri-sendiri. Bekerja melengkapi setiap kemaujudan perististiwa di puisi. Curiga ini berujung pada kesimpulan umum bahwa penyairnya sadar dalam mengolah kiasan atasnya. Meski tidak sesederhana itu kelihatannya. Ia memilah-milih posisi yang tepat bagi nasib ragam benda yang disebutnya. Ada yang jelas baik secara nyata-fisik, vulgar-yang-tidak-berkonotasi-jorok, bikin-ngilu, maupun nyaris-klise, mengada-ada, dan tidak sungguhan. Ya begitulah Tradisi Liris Indonesia. Tuh kan, ini sebuah reduksi. Begini maksud saya, di Sarinah, aku-penyair menyisipkan unsur kebendaan lewat pengalaman. Penglihatan akan kebendaan yang diramu lewat pelbagai jurus. Dengan caranya, jurus itu menyiasati puisinya agar terhindar dari kekurangan-penuturan-terperinci. Waktu jugalah merupakan hujah yang pokok untuk bisa mengandaikan haridepan dan harilalu. Kedua pengandaian, yang gemar diulang penyairnya, dikemukakan demi kebutuhan harikini. Saya bayangkan pula Esha Tegar Putra senang bermain petak umpet dengan peta. Ia muncul di mana saja. Begitu saja. Tiba-tiba. Seorang aku di Sarinah bermetamorfosis menjadi apa yang bisa ia jelma. Yakni, aku yang berpusat di tubuh manusia. Sebagaimana puisi bersumber pada segala tetek-bengek yang ditemui, aku itu mencatat. Aku itu mengingat dan melupa. Ketika ia melupa, ia kembali pada situasi mengingat. Kalau seandainya penyair dikenal sebagai profesi saintifik, saya kira Esha cocok di bidang antropologi + geografi terapan. Untuk itu, rasanya syarat utama Sarinah adalah pengetahuan manusia + kebumian. Sejak judul ditulis, puisi akan mengikuti. Tapi Esha awas menghindari jebakan deskripsi. Jurus andalannya, seperti yang ditulis sebelumnya, memadu kerancuan antara haridepan dan harilalu. Kenangan, misalnya, tak rela dibuat mendayu ala puisi aku-kamu-yang-cengeng. Justru, puisi Esha memilih sekarat. Bagai anggapan Chairil: kesempatan menulis yang datang adalah kesempatan terakhir. Mengucapkan cinta yang nadanya berat, terseret-seret. Di tengah ruang yang dibangun dalam puisi-puisi Sarinah, benda-benda dari harilalu bahkan mengancamnya. Jangan heran apabila punggung bisa terantuk pintu, sebuah palu memukul lambung. Padahal itu semua terjadi dalam puisi yang romantis. Selain itu, kota juga menjadi penting dalam Sarinah. Ia benda, sekaligus ruang, sekaligus tempat, sekaligus lingkungan yang membatasi suara puisi. Sebuah kenisbian yang akhirnya kandas, diberi titik pada akhir kalimat. Seakan aku-lirik mau menyelesaikan kota dengan puisi. Esha, melalui puisinya, seperti berseteru dengan apa pun. Di mana pun medannya, aku-lirik sering tidak ubahnya manusia petarung. Petinju yang ternyata musuh terbesarnya adalah dirinya seorang. Esha penyair Sarinah ngeh bahwa selalu ada yang tidak beres dengan hidup. Jika ia kadung mencintai sebuah kota, atau manusianya, maka perasaan itu padat sangkaan, keraguan, dan trauma. Konfrontasi macam ini diadakan dengan suatu perlawatan. Naluri perantau menggejala di Sarinah. Apakah bisa dikatakan puisi-puisi Esha adalah sarana membalas mantera tuah dari rangkaian bahaya yang membuntuti dan menghadangnya? Yang terbaca mungkin, ia tengah sekarat tapi tidak rela menyerah. Puisi yang demikian bukan berarti amarah. Bekal teknik pengucapan-bawaan Esha perlu dipertimbangkan. Kegamblangan dan ketaksaan diksi mengakibatkan satu puisi berhak dibaca lebih dua kali. Dalam hal ini, kita patut mengesampingkan anggapan Raja Penyair Liris yang bilang puisi ditulis dalam keadaan marah adalah bukan puisi. Dalam Sarinah, kita temukan suara khas musafir: Aku akan pulang sebab pulang adalah jalan para tualang (h. 15) dan aku lihat kereta itu berhenti lantas lewat di dalamnya nasib bermigrasi dari satu stasiun ke stasiun lain (h. 17). Di tengah tualang, sang aku menemu kota yang mustahil sempurna ditafsirkan. Seperti dua buku yang lebih dahulu terbit, Pinangan Orang Ladang (2009) dan Dalam Lipatan Kain (2015), puisi Esha berbenah, merias diri, ke pertautan siklus kala. Puisi Thamrin (h. 26) terbaca: Kota dengan pengharapan bisa memintas waktu dengan cara begitu. Omong-omong, sejujurnya, bagi saya puisi Esha cenderung puisi tidak santai. Membacanya berarti siap menerima risiko, yang umum diketahui banyak orang walau kerap nyesek untuk dimaklumi: kenyataan hidup telanjur porak-poranda. Memang pada mulanya puisi tak menjajikan apa-apa, tak akan pernah. Apakah Esha ingin pembaca puisinya tidak berpikir sederhana perihal realita di sekitarnya? Bisa jadi. Khususnya yang terkait kota. Ya, manusia Indonesia hari ini terkotakan. Manusia yang kadar atau tingkat pesakitannya sukar mendefinisikan dirinya dari ketergantungan benda-benda. Meskipun demikian, saya riang dengan sejumlah remah-remah penghiburan di Sarinah. Seperti joget koplo, orkes keselamatan, dan teater pertunjukan. Kalau Pinangan Orang Ladang bercorong pada kesibukan tipikal penyair-sentris bujang yang romantik menulis di kamarnya, lalu Dalam Lipatan Kain (buku Esha tematik & serius penggarapannya) suara puisi diperluas jangkau jelajah medannya dengan konsekuensi kemusafiran yang nomadik, maka Sarinah adalah perpaduan keduanya. Perpaduan yang menunjukkan suatu perkembangan perpuisian Esha yang kian mantap. Keasyikan saat membaca Sarinah: ikhtiar berkomunikasi melibatkan pembaca sebagai lawan bicara. Puisi bertajuk Kota dengan Angin Berkarat (h, 87) contohnya. Namun, saya paling favoritkan Menuju Serang (h. 83) yang ditutup dengan penuh gaya: // Bis terus laju / sementara aku mencatat sesuatu / dan bersikeras menemukan namamu / di sisa ingatanku akan bahasa / di sisa kilometer terakhirku //. Niat pertama saya menulis sih menggarisbawahi komposisi.

(Tulisan ini dimaksudkan sebagai pemanik diskusi #diluarkantinsastra #1, membahas “Sarinah” Esha Tegar Putra pada Kamis, 22 September 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s