6 DARI 14 CERITA BAKAT MENGGONGGONG

 

Tulisan sontoloyo ini dibuat berdasarkan komentar bolakbalik, dari cerita ke tokoh; tokoh ke narator; narator ke pengarang; dan pengarang ke cerita. Semuanya bertumpangtindih. Sukalah jika menganggapnya sebagai catatan yang belum rampung, semacam draft kasar, sedangkan rencana awalnya adalah mengomentari satu per satu cerita (font Times New Roman, ukuran A4 per judul, dan spasi 1) dalam Bakat Menggonggong. Namun, saya mentok di lagu lama yang umum terjadi dalam acara diskusi buku, yaitu pemakalah kesulitan merapikan pikiran dan menyediakan waktu untuk fokus mengetik. Tulisan ini berusaha sebisanya menghindari pretensi teoris yang bikin kaku, walau cenderung berlagak ngawur. Atau memang saya sebetulnya tidak paham apa sih cerita pendek. Enam cerita pendek Dea yang coba dikupas dalam tulisan ini sebetulnya berhasil mengajak saya tertawa, kendati demi kebutuhan obrolan buku kali ini, maka membacanya perlu sedikit agak sok serius. Bayangkan saja, kita tertawa untuk serius! Saya curiga Dea pun bakal tertawa kalau mendapati pembacanya terlalu serius membicarakan cerita-ceritanya. Situasi yang begini saya jadi ingat Satyagraha Hoerip; semasa hidupnya ia pernah menulis resensi tengil di Sinar Harapan; mengulas karya-karya prosa Iwan Simatupang yang awam dicap filosofis nan absurd itu, baginya sebetulnya kumpulan humor. Saya bersepakat dengan Saytagraha Hoerip, dan oleh karenanya cerita Dea bagi saya adalah humor. Di balik tabiat main-mainnya Deadalam hal teknik dan komposisiselalu terselip sindiran, kritik, atau apalah yang mungkin dimaknai sebagai gagasan tersirat pengarang terhadap berbagai persoalan. Sebagai pengarang, Dea sadar: memahami persoalan adalah syarat utama, baru kemudian disusul bagaimana cerita dituliskan. Setelah obrolan ini selesai, delapan cerita lainnya dalam Bakat Menggonggong adalah utang yang pengennya lekas ditunaikan. Waktu masih banyak, saya yang sering merasa terlalu sedikit.

“Kemurkaan Pemuda E”

Penilaian atas sebuah cerita pendek bukan berdasarkan dua kata krusial: baik dan buruk. Kemurkaan Pemuda E justru menarik karena ketidakmenarikannya, jika dipertentangkan dengan bentuk dan pola konvensi prosa Indonesia beraliran Khotbah Mingguan. Melalui cerita ini, Dea nongol. Mendaku sebagai bukan pengarang, melainkan pemandu alur. Mungkin narator. Tapi, cerita ini ingin tidak dibebani alur. Jadi, kalau ia seorang pemandu, dari golongan iblis asal familinya. Kecepatan gerak narasi Dea mengandalkan kelihaian, yang maksudnya cerewet menuturkan deskripsi pada aktivitas dan objek materiil secara terperinci. Dari kecerewetannya pembaca mafhum, tokoh Pemuda E adalah penulis, begitulah cerita itu mengimbau pembaca untuk percaya. Pertanyaannya kemudian: Apakah kapasitas otak manusia berusia 22 tidak bisa dipertaruhkan untuk mempersoalkan perkara yang serius? Misalnya, sastra? Ada kesan yang tersembunyi dari kegeraman Pemuda E. Ia tidak pintar, memang. Namun, orang yang marah dan sadar dirinya marah adalah orang yang terbiasa berpikir elegan–tidak cengeng apabila menunjukkan kemarahan. Dea tidak memilih narasi picisan. Suatu kemarahan yang dihadirkan secara tidak langsung: hanya lewat kode seperti muntahan, buang hajat, atau bubur kertas. Suatu kemarahan yang berhadapan dengan tradisi anjing mengejar lubang duburnya sendiri. Suatu kemarahan atas tradisi akademik, yang umumnya di temukan di institusi bernama kampus. Kemarahan ini kian terakumulasi simultan dibuktikan lewat gambaran komunikasi feodalistik antara dosen dan tukang parkir, serta kursi tidak sama tinggi yang diduduki Pemuda E saat seminar. Selain itu, dugaan bahwa Pemuda E mempermasalahkan honor mengisi seminar bukan dugaan yang tepat sasaran. Lihat, makalah Pemuda E itu sudah jadi bubur. Ia sedih pada nasib ilmu pengetahuan. Maka bayangkanlah Pemuda E tengah mewakili seorang intelejensia kelas menengah yang tidak layak diperhitungkan kalau tidak punya gelar. Hm, menjadi dosen harus penataran kepegawaian, lalu tahap administrasi rumit. Pemuda E hanya makan roti bertabur acar. Tidak dijelaskan status yang prestisius yang biasa memuslihatkan orang kurang peka seperti tokoh Karta. Tapi seharusnya tokoh Karta tahu cara menghargai teman. Pemuda E menyayangkan persahabatan dengannya. Apalah arti keasyikan memanggil Bung antarsesama kalau dirimu datang kalau sedang ada maunya? Dea seakan kepingin bilang: tur penceritaan mengenai Pemuda E ini adalah parodi nyinyir bahwa penulis bukan sosok hebat. Karya mereka terbit di koran akhir pekan, tapi siapa yang peduli? Jangan-jangan Karta pun tidak membaca dan hanya menganggap Pemuda E sebagai penulis belaka. Penulis yang dalam konteks Indonesia lebih sering bersibuk dengan kisah pribadinya, yang gemar memusingkan karya karena cuma ia seorang pembaca setianya. Melalui Kemurkaan Pemuda E, Dea mengembalikan sifat dasar cerita: kelisanan sehari-hari yang tanpa diminta selalu ada, tanpa dikelabui nasihat baik seumpama generasi pengusung Gurindam Dua Belas. Dea bukan berarti Pemuda E, tapi keduanya potret pengarang modern hari ini: yang menulis dengan media digital, laptop. Jika pembaca bersikeras Dea adalah Pemuda E, maka ia jelmaan seekor pemuda mamalia berjenis anjing jantan yang mengejar lubang kesuburan betina. Hal ini seminimalnya tampak dari selera cukup sedap memilih diksi selipan-puting Maria Saraphova. Sila tanyakan langsung saja, apakah Dea punya koleksi 3gp-nya? Kalau pun iya, semoga bisa dikonversi ke Blueray. Semoga Pemuda E terhibur.

“Kisah Afonso”

Apa pentingnya pembaca memastikan sebuah nama untuk satu tokoh cerita sebagai ukuran konkrit membedah karya sastra, sebuah cerita pendek? Dea mengoyak truisme cerita realis yang nama tokohnya merefleksi penokohan utuh, mewujud konkrit sebagai manusia dari ujung rambut kepala ke ujung jempol kaki. Kata truisme sendiri muncul di paragraf awal Kisah Afonso. Eh, pertanyaan tadi belum terjawab. Relevansi nama dalam cerita Dea sebetulnya tidak sekadar nama. Penokohan membuat kebulatan tokoh itu sendiri tanpa mempersempit makna tokoh yang harus berembelkan nama. Tidak peduli mana yang lebih Afonso dari Alfonso ataukah Alphonse? Adakah resi cum dukun itu memiliki panggilan ganda Menak Kemala Tringgiling atau Menak Kemala Bening? Atau siapa yang lebih biru laut antara Danil dan Daniel? Karena demikianlah tabiat cerita lisan klasik: punya aneka versi. Seandainya Dea, pada kesempatan kali ini lagi, muncul di cerita sebagai aku yang melakukan perlawatan ke Tulang Bawang Barat: ia menyimak. Karena sejarah dibaca dari apa yang bukan saja diterima mata. Tubuh narator dikerahkan sebagai gudang arsip yang berjejal segala yang diserapnya dari khazanah lampau Nusantara. Inikah tugas berat untuk membuat karangan bermodal bahan penuturan lisan? Sehingga pengarang perlu hati-hati dalam menjahit sumber yang digubahnya? Masa lalu sukar untuk dituliskan, Bung. Kita bayangkan Dea omong begitu seperti tokoh aku frustasi mengejar deadline tulisannya. Mari kesampingkan dahulu keruwetan suara pengarang dan tokoh aku. Sejenak tariklah napas untuk membaca pelan-pelan Kisah Afonso. Sekali atau dua kali. Pembaca yang tergugah akan mempan atas rayuan memikat pada kemagisan cerita Lampung direkonstruksi oleh Dea. Ada sosok kolonialis yang bermimikri dengan masyarakat di Kepulauan Rempah–untuk tidak mengatakan Indonesia karena peristiwa cerita jauh sebelum Sukarno & Hatta lahir. Relasi tersebut berkaitan dengan kepentingan atas kekuasaan perniagaan Eropa. Menak Kepala Tringgiling dan pengikutnya, yang bersekutu dengan Afonso, digambarkan menentang Kesultanan Banten yang menaklukkan tanah Sumatra lewat motif syiar keagamaan. Dalih sultan itu berhadapan dengan resistensi pendudukan asli Lampung, tampak dari reaksi Menak Kepala Tringgiling yang bersikukuh atas tanah kediamannya. Kalau buku sejarah di sekolah mengilustrasi bangsa Eropa gagah perkasa, Dea membuat mereka tidak punya ketangguhan yang mumpuni. Imajinasi orientalis Afonso, atau apalah kemiripan namanya itu, tentang Kepulauan Rempah itu bangkrut ketika ia kelimpungan menyesuaikan diri. Afonso, bagaimana pun juga, orang lain: asing sebagai pendatang. Sama kapasitasnya dengan prajurit Banten yang dikirim Sultan. Maka, tak heran Kisah Afonso terkesan berpihak pada Lampung. Hal ini sah saja, bukan karena tokoh aku menerima honor tahap awal, melainkan karena tawaran historiografi dalam cerita Dea tidak dibebani pembenaran sejarah yang deterministik. Lantas, apakah karena cerita ini memang bertujuan menarasikan Lampung masa lampau sebagai ruang publik rentan konflik bagi penduduk aslinya yang diperebutkan demi persaingan kepentingan antara penjajah Eropa dan Kesultanan Banten dalam rangka perniagaan? Pertanyaan ini tidak perlu dijawab. Persilakan cerita Dea membela naratornya. Montase demi montase kelisanan yang anakronistik sabar dirajut walau terasa ngosngosan. Namun fiksi ya fiksi dan Dea tidak membiarkan dirinya berevolusi, serupa digimon, menjadi Sartono Kartodirdjo.

“Kisah dan Pedoman”

Simbol yang tersingkap dalam cerita Dea ini ditampilkan, sedikit dijelaskan. Mata pembaca menjadi kamera menangkap gambaran inderawi, citraan benda, suasana, dan psikologi tokoh-tokohnya. Tokoh pertama adalah seorang pemuda jahil tidak sadar. Ia mengidap ayan dan impian muluk. Dua sakit yang mengganjar dirinya, juga peradaban setelah pertemuan, menuai petaka turun-temurun. Berkat tokoh kedua, pedagang karpet, pemuda itu terbuai cerita fantasi. Pembaca memaklumi, itu hal wajar karena antara penyakit si pemuda dan cerita tersebut saling mengisi kekosongan makna ‘baru kenalan’. Ibarat pertemuan tali kasih dua remaja CLBK. Masalahnya terletak pada kesadaran. Pemuda jahil itu persetan dengan apalah artinya peradaban. Sementara itu, ranah sains Barat mencatat bahwa sebelum Abad Pertengahan manusia dinaungi dunia kegelapan. Namun, latar cerita Dea bukan Eropa dan tokoh pedagang karpet bukan orang bodoh. Ia tergolong kaum yang bisa mengakumulasi kebohongan jadi uang. Mendengar cerita tentang dua kampung yang berlawanan pendapat soal berkah dan azab Tuhan, pemuda itu buncah. Cekcok kampung pertama dan kampung kedua versi pedagang karpet dimulai Dea lewat adegan tahi kualat yang tercemplung, terjun bebas dari atas dua batu putih besar. Apakah dua batu putih besar? Kenapa terjadi pada hari Sabat? Kenapa akhirnya kampung kedua yang berkonfrontasi bisa hidup rukun bersanding satu sama lain? Dan buat apa kemarahan? Dea tidak memberi alasan banyak, ia ingin pembaca menghimpun pemaknaan. Misalnya, tudingan atas Kisah dan Pedoman ini antara lain mempermainkan beberapa hal: nilai religiusitas yang dibawa pembaca terkait yang-profan dan yang-sakral, keyakinan sejarah yang dipercaya pembaca terkait agama langit dan agama bumi. Dea tidak bilang kalau apa yang dituturkan oleh pedagang karpet berujung pada keberpihakan ke salah satu kelompok bagi si sahibul hikayat–karena pedagang karpet pada dasarnya mau jualannya laku–lantas bayangkanlah pembaca mengalami nasib–masuk ke psikologi– pemuda jahil itu. Bayangkan kita menyimak nasihat setiap hari, semakin dungu, bukan? Maka, seandainya boleh ditebak, busa yang keluar dari mulut pemuda adalah disebabkan mual. Kisah menjemukan itu berujung pada keakuran antara Dusun Utara dan Dusun Selatan yang ternyata bisa langgeng melangsungkan hidup bersama. Kritik Dea adalah terhadap semacam wahabisme. Oke, ini terdengar memojokkan satu kepercayaan. Kita ganti: kritik Dea terhadap semacam fundamentalisme keimanan, yang ternyata berkedok pemujaan kemakmuran. Pemuda itu berbusa karena ia jengah dengan kisah dari pedagang karpet, karena akal-akalan kapitalistik berkedok petuah, persis seperti tukang obat di Monas. Interpretasi berlanjut: pedagang karpet layak mati karena kisah petuahnya menyentak suatu kesadaran Pencerahan si pemuda tersebut. Pembaca mungkin bertanya apa hubungannya gerakan menunjuk jidat dengan gerakan merentangkan tangan. Itulah yang ingin disasar Dea agar pembaca terlindung dari wabah ayan. Yaitu, wabah yang menyadarkan manusia akan gambaran suasana Hari Akhir. Kesadaran yang demikian itu membuat manusia berpenyakit impian muluk. Dea untungnya menyebut cara kerja penyakit tersebut. Tapi, bagaimana pun juga simbol tersemat pada benda, pada suasana, telanjur mengerucut ke dalam suatu tafsir. Kisah adalah benda juga. Dalam cerita ini, pedoman mungkin Kitab Suci. Dea sadar apa yang ditulisnya, bertolak dari kelisanan seperti Kisah Afonso. Dea menguji mata kamera kita: digital atau analog? Sepantasnya agama, bukan sebuah polaroid.

“Kisah Sedih Kontemporer (IV)”

Berapa usia I Gusti Putu Lokomotif alias Loko? Mungkin seumur bocah ingusan, ketika kedua orang tua menegaskan kenihilan cinta di antara mereka lewat dialog. Sebuah dialog hambar perihal tidak dan lama, atau perihal mati rasa dan kesia-siaan. Sebuah dialog yang entah kenapa ditraskripsi dalam penelitian sarjana filsafat. Siapa Arthur Schopenhauer? Diakah guru spiritual ayah ibu Loko? Kita tidak diberitahu. Lupakan saja. Eh, tunggu sebentar–bagian dialog wanita, ibu Loko, dalam cerita kok seperti ngotot. Ia mengail lawan bicaranya, katakan, seorang pria, ayah Loko dengan penyataan yang mengundang pertanyaan. Pria itu terpojok, sambil mengingat soal rumah. Tapi wanita itu, awalnya, masabodo dengan rumah. Intitusi keluarga rubuh di kepala wanita yang lebih memedulikan jerih payah membangun restoran. Sampai di situ, keduanya mempertentangkan pembagian warisan, yang agak cair. Pria itu tercekat karena wanita menghadirkan Loko dalam pembicaraan. Maskulinitas pria jatuh sejatuhnya, dengan pertanyaan yang terucap dari mulutnya: pertanyaan tipikal orang yang sedang dikepung polisi karena lupa membawa STNK, sedangkan wanita itu tidak mau rugi bandar: baginya, Loko ahli waris yang sah. Jika benar fakta keturunan yang ingin diperjelas, maka wanita itu pernah mengandung dan melahirkan Loko. Seorang anak adalah asal usul kekayaan bagi seorang ibu. Dalam Kisah Sedih Kontemporer (IV), wanita itu tidak mau berlama-lama berkutat dengan orang yang tidak lagi dicintainya. Wanita itu terdesak oleh ketidakrelaannya dikasihani ego pria. Sikap ngotot tampak dari keputusan melempar koin demi menuntaskan persoalan hak pengasuhan Loko. Wanita itu menguasai wacana percakapan. Di sini, dituntut kejujuran tanpa perlu basa-basi. Sebelum dikelabui, wanita itu mempercepat keputusan dengan menetapkan rumah itu buat dirinya, ada pun restoran buat si pria. Pembalikan wacana ini didasari kejujuran, khas sifat empati bawaan wanita itu, sekeras batu pun pikirannya, Loko adalah buah hatinya. Kejujuran yang mewakili ketergesaan untuk bersolek demi bertemu tokoh Jan. Untuk itu, Loko dipertukarkan nasibnya dengan selemparan koin. Wanita itu tidak punya waktu banyak. Manusia dunia modern terburu oleh ketidaksabarannya. Manusia modern tidak mau terikat perkara musykil yang tidak menguntungkan dirinya. Manusia modern perlu mendengar Green Day album Warning untuk menunjukkan kegentingan hidupnya. Manusia modern ingin berfilosofi untuk dirinya sendiri sejauh filosofi itu membawa peluang keberuntungan. Koin itu belum dilepar, orang tua Loko ribut soal pilihan angka dan gambar. Ketetapan bahwa jika sisi gambar yang keluar, maka pria itu mendapat hak asuh Loko, diartikan sebegitu rendahnya ukuran ayah menganggap gambaran atas kerukunan keluarga. Sementara itu, gagasan yang tersirat dari sisi angka adalah harga kerugian yang perlu dibayar dari sebuah tahun-tahun kekalahan hidup bersama. Apakah ini sebuah permulaan dari pertandingan paling menentukan dari permusuhan? Pria dan wanita itu belum juga melempar. Mereka bahkan enggan melakukannya. Keduanya tak sanggup memutuskan nasib Loko. Lalu wanita itu kian ngotot: di benaknya ada dilema karena terpaut janji Jan–tokoh baru yang dicintainya dengan ya. Mungkin ialah pria lain yang lebih menarik dan wanita itu perlu bersolek. Loko, entah di mana, tidak menengahi dialog. Bagi pembaca, gagasan melempar koin yang diutarakan wanita itu mungkin melankoli–dan pria itu serakah, uang koin saja diperhitungkan. Cerita ini muram, cerita ini problem adu jotos rasio versus materi.

“Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu”

Tapi itu urusan pekerjaan. Yang membuat kami berteman adalah cerita. Baik tokoh Patrick Wicaksana (Pat) maupun aku, keduanya pencerita. Pembual ulung. Mereka punya kesamaan pengalaman terkait penyair. Keduanya sumpek terhadap karya penyair, menyindir kehidupannya. Tokoh aku teringat Alif Sudarso, teman yang pamer puisi–gemar memuji diri sendiri: menyandingkan kepiawaiannya agar dianggap melampaui Paul Eluard. Dea membela cerita. Seandainya bisa memilih, tentu kami ingin berbagi kisah-kisah pengundang tawa saja. Tapi cerita bukanlah hewan penurut. Cerita punya kehendaknya sendiri. Ia bisa berbelok tiba-tiba dan membikin juru cerita terjungkal. Pat terjungkal seperti keledai. Dua kali ia dikadalin oleh dokter. Pertama, dokter yang menang tender atasnya sehingga Pat merasa harus menghabisi nyawanya empat belas tahun silam. Kedua, dokter yang merebut istrinya, Sekar, tujuh tahun setelah pembebasan bersyarat. Pada lipatan cerita ini, Dea kehilangan humor. Ia menurunkan kadar guyonan yang cerewet. Percakapan dua tokoh jadi serius. Cerita seperti ingin lekas dipungkas. Tapi bayangkanlah kesepian Pat adalah kesepian tokoh aku. Mereka hidup sendiri. Mereka mempertemukan kegirangan lewat cerita, pengalaman tolol pun bertemu. Sesama orang yang kosong jiwanya, menertawakan hidup adalah terapi pelipur kesedihan. Pada umumnya, tokoh-tokoh cerita Dea di Bakat Menggonggong sebaiknya jangan dibiarkan terlalu akrab nanti mereka saling menasihati. Lihatlah Pat! Buat apa ia bujuk tokoh aku agar tidak murung-murung begitu? Apa karena usia Pat dua kali lipat dan lebih banyak macam pengalaman nya ketimbang tokoh aku? Semakin ada tokoh yang bernasihat dalam cerita Dea, tokoh itu akan mampus–dalam arti yang sesungguhnya atau artifisial. Seperti pedagang karpet pada Kisah dan Pedoman. Tampaknya Dea seakan tidak suka nasihat. Lebih tepatnya, Dea seakan tidak suka ceritanya mengandung nasihat. Pedagang karpet mati. Pat mati. Dengan kematian itu, tokoh yang bersangkutan langsung dengannya membawa kenangan kepergian tokoh temannya. Sebagaimana Pemuda E yang bertemu Karta. Tapi Dea bersikeras bukan dirinya yang menulis cerita, melainkan cerita itu sendiri. Ambisi itu yang menimbulkan narasi putus-putus. Anjing Menggonggong, Kafilah Berlalu yang dipasang sebagai judul boleh jadi wanti-wanti untuk menanggulangi kekecewaan pembaca yang penuh pengharapan menikmati cerita yang amal ma’ruf nahi munkar. Judul itu peribahasa. Anggaplah sebagaimana kita menerima pantun bunyi: burung Irian burung cenderawasih / cukup sekian dan terima kasih. Tidak usah didebat terlalu sengit. Kalau pun ada pembaca cerita ini yang apriori bahwa ada pesan moral di dalamnya, maka pesan itu adalah untuk pembaca adalah imbauan supaya terlindungi dari kredo sampingan atas ultimatim cerita, yaitu “juru baca terjungkal”. Begini kira-kira: The Beatles punya tembang Let It Be, sedangkan Pink Floyd punya Let There Be More Light. Dari Beatles, pembaca sudilah untuk melenturkan peristiwa fiksi dalam cerita, anggaplah tengah disuguhkan siraman kata-kata bijak, lantaran Pink Floyd, pembaca selanjutnya tahu cahaya itu ada. Cahaya itu tahi kucing. Sebuah kotoran. Sebuah entitas yang menyadarkan keberadaan manusia penginjaknya, juga keberadan entitas itu sendiri: menandakan hidup itu hidup walau dunia alangkah nonsens. Perihal bagaimana kerja liputan diselesaikan tokoh aku, pembaca tak mengerti akhirnya. Dea, maumu apa sihaku bukan Pat, keluh Jay Catsby. Kamu berpura-pura jijik terhadap puisi. Duak!

“Penembak Jitu”

Apa yang dimaksud pahlawan? Para sepuh mendedahkan kisahnya ke setiap lawan bicara, yang kisaran usianya relatif muda, adalah mereka yang paling tahu definisinya. Dalam cerita berlatar perang, hubungan antarmanusia terbelah dan masing-masing pihak yang berselisih dituntut untuk sadar akan posisinya, lalu menentukan tindakan. Penembak Jitu menawarkan persoalan tersebut. Pahlawan adalah manusia yang menentukan tindakan. Sepucuk senapan, yang disebut pengarang sebagai Oeroeg, menyimbolkan kepahlawanan si empunya. Tokoh aku membayangkan cerita para sepuh. Membayangkan dalam arti menghidupkan kembali sejarah yang disambunglidahkan secara lisan. Para sepuh menyisipkan pembenaran dalam cerita versinya. Bahwa perang yang dihadapi pahlawan yang dituturkannya membela sebuah nilai tertentu. Pembenaran itu sendiri merupakan nilai. Tokoh ia dalam cerita Dea ini adalah ia yang merasa tindakan apa pun yang dikerjakannya terberkati karena tindakan itu suci. Di sini, menghabisi nyawa musuh bukan larangan, tetapi keharusan. Tokoh ia, yang merupakan pemuda dalam cerita, berada di keadaan sekali berarti sudah itu mati. Namun, kenapa perang harus dramatisir? Kenapa hujan turun ketika tokoh ia berhadapan dengan musuhnya? Pengarang akan menjawab: ini kebutuhan cerita, Bung. Baiklah, mari kita periksa apa yang ingin diperbuat para sepuh. Hujan adalah suasana panggung, seperti pembukaan adegan film Anonymous, di mana kamera selanjutnya beralih menyorot pengejaran Ben Johnson, karena tokoh ia dalam pelarian ke tempat persembunyian. Hujan jua yang menyiratkan kemenangan bagi para musuh, yaitu dua belas orang bertudung, dalam cerita. Kemenangan, mungkin, setelah membakar desa. Tokoh ia orang desa hangus itu: tempat yang kini jadi abu dan tumpukan kematian. Apa yang dibawa tokoh ia dalam pelarian kepahlawanannya selain enam butir peluru? Hanya sehelai surat. Tidak dijelaskan apa isi surat tersebut. Apakah itu berita duka, info spionase, atau pesan terakhir kekasihnya? Cerita ini menuntut lebih pemaknaan atas “sehelai surat”. Dalam perang yang suci, tokoh ia mendekatkan surat tersebut ke dahinya sebelum menembak musuhnya dengan Oeroeg untuk ketiga kalinya. Surat itu sesungguhnya wasiat kebenaran yang diselipkan para sepuh. Surat yang penunjang moril kepahlawanan tokoh ia. Surat yang menjadi alasan pembenaran tindakan menghabisi musuh. Sebagaimana cerita perang dari zaman ke zaman, nuansa romantik pun bisa ditemukan di bagian ini. Dea menulis: Situasi itu seakan-akan bisa berlangsung selama-lamanya. Pembaca cerita pendek Indonesia akan menemukan gaya Hujan Kepagian Nugroho Notosusanto atau Surabaya Idrus. Inikah model deskripsi pertempuran gerilya, dalam karya sastra, yang khas dari sejarah berdarah masyarakat di Nusantara? Oh, ternyata Oeroeg barang rampasan perang. Tokoh ia mendapatkannya setelah patuh terhadap peraturan dewan adatnya. Oeroeg dan sebuah pistol. Sebagaimana ketentuan peraturan atas barang rampasan, senjata sederajat harganya dengan pangan dan hasil bumi lainnya. Lantas menggunakan pangan dan hasil bumi sama halnya memanfaatkan senjata, asalkan demi kebaikan desa. Dalam hal ini, kebaikan berarti kebenaran yang dianut tokoh ia: yang selanjutnya dikemas oleh para sepuh. Klausa “Di luar selamanya” menutup fiksi yang juga merupakan ucapan simpulan tokoh aku atas romantisme sejarah yang didengarnya. Di atas semua itu, Dea mau bercerita tentang asal usul rasa aman. Di Pagardewoe. Di tempat orang pernah kalah, sebelum dan sesudah tidak ada pahlawan.

Depok, 29 Oktober 2016

(Tulisan ini untuk Obrolan Buku Manasuka di Rawamanguna; membahas Bakat Menggonggong karya Dea Anugrah, @Jung Coffee pada Sabtu, 5 November 2016)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s