KOMUNITAS DARI NEGERI POCI DAN PERPUISIAN INDONESIA

Geliat sastra daerah pada dekade 1990an di Indonesia ditunjukkan dengan persemaian komunitas sastra. Dari Negeri Poci (DNP) adalah salah satunya. Komunitas ini terbentuk pada 1993 yang berangkat dari gerakan antologi puisi dengan judul sama, Dari Negeri Poci. Tegal menjadi kota kelahirannya. Pikiran dan spirit kelokalan di bidang kesenian adalah modal dalam pembentukannya. Gerakan DNP bahkan mendahului wacana revitalisasi “sastra pedalaman” yang marak beberapa tahun kemudian hingga era pascareformasi 1998. Mengenai penamaan, DNP merepresentasi Tegal yang dikenal sebagai kota produsen teh poci. Melalui antologi DNP, Tegal menjadi kota yang mempertemukan banyak penyair dari berbagai kalangan. Dengan berpusat di Tegal, DNP sebagai komunitas membuka kemungkinan gerakan sastra marginal di Indonesia. Perintis komunitas dan penyair yang terlibat dalam antologi ini adalah mereka yang memiliki pengalaman langsung atau tidak langsung dengan Tegal. Penyair Angkatan 66, Piek Ardijanto Soeprijadi memfasilitasi rumahnya yang berlokasi di gang Marpangat 468, Tegal, sebagai markas DNP. Sepeninggalan Piek, para penyair generasi berikutnya melanjutkan estafet tradisi pengantologian puisi. Sampai hari ini, DNP telah merilis enam seri antologinya, antara lain Dari Negeri Poci (1993), Dari Negeri Poci 2 (1994), Dari Negeri Poci 3 (1996), Dari Negeri Poci 4 (2013), Dari Negeri Poci 5 (2014), dan Dari Negeri Poci 6 (2015). Tulisan ini merupakan upaya pencatatan kontribusi komunitas DNP terhadap perpuisian Indonesia kontemporer dan penjelasan bagaimana keterlibatan penyair di dalamnya. Selain itu, tulisan ini juga dimaksudkan sebagai perumusan sejarah sastra dengan menempatkan rekam jejak komunitas DNP dalam dinamika perkembangan sastra Indonesia.

Sastrawan berperan penting, lewat jasa dan kontribusi kreatif, dalam sejarah perjalanan suatu bangsa. Di Indonesia, keberadaan mereka kerap disebelahmatakan sebab dinilai tidak berimplikasi langsung terhadap dinamika kemajuan pembangunan negara. Namun, ketika sektor kreatif ditengok pihak industri dewasa ini, para sastrawan menggali nilai-nilai luhur. Melalui karyanya, mereka membentuk jati diri bagi masyarakatnya. Mereka mencatat dan menafsir apa yang belum dikerjakan bidang mana pun. Dengan menyadari potensi itulah puisi, salah satu genre, masih kontinu ditulis hingga kini. Dalam sejarah sastra Indonesia, puisi booming seiring munculnya komunitas puisi (Herfanda, 2008: 1).

Pada 1993 terbit antologi puisi Dari Negeri Poci (DNP) menghimpun karya-karya dari 12 penyair, antara lain Adri Darmadji Woko, Bambang Priyono Soediono, Dharnoto, Eka Budianta, Handrawan Nadesul, Kurniawan Junaedhie, Oei Sien Tjwan, Piek Ardijanto Soeprijadi, Rahadi Zakaria, Rita Oetoro, Syarifuddin A.Ch, dan Wijati. Mereka–yang sebagian besar telah menetap di Jadebotabek–menaruh perhatian kepada kota Tegal, Jawa Tengah. buku Bagi mereka, Tegal adalah sumber pengilhaman puisi. Di Tegal, proses kreatif mereka bersentuhan langsung dengan pengalaman duniawi serta spiritualnya. Pada periode awal ini, penyebutan penyair Tegal melekat penyair DNP.

Dari segi georgrafis, Tegal adalah salah satu kota di Pantai Laut Utara pulau Jawa. Letak kota ini strategis lantaran merupakan salah satu jalur lintasan darat dari yang menghubungkan wilayah barat ke bagian tengah dan timur pulau Jawa. Sebagai kota kecil, Tegal dihidupi rakyat pinggiran yang mengolah nasib di tengah kemajuan dan pembangunan kota besar sekitarnya. Misalnya, bagi kalangan warga Jabodetabek, penduduk rantau Tegal diasosiasikan pada simbol kewirausahaan kuliner. Dari keunikan geografis tersebut, Tegal memiliki keterbukaan akses ke pusat, yakni ibu kota Jakarta. Hubungan kausalitas ini memengaruhi keberlangsungan seni di kemudian hari.

Dalam peta sastra Indonesia pada masa Orde Baru, Tegal melahirkan gerakan puisi. Kehadiran antologi DNP menunjukkan Tegal bukan hanya identik pada kuliner. Para penyairnya mencerap pikiran dan spirit lokalitas yang khas dari Tegal. Pikiran dan spirit itu merupakan modal dalam upaya menyemarakkan iklim sastra di kota tersebut. Bahkan terbitnya DNP satu tahun mendahului wacana revitalisasi sastra pedalaman yang beredar–digaungkan realisasinya di berbagai daerah Indonesia sampai menjelang Reformasi 1998. Dilihat dari latar belakang penyairnya, gerakan puisi DNP bangkit dari kalangan yang paling bawah, dari kalangan pinggiran.

Dalam prosesnya, keduabelas penyair DNP tersebut konsisten dalam gerakan puisi. Pada 28 November 2015, Dari Negeri Poci 6 (Kosa Kata Kita, 2015) diluncurkan di Taman Budaya Tegal. Tiga dari perintisnya, yaitu Adri Darmadji Woko, Handrawan Nadesul, dan Kurniawan Junaedhie menggagas acara tersebut. Sejak pertama dicetuskan pada 1993, DNP telah merilis lima seri berikutnya, antara lain Dari Negeri Poci 2 (Pustaka Sastra, 1994), Dari Negeri Poci 3 (Majalah Tiara, 1996), Dari Negeri Poci 4 Negeri AbalAbal (Kosa Kata Kita, 2013), Dari Negeri Poci 5 Negeri Langit (Kosa Kata Kita, 2014), dan Dari Negeri Poci 6 Negeri Laut (Kosa Kata Kita, 2015).

Hampir setiap seri DNP, muncul deretan penyair baru lintas generasi. Sementara itu, perintis yang masih hidup turut bergabung; puisi mereka disandingkan bersama penyair muda dari berbagai daerah di Indonesia. Dari tradisi seperti itu, DNP mengawali antologi puisi Indonesia yang tidak memberlakukan pengkastaan yang menghadirkan jurang antara “penyair muda” dan “penyair tua”. Dengan kata lain, semua penyair yang karyanya termaktub dalam DNP adalah bernasib sama di mata puisi. Dari pengakukan Adri Darmadji, sejak DNP 2 diberlakukan tahap kurasi, di mana para penyair yang ikut mengirim puisinya akan menjalani seleksi karya yang diadakan tim kurator.

Marpangat 468 dan Perintis Korespondensi

Bagi penyair perintis DNP, selama lebih dari kurun 20 tahun–sebelum gerakan puisi DNP tercetus–Tegal telah menjadi bagian dari proses kreatif kepenyairan mereka. Sejak awal 1970an, Tegal merekam riwayat perjalanan kreatif perintis DNP. Adri Darmadji, yang saat itu berusia 21 tahun, penyair yang berasal Jakarta mencatat pengalaman ke Tegal pada 1972; ia bertemu Piek Ardijanto Soeprijadi (1929-2001) di kediaman yang berlokasi di gang Marpangat 468, Tegal (baca: Lampiran 1). Piek Ardijanto Soeprijadi dikenal sebagai sastrawan, sekaligus guru Bahasa Indonesia SMA Negeri 1 Kota Tegal. Kepadanyalah, para penyair muda, sejak 1970an, belajar dengannya.

Tersebab sikap kebapakan Piek yang mendidik, para penulis muda, baik yang berasal Tegal dan berbagai daerah, terpanggil untuk ke rumah Piek. Mereka datang silih berganti. Mereka dipersatukan minat, yaitu membicarakan kesenian, apresiasi sastra, khususnya puisi dan prosa. Dalam kapasitas itulah, Piek menjadi pengayom sastrawan generasi muda. H.B. Jassin menggolongkan Piek sebagai penyair Angkatan 66. Semarak perlawatan penulis muda ke Tegal juga disebabkan tradisi surat-menyurat yang rutin dilakukan Piek kepada penyair di berbagai daerah. Jalinan korenspondensi yang mempererat batin antarastrawan. Kepedulian Piek memberi dorongan moril bagi DNP.

Bagi perintis DNP Tegal identik dengan “kharisma” kerinduan (Rahardi dalam Noor, 1994: vvi): Kerinduan atas suasana kreatif 1970an. Karena periode pasca 1970-1980an, penyair muda lebih disibukkan pada rutinitas di lingkungan pekerjaan sehingga menjadikan mereka jarang berkesenian di Tegal. Meskipun demikian, sebagaian besar dari mereka masih tekun menulis puisi dan mempublikasikan di media cetak, alih-alih hanya disimpan untuk arsip pribadi. Keadaan terpisah dari Tegal secara fisik ini yang membuat penyair yang pernah ke rumah Piek mengalami krisis eksistensial. Bertolak dari perasaan tersebut, komunitas Dari Negeri Poci digagas.

Penggagasan komunitas Dari Negeri Poci terjadi pada sebuah reuni “Marpangat 468” yang berlangsung di wisata Guci, kaki Gunung Slamet pada 1993. Pada pertemuan tersebut hadir Piek Ardijanto dan penyair perintis DNP. Mereka mencetuskan ide untuk mengumpulkan puisi mereka yang pernah ditulis dan disisipkan di setiap krespondensi. Puisi-puisi tersebut dipilih, lalu dikumpulkan menjadi satu buku antologi berjudul Dari Negeri Poci. Penyair yang terlibat mengakui terbitnya antologi DNP merupakan ambisi kecil supaya tidak tersisihkan di dunia kepenyairan. Dengan kata lain, mereka menulis puisi untuk menjaga kepenyairan: “kesetiaan (kami) pada puisi” (Woko, 1993: xxii).

Jika diilihat dari perspektif politik kebudayaannya, ambisi komunitas DNP boleh jadi respon terhadap kondisi sastra pada 1990an yang mengalami guncangan bersamaan dengan kecamuk politik Orde Baru, di mana puisi kehilangan ruang di lembar apresiasi koran atau majalah. Penyair perintis DNP bersikukuh lewat kehadiran dalam antologi, langkah mengembalikan sastra ke publik ketika bahasa dikacaukan oleh dunia politik. Hal itulah yang dibuktikan sejak antologi DNP 2, komunitas DNP tidak memberlakukan batasan usia, mazhab, atau pengkotakan aliran lainnya kepada mereka yang mau ikut bergabung. Kehadiran antologi DNP adalah sumbangsih bagi khazanah puisi Indonesia.

Respon Masyarakat dan Agenda Besar DNP

Setelah antologi DNP (1993) disambut, tahun berikutnya DNP kembali hadir dengan judul sama. Hanya ditambah angka 2, yang menandakan seri kedua. Handrawan Nadesul (1994: xiii-xiv), salah satu penyair perintis, menyatakan penerbitan kedua DNP merupakan pemenuhan komitmen tahun sebelumnya yang direncanakan secara berkala terbit setiap tahun. Dalam Kata Pegantar antologi DNP 2 dijelaskan ulang latar belakang sikap dan gagasan DNP. Menurut Nadesul (dalam Noor, 1994: ix), DNP lahir di tengah spontanitas dan improvisasi rekan penyair yang aktif menulis dan berkegiatan bersama sejak 1970an. Pada DNP 2, gerakan puisi masih kembali diperjelas sebagai nostalgia.

Bagi Nadesul, komunitas serupa DNP bisa saja terjadi di kota-kota lain mana pun di Indonesia. Dengan cara begini para penyair di berbagai daerah tergugah untuk menjalankan semangat apresiasi sastra serupa. Selain itu, pada seri kedua ini Nadesul perlu menepis anggapan bahwa meskipun dicetuskan di Tegal, dalam komunitas penyair antologi DNP tidak terkandung muatan untuk menciptakan kesan Tegal-sentris. “Tegal, tidak pernah bermazhab Tegal, kecuali ingin mengangkat semangat kehidupan sastra yang mestinya dimiliki semua kota lain yang kebetulan sudah dimiliki Tegal,” tulis Nadesul dalam Kata Pengatar antologi DNP 2.

Dalam DNP 2 dimuat puisi-puisi dari 45 penyair pilihan berbagai kota. Hal ini menampilkan perkembangan jumlah penyair dari DNP 1. Pada medio 1994 diadakan pertemuan bersama di Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Gadjah Mada membahas DNP 2. Dua pemerhati sastra, yaitu Bakdi Soemanto dan Linus Suryadi AG menyumbangkan beberapa saran perbaikan seri kedua DNP. Salah satu di antaranya adalah diangkatnya editor, yang pada edisi pertama tidak dilakukan. Tongkat estafet pada DNP 2 diserahkan kepada penyair F. Rahardi untuk melanjutkan “perjuangan” panjang ini. Harapannya, penyuntingan ini akan jadi tradisi untuk seri-seri berikutnya.

Pertemuan di UGM juga menghasilkan wacana kehadiran DNP sebagai wadah resmi komunitas. Kedua pemerhati tersebut menilai DNP harus membuktikan sikap konsistensi berkontribusi bagi sastra Indonesia alih-alih sekadar penggagas antologi puisi semata. Hal tersebut sejalan dengan keprihatinan para penyair perintis DNP, yakni kemunduran minat sastra generasi yang akan datang. Oleh karena itu, wacana keanggotaan DNP dilandasi komitmen memasyarakatkan puisi–diinsyafi kecemasan keterdesakan sastra yang kurang diminati. Dari DNP 2, motif sosiologis (lokalitas dan nostalgia) bergeser menjadi motif atas nama kemajuan sastra nasional (ideologis).

Dari uraian sebelunya, tampak pergeseran motif agenda besar komunitas DNP dalam membuktikan eksistensinya di tengah kehidupan sastra Indonesia yang juga sedang dilanda isu sastra pedalaman pada 1994. Budianta (2004: 92) menyebutkan DNP merupakan sebuah kelompok pemberdayaan sastra marginal yang membuat identifikasi geografisnya sendiri, meski akhirnya penentuan batas geogfaris kemudian dikaburkan. Posisi marginal, yang bukan pusat, ini mengandaikan simbol ideologis sehingga para penyair DNP periode berikutnya yang tidak pernah bersentuhan dengan Tegal tertuntut untuk  diri menghubungkan semangat sastranya sehingga terbawa gejala provinsialisme.

Lebih lanjut Budianta mengatakan (2004: 97) gejala provinsialisme tersebut merupakan kecenderungan wawasan atau orientasi untuk membuat batasan eksklusif berdasarkan daerah atau komunitas tertentu. Dalam retorika sastra pedalaman, masalah marginalitas sastrawan terhadap sastrawan kota memang mudah sekali menjadi rancu dengan provinsialisme. Dengan kata lain, meskipun DNP mendahului wacana sastra pedalaman, komunitas ini tetap memakai margnalitas sebagai identitas. Sehingga motif dari DNP bersifat yang-sosiologis berbaur dengan yang-ideologis mau tidak mau juga membakukan dikotomi antara pusat dan derah, antara kekuasaan dan ketidakberdayaan.

Hal ini terbukti bahwa DNP terus berusaha mencapai suatu pemerataan sastra di setiap kalangan, agar masyarakat mempunyai minat yang baik. Untuk itu para penyair perintis merasa perlu menekankan kualitas puisi bagi DNP walau kategorinya abstrak, yaitu “baik, kontekstual, serta cocok dengan peristiwa yang dirayakan” (Nadesul, 1994). Misalnya, pada antologi DNP 1 dan DNP 2, para penyair perintis DNP berusaha keras menangkis penyair atau puisi “dadakan”. Memperbaiki DNP 1, keunggulan puisi-puisi dalam DNP 2 sarat akan aneka ragam tema maupun bentuk penyajiannya. Begitu juga yang dapat ditemukan pada seri DNP lainnya di kemudian hari.

Dari uraian sebelumnya, dapat dipertimbangkan bahwa agenda besar DNP–jika disejajarkan dengan wacana sastra pedalaman–adalah menciptakan saluran alternatif bagi karya yang tidak mendapat tempat dalam intritusi penerbitan “pusat” yang berskala nasional. Sehubungan dengan itu, publikasi karya penyair DNP dari segi bentuk dan gaya berpuisinya tetap mempertahankan tradisi konvensi puisian Indonesia sebelumnya. Oleh karena itu, sebetulnya mereka agaknya ingin menggugat tatanan budaya pada 1990an perihal tidak meratanya distribusi kekuasaan dalam memproduksi, mengakses, dan melembagakan norma dan produk budaya (Budianta dalam Wahyudi, 2004: 98).

Alhasil, kemenduaan strategi yang memadukan aspek sosiologis dan ideologis pada komunitas DNP dalam memasyarakatkan sastra dapat dibaca sebagai fenomena survivalitas dari marginalisasi gerakan sastra. Pergerakan semacam ini bertitik pada kehendak mendukung desentralisasi penerbitan karya sastra Indonesia. Meskipun dalam prosesnya, DNP kerap menghadapi kendala sosilologis karena benturan struktur sosial tertentu seperti jangkauan publik sastra atau fasilitas yang kurang memadai dalam penyelenggaraan antologi. Kendala sosiologis tersebut juga bersifat ideologis, karena terbebani oleh berbagai prasangka, bias, dan cara memandang tertentu atas lokalitas.

Peran Editor/Kurator, Idealisasi Bentuk, dan Namanama Baru

Dalam pertanggungjawaban editor seri DNP 2 dan perwakilan penerbit Pustaka Sastra, F. Rahardi bercerita pada akhir 1992 ia mendengar kabar dari penyair Eka Budianta, perihal sekelompok penyair Jakarta yang punya gagasan menerbitkan sebuah antologi yang diberi nama Dari Negeri Poci (Rahardi dalam Woko, 1994). Kelompok penyair tersebut dimotori Handrawan Nadesul, yang kemudian mengkonkritkan gagasan tadi termasuk soal teknis pendanaannya. Gagasan pengumpulan karya puisi pun kemudian berkembang ke arah penerbitan. Tercatat sebanyak 12 penyair terhimpun dalam antologi DNP dengan ketebalan 400 halaman pun terbit pada Juni 1993.

Pada mulanya tanggapan atas penerbitan antologi DNP perdana lebih dominan gugatan daripada pujian. Tidak sedikit rekan penyair lain merasa “dikesampingkan” karena tidak diajak serta. F. Rahardi melanjutkan, ada pula yang marah karena penyair Jakarta yang sudah mapan ternyata memperalat dan memanfaatkan “kharisma” kota Tegal. Tanggapan nyinyir ini disinyalir berdasarkan asumsi bahwa “Negeri Poci” identik dengan Tegal. Padahal, ada pula seorang rekan yang keliru mengira bahwa “Negeri Poci” adalah Negeri Cina yang terkenal dengan tembikarnya. Ada pula yang tidak tahu latar historisnya menduga Negeri Poci adalah teh, barangkali sebuah brand.

Selama proses menyeleksi karya DNP 2, F. Rahardi tidak teramat dirisaukan posisi problematisnya editor ketika berhadapan dengan situasi pelik dalam mengkurasi karya. Akan tetapi, publik di luar dapur penyuntingan sering menganggapnya rumit dan misterius. F. Rahardi menghadapi kenyataan lain. Sejak awal kesepakatan perintis DNP, ketebalan buku antologi ini dibatasi sekitar 400 halaman. Dari jumlah tersebut, sekitar 12 halaman disediakan untuk halaman judul, halaman ucapan terima kasih, daftar isi, pengantar editor, pengantar dari Handrawan Nadesul. Kemudian 46 halaman digunakan untuk biografi penyair dan editor. Berarti halaman yang tersisa untuk puisi sekitar 342.

Sementara itu, total penyair yang mengirim puisinya untuk antologi DNP 2 berjumlah 49 orang. Dari jumlah tersebut 4 penyair digugurkan karena pertimbangan mutu. Apabila 45 penyair yang lolos seleksi masing-masing mengirimkan 10 puisi, akan terkumpul 450 sajak. Kalau satu puisi membutuhkan satu halaman, maka minimal editor harus membuang 108 puisi. F. Rahardi berpertimbangan segi praktis. Dalam praktik kurasi merupakan hal yang wajar apabila seorang kurator kondisi semacam itu, sehingga subjektivitas pasti ada. Seorang editor/kurator tentu akan meloloskan karya baik dan menyisihkan yang kurang layak menurut versinya. Subjektivitas ini tidak bisa dihindari.

Seorang editor/kurator DNP pun berhati-hati saat menghadapi karya penyair yang dikenal secara pribadi. F. Rahardi perlu melakukan pembacaan sampai dua tiga kali dan dengan ketelitian tertentu. Puisi yang lolos umumnya justru sederhana, punya karakter dan ditulis dengan jujur. Adapun puisi yang terkesan mengggurui, berfilsafat, atau berbau pamflet terpaksa tidak diantologikan. Dengan begitu, editor/kurator DNP menghargai kejujuran penyair, puisi yang “terlalu pintar” namun kurang jujur terpaksa digugurkan. Hal ini menunjukkan bahwa standar mutu puisi DNP adalah kejujuran, yakni puisi tidak dilebih-lebihkan dalam arti tidak membodohi pembacanya sendiri.

Saat mengkurasi puisi karya 45 penyair DNP 2 (1994), kesan umum F. Rahardi (1994: ix) adalah adanya harapan di kalangan generasi muda. Nama-nama baru seperti Acep Zamzam Noor, Wiji Thukul, Dianing Widya Yudhistira, dan Admono merupakan torehan yang menjanjikan. Perihal apakah mereka sanggup berkembang sebagai penyair di kemudian hari sangat tergantung dari mereka dan lingkungan yang memengaruhinya. Namun, yang sering terjadi di Indonesia harapan demikian semu dan menjebak. Dalam hal ini, seorang editor/kurator DNP dituntut menyesuaikan diri kepada gagasan awal gerakan penciptaan antologi, yaitu memasyarakatkan satra: melibatkan generasi muda.

Permasalahan dari tahap kurasi terdapat pada puisi karya penyair yang sudah mapan secra usia. Misalnya, nama-nama seperti Adri Darmadji Woko, Oei Sien Tjwan, Sides Sudyarto DS adalah termasuk mereka “yang menjanjikan” pada 1970an. Karya mereka menarik perhatian para kritisi pada kurun waktu tersebut. Namun, ternyata kemudian hari mereka menjadi kurang produktif. Pada akhirnya kekurangproduktifan ini berdampak besar pada kreativitas mereka. “…menghadapi karya-karya mereka dalam antologi, saya seperti menonton seorang jagoan bulutangkis yang sudah lama tidak latihan lalu tiba-tiba harus kembali mengayun raket,” kenang F. Rahardi (1994: ix).

Ada pun keluhan yang dilontarkan oleh para penyair yang “setengah” produktif tersebut adalah terkait bahaya laten rutinitas kerja. Kehidupan modern yang monoton membuat mereka stagnan, atau tetap menulis tetapi hasilnya tidak lain sebuah kerutinan. Tampak di sini bahwa penyair mapan membutuh “rangsangan” puitik, atau “suasana kreatif” yang memungkinkan mengembalikan produktivitas sastra. Akan tetapi, fakta demikian membuat seorang editor/kurator DNP tidak terlalu mengharapkan “kejutan” dari penyair mapan. Di balik itu semua, pada DNP 2 muncul nama kontroversial seperti Pertiwi Hasan dan Dewi Motik yang kesehariannya tidak berprofesi sastrawan.

Kehadiran nama-nama tersebut mengundang kecurigaan yang disinyalir berbau kepentingan politis. Terlepas dari mutu puisi yang dikurasi, F. Rahardi perlu berpikir positif menanggapi fenomena keikutsertaan penulis DNP yang tidak memiliki latar belakang penyair tulen sebenarnya menguntungkan masyarkat sastra. F. Rahardi (1994: x) berandai seandainya Mbak Tutut (puteri Presiden Soeharto saat itu) atau Megawati (puteri mendiang Presiden Soekarno) turut ikut menulis dan membaca puisi, dunia sastra Indonesia pasti akan lebih semarak karena publik akan menyoroti lebih lanjut. Meskipun belum tentu kehadiran mereka mendorong lahirnya karya sastra bermutu.

Dari uraian sebelumnya dapat disimpulkan bahwa mutu puisi-puisi yang termuat dalam antologi DNP adalah tanggungan jaminan editor/kurator. Kelayakan itu dibarengi dengan pemberian tempat publikasi kepada generasi penulis yang muda, yaitu generasi sesudah penyair mapan yang notebene penyair perintis DNP. Sebab idealisasi bentuk dengan kehadiran editor/kurator ini berfungsi sebagai penyunting guna menyeleksi ini berlangsung hingga seri terakhir DNP 6 (2015) dan nama-nama penyair baru yang bakal meneruskan konsistensi komunitas DNP. Dari nama-nama baru tersebut akan membantu memperlihatkan penyusunan peta sastra marginal di Indonesia di bawah naungan DNP.

Libur Panjang, Komunitas Radja Ketjil, dan Reuni Keempat

Pada 10 Maret 2013 diselenggarakan peluncuran DNP 4 Negeri AbalAbal di gedung Adipura, Pemerintah Kota Tegal. Acara ini penting bagi perpuisian Indonesia pasca-Reformasi dan menjadi babak baru Komunitas Radja Ketjil (KRK: transformasi Forum Dari Negeri Poci) yang lama “libur panjang”. Pada seri antologi DNP 4 ini, tercatat 99 penyair yang karyanya terhimpun di dalamnya. DNP 4 juga menjadi spesial karena jeda terbitnya merentang waktu 17 tahun, sejak penerbitan seri terakhir sebelumnya, yaitu DNP 3 pada 1996. Pembubuhan anak judul Negeri AbalAbal adalah inisiasi agar sejumlah puisi diarahkan supaya terkesan kontekstual dengan peristiwa zaman.

Selama hampir setahun 2012, tim kurator (penggantian istilah editor pada DNP 2 dan DNP 3) yang merupakan anggota KRK bekerja mempersiapkan terbitnya DNP 4. Simbol Tegal sebagai pusat inspirasi semakin bergeser menjadi kota yang berspirit kesusastraan. Tidak masalah jika di antara 99 penyair belum pernah ke Tegal, asalkan puisi yang dikirimkannya memuat semangat yang selaras dengan subjudul. Prijono Tjiptoherijanto (2013) menjelaskan rencana awal KRK, yaitu meluncurkannya pada HUT Indonesia 17 Agustus 2013 ke-67 dengan membukukan 67 penyair seIndonesia. Akan tetapi, karena adanya kendala teknis maka DNP 4 molor dikerjakan.

Pada seri DNP 4 ini penyair Adri Darmadji Woko dan Kurniawan Junaedhie diamanahi sebagai kurator. Keduanya menyeleksi setiap kiriman puisi, dan menentukan nama penyair yang lolos tahap kurasi terakhir. Keterlambatan penggarapan akhirnya ‘memaksa’ peluncuran Agustus 2012 ditunda ke Maret 2013. Negeri AbalAbal sebagai subjudul ini sebagai intisari antologi secara keseluruhan. Pengertian tersebut kemudian diserahkan kepada masing-masing penyair untuk menafsirkan sesuai sudut pandang puitiknya. Junaedhie (2013) juga mengingatkan pembaca untuk bebas menilai kualitas puisi dalam DNP 4 yang tergantung pada kecenderungan pembacaan dan seleranya.

Kelahiran kembali antologi DNP menuai antusiasme sambutan dari pelbagai kalangan sastrawan. Wacana sastra pedalaman tidak lagi melekat pada komunitas DNP. Sambutan atas DNP 4 lebih meriah ketimbang penerbitan seri sebelumnya, antara lain DNP 1 (1993) memuat 12 penyair, DNP 2 (1994) memuat 45 penyair, DNP 3 (1996) memuat 49 penyair. Pemakluman mendasar vakumnya komunitas DNP, yang menjadi KRK ini selama kurun waktu “libur panjang” 17 tahun DNP, salah satunya disebabkan krisis ekonomi nasional 1998 dan era Reformasi awal. Krisis ekonomi dan politik tersebut membuat komunitas DNP kesulitan menerbitkan seri keempatnya.

Perubahan sistem pengiriman naskah puisi DNP pun berubah dalam antologi DNP 4. Pada periode 1990an, penyair DNP mengirim puisinya via pos surat. Pada awal 2012, tim kurator mengumumkan pemberitaan antologi ini di media sosial, Facebook. Junaedhie (2012) dari pihak penerbit Kosa Kata Kita membuat semacam undangan bagi penyair Indonesia untuk mengikutsertakan puisinya buat DNP 4. Responnya di luar dugaan, pemberitaan antologi direspon dengan 400an penyair yang mengirim puisinya, terhitung dari DNP 4 hingga DNP 6 (Junaedhie, 2015). Dari jumlah itu tidak berlebihan dikatakan agenda besar yang dicita-citakan DNP sudah diapresiasi masyarakat luas.

Di samping itu, terbitnya seri DNP 4 ditujukan sebagai penghormatan bagi guru para penyair perintis, Piek Ardijanto yang wafat pada 2001, serta kepada Sides Sudyarto DS yang berpulang pada 9 Oktober 2012. Selain rangkaian peluncuran DNP 4 diadakan agenda yang meliputi pertunjukan lomba baca puisi, diskusi sastra, dan wisata budaya dengan menggelar silaturahim di Gang Marpangat, Kota Tegal, “markas” yang menjadi cikal-bakal proses kreatif para perintis DNP. Hal yang menarik lain dari DNP 4, yaitu merangkum 99 penyair senusasntara ketebalan 717 halaman. Sampai pada 2015, DNP menyabet catatan khusus pengantologian puisi terbesar di Indonesia.

Sastra Pinggiran dan Seri Antologi Terbesar

Kesimpulan dari pemaparan sebelumnya, yakni ada semacam kehendak dari penyair perinti antologi DNP setiap serinya: tidak menjadi kanon sastra bukanlah suatu masalah. Rahardi (1994) mengibaratkan posisi antologi DNP dalam konteks sastra Indonesia sebagai “sastra pinggiran”. Hal ini ditengarai melihat para penyair yang tergabungg dalam antologi DNP, tipikal mewakili sosok pegiat sastra pinggiran. Dalam catatan pengantar editor DNP 2 (1994), Rahardi menerangkan sastra pinggiran sebagai sesuatu yang berkonotasi terpinggirkan dan hampir selalu dicibir, dinilai norak, kampungan, cengeng, dan lain-lain.

Rahardi menceritakan pengalaman diskusi “Dari Negeri Poci 1” di UGM, Nadesul dilecehkan salah seorang hadirin sebagai “hanya seorang dokter dan bukan penyair”. Nama-nama dalam antologi DNP dari seri ke seri memang tidak pernah “beredar” dalam orbit pusat sastra. Meskipun demikian, Rahardi (1994) menilai pusat sastra tidak serta merta menjamin mutu karya penyairnya. Pusat sastra, menurutnya, berarti DKJ/TIM, Fakultas Sastra UI dan Majalah Sastra Horison. Mereka yang aktif di lembaga-lembaga tersebut yang biasanya dianggap sebagai “pengorbit di pusat sastra”. Gugatan Rahardi didasari pembelaannya atas puisi Acep Zamzam Noor dalam DNP 2.

Dengan kata lain bahkan antologi DNP sendiri sebenarnya juga merupakan suatu “pemberontakan” terhadap pusat sastra. Selama bergulir sastra Indonesia modern, penerbit yang dianggap sebagai “pusat sastra” adalah Balai Pustaka, kemudian juga Pustaka Jaya, Gramedia, Pustaka Sinar Harapan, dan Pustaka Grafiti. Penerbit-penerbit tersebut diduga akan kurang berterima dengan gagasan antologi besar DNP dengan pertimbangan kelayakan mutu karya atau pasar. Itulah mengapa tidak mengherankan apabila para penyair yang tergabung dalam DNP sejak seri perdananya berupaya untuk mendanai penerbitan secara mandiri atau kolektif.

Menurut Bakdi Soemanto (1993) pada diskusi “Dari Negeri Poci 1” di UGM, antologi DNP adalah “arisan penyair”. Pendapat inilah yang disetujui baik F. Rahardi pada DNP 2 maupun Junaedhie/Woko pada DNP 5 (2014), dan DNP 6 (2015). Kalau kemudian Majalah Tiara (1993 & 1996), Pustaka Sastra (1994), dan Kosa Kata Kita (2013, 2014, dan 2015) bersedia menangani penerbitan DNP dikarena memang ada kesamaan ideologi. Rahardi mengakui, Pustaka Sastra (1990an) didirikannya bersama Eka Budianta bertujuan mewadahi penerbitan buku pinggiran yang ditolak penerbit arus utama. “Dengan catatan ada pihak yang bersedia mendanai,” (Rahardi, 1994).

Pandangan F. Rahardi (1993) dalam ulasan acara peluncuran “Dari Negeri Poci 1” memancing beberapa pandangan kritis memperkarakan kebangkitan sastra pinggiran (Santosa, Budianta, Esten, dan Suryadi: 2004). Ulasan itu tidak dikirimkan Rahardi ke Kompas, atau koran Jakarta lain, tetapi justru ia ajukan ke Suara Merdeka, Semarang. Pengamat sastra yang mempersoalkan konotasi topik “pinggiran” percaya bahwa tidak melulu negatif. Esten (dalam Wahyudi, 2004: 106) menyebutkan konotasi negatif masyarakat atas sastra marginal disebabkan akibat pembagian kelas pembaca yang labil dan terpesona oleh simbol dan atribut yang bersifat material (seperti “pusat”).

Kelompok yang serius menanggapi topik “pinggiran”, yaitu Himpunan Sarjana Kesusastraan Indonesia (Hiski). Pada 1996, Hiski mengadakan simposium yang mengusung pokok pembicaraan “sastra marginal”, dipicu penerbitan jurnal Revitalisasi Sastra Pedalaman. Wahyudi (2004: v) mencatat pembahasan, antara lain “kedudukan dan peranan sastra marginal di masa lalu, kini, dan akan datang”; “sastra marginal dan industrialisasi”; “sastra marginal sebagai sastra alternatif”; dan “sastra marginal dalam masyarakat majemuk”. Simposium Hiski tersebut menguarkan pertanyaan ulang posisi dialektis (karya) sastra yang senantiasa marginal dalam lintas keilmuan (Wahyudi: vi).

Terkait dinamika kesusastraan pasca Orde Baru, Budianta dan Budiman (2001) menghubungkan kecenderungan sejak 1990an di mana terjadi peningkatan prularisme dalam wacana maupun komunitas sastra yang menjadi modal bagi perkembangan sastra di zaman Reformasi. Menurut keduanya, desentralisasi sastra yang berwujud komunitas adalah fakta dari kejenuhan atas kecenderungan penyeragaman dan kontrol di bidang budaya yang berlangsung pada masa Orde Baru. Sehubungan dengan itu, bisa dikatakan bahwa kelahiran kembali komunitas DNP pada era setelah-Suharto menjelmakan upaya mengisi “kekosongan” di berbagai daerah akibat pemusatan yang berlebihan di Jakarta.

Dalam pada itu, komunitas sastra, perlu menyiasati pola decentering dengan cara mengkonstruksi identitas alternatif baik di daerah. Revitalisasi DNP yang digerakkan oleh KRK pada antologi DNP 4 sudahlah tepat sasaran. Pergerakan komunitas ini bukan sepenuhnya mencipta jarak dengan “pusat”, justru wacana desetralisasi dipakai untuk menarik perhatian lembaga mapan yang berada di “pusat”. Ada pun dikotomi “Pusat-Daerah” yang giat dimunculkan di berbagai daerah mereproduksi “pusat” sehingga para sastrawan “daerah” memperoleh akses yang besar terhadap sarana dalam sistem sastra yang mapan (Budianta & Budiman dalam Tirtosudarmo, 2001: 1298).

Pada waktu penyair perintis perintis DNP menunjuk F. Rahardi sebagai editor, Rahardi (1994: xi) yakin DNP senantiasa dapat memperkaya khasanah sastra Indonesia. Lebih-lebih karena jumlah penyair yang tergabung lebih banyak dibandingkan antologi terdahulu. Penyair Handrawan Nadesul dan kawan segenerasi 1970an merencanakan penerbitan antologi “Dari Negeri Poci” yang akan terus berlanjut. Sehubungan dengan itu, hingga 2015 harapan F. Rahadri perihal akan lebih banyak lagi penyair yang ikut serta terwujudkan. Dan tentunya harapan masyarakat juga sama, yaitu secara kualitatif puisi-puisi DNP akan semakin baik pula.

Setelah DNP berhasil kembali lewat seri DNP 4 Negeri AbalAbal pada 2013, dilanjutkan DNP 5 Negeri Langit (2014), pada 2015 DNP terbit kembali. Tiga tahun berturut-turut. Penyair perintis yang aktif berpuisi membuktikan pengabdiannya kepada sastra. Optimisme cita-cita ini merupakan kabar baik bagi penikmat dan pengamat sastra dan penyair Indonesia yang tidak berkecil hati apabila karyanya bukan termasuk “pusat sastra”. Dilihat dari pemilihan subjudul “Negeri Laut” pada DNP 6 (2015) dilandasi isu kontekstual puisi penyairnya dalam menanggapi wacana pemerintahan Jokowi-JK yang mengedepankan pehamahan nasional negara maritim pada masyarakat Indonesia.

DNP 6 yang diluncurkan di Tegal 28 November 2015 mempunyai ketebalan 750 halaman, dan diberi pengantar Maman S. Mahayana. Bagi Mahayana (2015: vii-xvii), DNP telah mencakupi jangkauan wilayah penyair daerah–hampir seluruh kota di Indonesia. Pada segi kualitas, bagi Mahayana, DNP menyumbang keberagaman tema dan pengucapan puisi. Para penyairnya menjaga spirit berpuisinya sebagaimana mereka menjunjung tinggi nilai-nilai kreativitas. Melalui enam seri antologinya, komunitas DNP telah membangun gerakan sastra inklusif, selalu terbuka dan bebas kepentingan, tanpa batasan gender antarpenyair, atau mazhab pengucapan dan urusan genre puisi.

Melalui DNP 16, Indonesia memiliki sejarah penerbitan antologi puisi berseri terbesar dengan keterlibatan 533 penyair sejauh ini. Pada halaman pembuka DNP 6 tertulis: didedikasikan untuk penyair DNP yang “berpulang”, antara lain Piek Ardijanto Soeprijadi, Wiji Thukul, Widjati, Ayarifuddin A.Ch., Tuti Gintini, Sides Sudyarto DS, Boedi Ismanto, Slamet Librayanto, Rahadi Zakaria, Slamet Sukirnanto, Vanera El Arj, dan Nurhidayat Poso. Hal ini menandakan penyair perintis DNP mengapresiasi kontribusi pegiatnya di tengah perubahan zaman. Perubahan zaman disambut KRK. Sejak 2012, DNP mempunyai laman group di Facebook yang terbuka untuk umum.

Dengan aktivasi di media sosial, komunitas DNP semakin gencar merangkul khalayak sastra dalam genre puisi. Dalam grup “Komunitas Negeri Poci” di Facebook, penyebaran karya pun meluas di kancah nasional, melibatkan penyair Sabang sampai Merauke. Setiap harinya penulis puisi mempublikasikan karyanya di Beranda grup. Mereka penyair yang mencari ruang alternatif di saat surat kabar tidak bisa menampung dan membatasi kebebasan penulisan puisi itu sendiri. Pada tahun ini, DNP 7 tengah dipersiapkan, ada 526 yang mengirim puisi, dan hasilnya 176 nama lolos seleksi, artinya konsistensi komunitas DNP dalam regenerasi penyair Indonesia patut diperhitungkan.

Pada akhirnya, komunitas DNP telah menggelindingkan gelombang besar yang terus melahirkan penyair-penyair baru, dari berbagai pelosok tanah air. Dalam konteks itulah peranan sastrawan bagi suatu bangsa, dengan kepedulian turut aktif menyuarakan persoalan-persoalan bangsa niscaya dimaknai sebagai  penegas bahwa puisi masih layak dan penting untuk dituliskan. Sementara itu, Tegal akan selamanya dikenang sebagai kota yang mempertemukan banyak penyair Indonesia. Para penyair perintis DNP–yang hari ini digawangi Komunitas Radja Ketjil–pantang menyerah dalam merealisasikan konsistensinya menyebarkan puisi, membangun bangsa lewat puisi.

Kesimpulan

Antologi Dari Negeri Poci yang sudah mencapai enam seri sejak penerbitan awalnya pada 1993 sampai ke 2015 menunjukkan bahwa peran sastra marginal sebagai sastra yang potensial dalam upayanya mengukuhkan sikap perjuangan tertentu, khususnya dalam hal melibatkan penyair senusantara aktif menjadi bagiannya. Kota Tegal sebagai markas komunitas DNP dari masa ke masa menjadi inspirasi atau pun percontohan kelahiran gerakan sastra yang beragam di kota lain di Indonesia. Komunitas DNP meneguhkan dirinya sebagai salah satu komunitas yang bertahan dari perubahan zaman, dengan menyesuaikan wacana sastra yang berkembang.

Tantangan perjuangan DNP patut dibuktikan dengan konsistensi membidani karya sastra, khususnya puisi, yang kualitasnya selalu diperbaiki dan memungkinkan justru lewat DNP terbidani penyair muda yang kuat di “pusat sastra” seperti Ni Made Purnamasari, A’yat Khalili, dan Kiki Sulistyo. Dari perkembangan sejarahnya, DNP telah mencontohkan model perjuangan sastra dimulai dari penokohan tertentu sebagai pemicu inspirasi gerakan yang dalam skala besarnya melibatkan banyak penyair baru. Komunitas DNP bergerak di antara kesadaran sosiologis dan ideologis, dalam praktik menyemarakkan puisi Indonesia dan menerabas jarak antara “pusat” dan “pinggiran”.

Para penyair perintis DNP yang kini rata-rata berusia kepala enam masihlah terus menginspirasi dan aktif menulis. Mereka menjadi motor penggerak yang masih membuat komunitas DNP tetap ada dalam blantika sastra hari ini. Dari merekalah cerita nostalgia tentang gang “Marpangat 468” disambunglidahkan untuk mempererat ikatan batin antarpenyair di setiap “reuni” peluncuran seri keempat hingga keenam DNP. Cerita nostalgia tersebut penting bagi generasi penyair baru yang tergabung dalam DNP, karena dari kisah yang berhubungan Piek Ardijanto Soeprijadi dan korespondensi sastra sejak 1970an menyentuh semangat moril, visi, dan misi komunitas DNP ke depannya.

Dari rekam jejak komunitas DNP, masyarakat sastra tahu: sebuah kota, dalam kasus ini Tegal, bisa menggerakkan penyair senusantara untuk terus berkarya dengan tujuan memasyarakatkan sastra ke penjuru negeri, melalui puisi: merespon gejala kehidupan yang berlangsung di tengah perubahan zaman di Indonesia. Komunitas DNP memperlihatkan bagaimana gerakan sastra, yang mulanya tergolong marginal, menepis anggapan yang memitoskan “pusat” sebagai lawan bagi “daerah”. Dengan riwayat antologinya, komunitas DNP mengukuhkan diri sebagai “pusat” versinya sendiri: yang dalam penerimaannya, tanpa terbebani kepentingan dari politik sastra apa/mana pun.

Depok, 2016

Daftar Pustaka

Herfanda, Ahmadun Yosi, dkk. 2008. Komunitas Sastra Indonesia, Catatan Perjalanan. Komunitas Sastra Indonesia: Tangerang.

Khalili, A’yat, dkk. Dari Negeri Poci 5 Negeri Langit, 153 Penyair Indonesia. 2014. Kosa Kata Kita: Jakarta.

Noor, Acep Zamzam. 1994. Dari Negeri Poci 2, 45 Penyair Indonesia. Pustaka Sastra: Jakarta.

Tirtosudarmo, Riwanto, dkk. 2001. Laporan Penelitian: Kebijakan Kebudayaan di masa Orde Baru. Pusat Penelitian dan Pengembangan Kemasyarakatan dan Kebudayaan LIPI, bekerja sama dengan The Ford Foundation: Jakarta.

Wachid BS, Abdul, dkk. Dari Negeri Poci 3, 49 Penyair Indonesia. 1996. Majalah Tiara: Jakarta.

Woko, Adri Darmadji, dkk. 1993. Dari Negeri Poci, Duabelas Penyair Indonesia. Majalah Tiara: Jakarta.

Yoyok, Abah, dkk. 2013. Dari Negeri Poci 4 Negeri AbalAbal, 99 Penyair Indonesia. Kosa Kata Kita: Jakarta.

Wibisana, A. Nabil, dkk. 2015. Dari Negeri Poci  6 Negeri Laut, 175 Penyair Indonesia. Kosa Kata Kita: Jakarta.

Wahyudi, Ibnu (peny). 2004. Menyoal Sastra Maginal. Wedhatama Widya Sastra: Jakarta.

 

Lampiran 1:

BERTEMU PIEK ARDIJANTO SOEPRIJADI DI TEGAL

 Suatu siang yang panas, seorang pemuda datang dari Jakarta dengan peluh bercucuran dengan menyandang tas di bahunya telah mendatangi sebuah rumah di Gang Marpangat 468, Tegal. Rumah model kuno itu yang kelihatan angker sekali dan saya memasuki halaman rumahnya. “Piek Ardijanto Soeprijadi” namanya terletak di depan rumah dengan jelas. Saya belum pernah ketemu orangnya dan bahaimana saya harus bersikap kepadanya nanti. Yang saya ketahui ia adalah salah seorang Angkatan 66 dalam kesusastraan Indonesia. Saya sudah lama mengenal namanya lewat mass media yang banyak memuat karya-karyanya. Saya merasa punya sebuah hubungan batin dengan dia. Dan saya merasa bergetar hebat ketika menggambarkan bagaimana pertemuan yang pertama kalinya dengan dia nantinya.

Pada uluk salam yang kesekian kali keluarlah seorang ibu separoh baya menemui saya. Dan ternyata kemudian ia adalah ibu dari Piek.

“Pak Piek (demikian panggilannya sehari-hari oleh orang yang sudah mengenalnya) masih mengajar di SMA Negeri Slerok. Nanti ia datang pukul dua. Anak (ia memanggil saya demikian) menantikan di sini dahulu” katanya dengan bahasa Jawa yang halus. Gambaran saya tentang orang Tegal segera hilang bahwa orang Tegal itu bahasanya kasar. Karena saya masih sangat asing di situ maka saya mohon pamit dulu dengan catatan akan datang lagi. Kemudian saya pergi ke sebuah sudut jalan masuk warung. Sebuah “halte” kereta kuda, beberapa warga Tegal yang saya tatap dan secangkir teh poci adalah pemandangan saya pada waktu itu.

Untuk kedua kalinya saya datang lagi ke rumahnya dan sebentar kemudian datanglah seorang perempuan dan ternyata adalah istri pak Piek.

“O, nak Adri…” kata Bu Piek dengan ramah. Kemudian menyusul di belakangnnya dan langsung menjabat tangan. Dialah itu Piek Ardijanto Soeprijadi. Saya menebut namanya dengan terharu sekali, bahwa orang yang sudah lama saya kenal namanya itu kini baru bisa berhadapan muka dengan muka. Hubungan batin kamilah yang menyebabkan pertemuan itu menggetarkan diri saya.

Sebentar saja kami sudah akrab dengan percakapan searus.

“Bagaimana dengan teman-teman nak Adri di Jakarta?” katanya kemudian.

“Wah, baik-baik saja pak Piek” jawab saya yang rada-rada kikuk karena memang tidak bisa bicara dengan baik. “Kawan-kawan di Jakarta rupanya sibuk sekali dengan urusan sastra. Ini bisa kita lihat kalau dalam tahun ini sering kali terdengar kabar bahwa di Gelanggang Remaja ada percakapan sastra dengan si sastrawan anu. Akhir-akhir ini sering pula terdengar istilah sastra remaja.”

“Menurut nak Adri sastra remaja itu yang bagaimana?”

“Wah, saya sendiri kurang mengerti dan sangat kabur tentang istilah ini, pak Piek. Tapi dikatakan bahwa kami yang bergerak aktif dalam sastra dikatakan hanya omong kosong belaka dan dianggap tidak ada. Malahan dikhawatirkan akan membentuk dunia tersendiri yaitu dunia “sastra remaja”. Bagaimana pendapat pak Piek mengenai hal ini?.

“Ya, kalau kalian ini di anggap tidak ada, maka siapakah yang akan bakal menggantikan kami ini yang sudah tua-tua untuk perkembangan sastra Indonesia di masa-masa mendatang?.

Piek Ardijanto Soeprijadi, yang lahir di Magetan tanggal 12 Agustus 1929, dikategorikan ke dalam Angkatan 66 dalam sastra Indonesia itu mengatakan bahwa ia selalu mengikuti mass media yang terbit di Jakarta dan selalu memperhatikan perkembangan penulis muda baik yang tinggal di Jakarta maupun yang tinggal di daerah seperti Yogya, Malang, Semarang, Banyuwangi dan juga kota Tegal sendiri.

“Saya mendapat surat dari beberapa penulismuda dari beberapa kota setelah saya menulis tentang puisi seorang penulis muda dari Jakarta. Mereka ingin meminta pendapatnya dari saya tentang puisinya yang mereka selipkan dalam surat itu.”

Memang demikianlah nyatanya. Piek selalu memperhatikan para penulis muda dengan melihat apa yang ia kerjakan akhir-akhir ini. Ia menyebut penulis muda dengan istilah “generasi muda” ketika saya memintanya untuk menyebut siapa penulis muda yang terkuat dewasa ini ia hanya mengatakan:

‘Biarkan mereka berkembang dulu. Saat sekarang ini belumlah final untuk menilai mereka lebih jauh. Penulis muda masih memerlukan penilaian yang lebih lama lagi. Bertahun kemudian barulah dapat kita ketahui. Kalau toh saya harus menyebut salah satu dari mereka, maka itu berarti menganakemaskan. Tapi memang saya tertarik kepada para penulis muda dan terus terang saja mereka mempengaruhi saya dan merangsang kreativitas saya untuk selalu menulis.”

“Siapakah yang bapak kenal di antara mereka, artinya yang begitu akrab hubungan batinnya dengan penulis muda itu?.

“Antara lain dapat saya sebutkan yaitu…. (sambil pelan-pelan dan mengingat untuk disebutkan) Prijono, Handrawan Nadesul, Sutjahjono R., Sugiono MP, Tjok Hendro, Wisnu Andhika, Sjarifuddin, Noorca Marendra, Sudharnoto, Ad… dan masih beberapa nama lagi lebih-lebih yang sudah pernah berkunjung kemari. Seperti dulu ketika Tjok Hendro dan teman-temannya singgaj kemari saya masih ingat benar ketika nak Noorca dan nak Dharnoto membacakan sajak “Rick Dari Corona”nya WS Rendra di depan seorang tua yang sedang sakit, di bawah pohon mangga. Benar, nak Adri, perasaan saya terharu sekali jika merasa bahwa penulis muda Jakarta itu menganggap saya sebagai saudaranya. Sampai hari ini saya masih merasa sakit dan harus berobat ke dokter seminggu dua kali.

Saya mendapat bayangan bagaimana produktifnya pak Piek Ardijanto ini. Dalam keadaan sakit seperti sekarang ini masih saja saya jumpai tulisannya di koran-koran yang terbit di Jakarta, sementara banyak teman seangkatan saya sudah mandek tidak menulis lagi.

“Bagaimana pendapat bapak tentang penulis muda Jakarta?” kata saya.

“Mereka itu ada. Entah bagaimana masa depannya. Di sekolah kami langganan  beberapa koran Jakarta. Dan yang lain saya selalu membeli  sendiri jika ada koran ataupun majalah yang memuat karya dari teman-teman nak Adri. Saya sebenarnya juga kepingin menulis hasil cerpen karya penulis generasi muda, tapi tidak ada waktu untuk semuanya itu!” katanya sambil menunjukan setumpuk koran dari Jakarta yang sengaja ia perlihatkan kepada saya.

Itulah antara lain beberapa percakapan saya dengan Piek Ardijanto Soeprijadi, penyair Angkatan 66 yang masih selalu aktif sampai kini dan yang kita catat sebagai “orang tua sastra” yang selalu memperhatikan perkembangan penulis muda.

Sorenya, saya diajak jalan-jalan menghirup udara kota Tegal dan dolan ke rumah penulis muda Tegal. Pulangnya kami memperhatikan koran Jakarta yang di dekat perempatan alun-alun. Masuk ke sebuah rumah makan di alun-alun adalah acara kami malam itu. Saya tahu bahwa ia barusan dapat honorarium tulisan. Sate kambing khas Tegal dan poci adalah cukup menggembirakan di samping bergumul dengan udara Tegal yang warga kota yang ketika masih kanak-kanak dulu pernah kuimpikan untuk menjumpainya.

Dua hari saja berada di Tegal bersama dia di rumahnya menukar pengalaman. Nyatanya sewaktu tulisan ini saya ketik masih juga kesan itu singgah begitu dalam di hati saya. Barangkali saya terlalu mencari-cari, namun demikianlah yang saya rasakan sampai hari ini.

Ketika saya ada dalam kereta bersama menuju Jakarta karena dia diundang ceramah oleh penulis muda Jakarta, tidak ada yang tahu bahwa ia berulang tahun, selain ia sendiri dan saya yang akan mengabadikan dalam sajak tapi tak berhasil karena cuma:

pada ulang tahunnya ke 43

kami sama-sama ke Jakarta

…………………………………….

Adri Darmadji

(Sumber: Majalah Kancah, Media Remaja Pecinta Sastra. No. 2 Tahun ke 1, Oktober-Nopember-Desember 1972, diterbitkan oleh Seksi Pustaka dan Publikasi Gelanggang Remaja Bulungan. Kelompok Sastra Bulungan GRJS, Kebayoran Baru JAKARTA)

(Tulisan ini dipresentasikan pada seminar Kesusastraan Indonesia Mutakhir, 15 November 2016 di Universitas Indonesia)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s